Selasa, 11 Agu 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Tekno » Perang AI Dimulai, Anak Muda RI Jangan Jadi Penonton

Perang AI Dimulai, Anak Muda RI Jangan Jadi Penonton

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
  • visibility 25
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

DUNIA tengah memasuki era perang artificial intelligence (AI). Persaingan global kini bukan lagi hanya soal sumber daya alam, tetapi perebutan teknologi, data, chip semikonduktor, dan talenta digital. Di tengah cepatnya perkembangan AI itu, generasi muda Indonesia diingatkan agar tidak hanya menjadi pasar dan pengguna teknologi di negeri sendiri.

Apalagi perkembangan AI saat ini memang bergerak sangat cepat. Mulai dari generative AI, agentic AI, hingga robotika berbasis physical AI perlahan mulai masuk ke kehidupan sehari-hari.

Mungkin, banyak orang menganggap AI hanya fitur lucu untuk membuat gambar atau membantu tugas sekolah, padahal dibalik itu semua ada persaingan teknologi raksasa yang sedang berlangsung ditingkat dunia.

Apalagi, negara-negara besar tidak hanya berlomba menguasai sumber daya alam, tetapi juga berebut data, komputasi, semikonduktor, dan talenta digital. Artinya siapa yang menguasai teknologi AI, berpotensi menguasai ekonomi digital masa depan.

Sementara, masyarakat modern juga hidup dalam ruang digital yang semakin dipengaruhi algoritma media sosial. Apa yang disukai akan terus muncul di layar, sementara pandangan berbeda perlahan menghilang.

Oleh karena itu, tanpa sadar, banyak orang akhirnya hidup dalam “ruang gema” digital atau echo chamber, tempat dimana seseorang hanya mendengar pendapat yang sejalan dengan dirinya sendiri.

Akibatnya, batas antara fakta, opini, hingga manipulasi informasi menjadi semakin tipis. Fenomena ini menjadi perhatian Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria.

Menurutnya, generasi muda Indonesia saat ini menghadapi tantangan baru di era digital, yakni dominasi algoritma yang secara perlahan membentuk cara berpikir, perilaku, hingga persepsi publik.

“Hari ini hidup kita dimediasi platform digital. Bahkan isi kepala kita perlahan dibentuk algoritma. Apa yang kita suka terus diperlihatkan, sementara pandangan lain disingkirkan. Kita hidup dalam filter bubble dan echo chamber,” ujar Nezar mengutip laman resmi komdigi saat acara Hari Bangkit Pelajar Islam Indonesia (PII) ke-79 di Pusat Pengembangan Aparatur Komunikasi dan Digital (Puspa Komdigi), Jakarta Barat, Sabtu (24/5/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut dapat memicu polarisasi sosial, memperkuat misinformasi, dan melemahkan kemampuan berpikir kritis masyarakat, terutama generasi muda yang sangat aktif di media sosial.

Nezar bahkan mengutip laporan World Economic Forum yang menempatkan misinformasi dan disinformasi sebagai salah satu risiko global terbesar tahun 2026. Situasi ini dinilai semakin berbahaya ketika masyarakat lebih mudah percaya pada sentimen dibanding fakta.

“Sekarang orang lebih dulu percaya sentimen dibanding fakta. Kalau suka langsung dipercaya, kalau tidak suka langsung ditolak. Ini yang berbahaya,” tegasnya.

Bonus demografi

Di tengah derasnya perkembangan AI, Indonesia sebenarnya memiliki peluang besar. Bonus demografi yang dimiliki Indonesia menjadi modal penting untuk bersaing dalam industri digital global. Apalagi Indonesia juga mempunyai kekayaan mineral strategis yang dibutuhkan industri teknologi dunia.

Namun, peluang itu bisa hilang begitu saja kalau generasi mudanya hanya menjadi pengguna teknologi tanpa ikut menguasainya.

Ibarat menonton pertandingan sepak bola, Indonesia jangan sampai hanya sibuk membeli tiket dan bersorak di tribun, sementara negara lain menjadi pemain utama di lapangan. Sebab di era AI sekarang, negara yang hanya menjadi pasar teknologi berisiko tertinggal dalam persaingan global.

Karena itu, Nezar meminta generasi muda memperkuat kemampuan science, technology, engineering, and mathematics (STEM), sekaligus meningkatkan literasi digital agar tidak mudah terjebak manipulasi algoritma maupun banjir informasi palsu.

“Kita harus masuk menjadi pemain dalam industri digital global. Jangan hanya jadi pasar dan konsumen teknologi,” tandasnya.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa perkembangan teknologi tidak selalu bergerak netral. AI bisa membantu pendidikan, kesehatan, dan produktivitas manusia, tetapi juga bisa memperkuat manipulasi informasi kalau digunakan tanpa kontrol dan literasi yang baik.

Hari ini mungkin banyak orang merasa perang AI masih terdengar jauh dari kehidupan sehari-hari. Padahal, dampaknya sudah masuk ke genggaman tangan melalui media sosial, mesin pencari, hingga aplikasi yang digunakan setiap hari.

Apa yang ditonton, disukai, bahkan dipercaya, perlahan dibentuk oleh sistem yang bekerja diam-diam di balik layar.

Karena itu, generasi muda tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi yang sibuk scroll layar tanpa arah. Di tengah persaingan digital global, kemampuan berpikir kritis, memahami teknologi, dan menguasai ilmu pengetahuan akan menjadi pembeda antara bangsa yang memimpin dan bangsa yang hanya mengikuti.

Sebab di era sekarang, penjajahan tidak selalu datang lewat perebutan wilayah. Kadang ia hadir melalui algoritma, data, dan ketergantungan teknologi yang perlahan membuat manusia kehilangan kendali atas cara berpikirnya sendiri.(***)

 

 

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pengamat: Ganjar unggul dibidang pangan dan lingkungan

    Pengamat: Ganjar unggul dibidang pangan dan lingkungan

    • calendar_month Kamis, 28 Sep 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 909
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, -Pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI) Ade Reza Hariyadi menilai sejumlah gagasan yang ditawarkan bakal calon presiden (bacapres) Ganjar Pranowo unggul jika dibandingkan dengan dua bacapres lainnya. Menurut Ade, gagasan Ganjar setidaknya jauh lebih berkualitas di bidang pangan dan lingkungan. “Pertama soal pangan dan kedaulatan pangan. Saya kira Ganjar ini  cukup berhasil. Kedua, soal […]

  • Seni Lukis di Palembang Terhambat oleh Pandemi

    Seni Lukis di Palembang Terhambat oleh Pandemi

    • calendar_month Minggu, 14 Mar 2021
    • account_circle Nasir Nasir
    • visibility 5.650
    • 0Komentar

    SEPEKAN Seni 2021 di hari terakhir menampilkan kreasi lukisan seniman dari Komite Seni Rupa, Dewan Kesenian Palembang (DKP), di Guns Caffe Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel). Sabtu (13/3/2021). Talkshow menghadirkan pelukis andal dari Kota Palembang, seperti Tata Sarnata, Suparman, M. Idris dan hadir juga Heri Mulyadi. Tak hanya itu saja, turut hadir UKM Simpony Politeknik Sriwijaya […]

  • Pesantren Upaya Meningkatkan Ilmu Agama, Kenapa ?

    Pesantren Upaya Meningkatkan Ilmu Agama, Kenapa ?

    • calendar_month Selasa, 4 Mei 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 994
    • 0Komentar

    WAKIL Menteri Agama Zainut Tauhid Sa’adi mengapresiasi tumbuhnya semangat masyarakat untuk belajar agama dalam beberapa tahun terakhir. Namun, Wamenag berharap agar semangat itu tidak hanya berbasis pembelajaran melalui internet dan media sosial yang sulit dipastikan kesesuaian metode pembelajaran, sama keilmuan, dan kapasitas pengajar agamanya. “Pendidikan model pesantren dapat menjadi jawaban atas meningkatnya semangat masyarakat untuk […]

  • Resmi, MPP Palembang Beroperasi, Ini Harapan Wako Palembang

    Resmi, MPP Palembang Beroperasi, Ini Harapan Wako Palembang

    • calendar_month Jumat, 27 Nov 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 835
    • 0Komentar

    MALL Pelayanan Publik [MPP] Palembang resmi beroperasi, sehingga diharapkan mampu memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan mudah.Walikota Palembang, Harnojoyo sangat bersyukur karena saat ini sebanyak 28 instansi yang bergabung. “Mall Pelayanan Publik yang memiliki 28 unit layanan dengan 373 layanan diharapkan dapat mempermudah masyarakat untuk mendapatkan berbagai pelayanan dengan mudah dan cepat,”ungkapnya saat meresmikan MPP Palembang yang […]

  • Potensi Kerajinan Perak Khas Sumsel

    Potensi Kerajinan Perak Khas Sumsel

    • calendar_month Rabu, 15 Jul 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.248
    • 0Komentar

    JIKA Kotagede, Yogyakarta identik dengan kerajinan peraknya, maka provinsi Sumsel pun sebenarnya tak kalah dalam hal ini. Kerajinan perak khas Sumsel diproduksi di daerah Tanjung Batu, kabupaten Ogan Ilir. Daerah ini terkenal dengan kerajinan dari emas dan kini berkembang juga ke kerajinan perak. Para pengrajin di daerah ini menekuni kerajinan perak secara turun temurun. Kendati […]

  • Sumsel Kembali Jadi Tuan Rumah Triathlon 2020 

    Sumsel Kembali Jadi Tuan Rumah Triathlon 2020 

    • calendar_month Jumat, 13 Des 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.320
    • 0Komentar

    PROVINSI Sumatera Selatan (Sumsel) kembali ditunjuk sebagai tuan rumah event olahraga international Triathlon 2020 Febuari mendatang,  terpilihnya Provinsi Sumsel karena telah berhasil menyelenggarakan dan mengesankan para atlet dari berbagai penjuru negara. Hal tersebut disampaikan langsung oleh Ketua Penyelenggara Triathlon Ahmad Wazir Nopiadi Mawardi saat audiensi bersama Gubernur Sumsel H. Herman Deru di Ruang Tamu Gubernur […]

expand_less
WordPress Archive Kids – Baby Shop & Store WooCommerce Theme Kids Care | Children WordPress Theme Kids – Day Care & Kindergarten WordPress Theme for Children Kids – Kindergarten & Child Care Elementor Template Kit Kids Zone - Children WordPress Theme Kidscamp – Kids Bootcamp WordPress Theme KidsJoy – Kindergarten & Preschool WordPress Theme Kidso – Modern Kindergarten WordPress Theme Kidster – Preschool & Childcare Elementor Template Kit Kidsy – Kids Store and Baby Shop WooCommerce WordPress Theme