PEMERINTAH memperkuat pendidikan vokasi berbasis industri untuk mencetak sumber daya manusia (SDM) yang mampu bersaing di tengah kebutuhan industri yang terus berkembang. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga daya saing sektor manufaktur nasional sekaligus mengurangi kesenjangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan dunia kerja.
Melalui kerja sama Indonesia dan Swiss, Kementerian Perindustrian menghadirkan Industrial-Based Curriculum (IBC), sebuah kurikulum terintegrasi yang dirancang agar lulusan pendidikan vokasi tidak hanya memahami teori di ruang kelas, tetapi juga memiliki keterampilan yang benar-benar dibutuhkan industri.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, sektor industri manufaktur masih menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Pada triwulan I 2026, industri pengolahan tercatat berkontribusi sebesar 19,07 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional dan tumbuh 5,04 persen secara tahunan.
Menurut Agus, pertumbuhan tersebut harus didukung oleh SDM industri yang kompeten dan adaptif terhadap perkembangan teknologi. Karena itu, pemerintah terus memperkuat pendidikan vokasi berbasis kebutuhan industri agar lulusan lebih siap menghadapi persaingan kerja.
“Pemerintah terus menyiapkan SDM industri yang kompeten, adaptif terhadap teknologi, dan mampu bersaing di tingkat global,” ujar Agus dalam keterangannya, belum lama ini.
Ia menambahkan, persaingan industri global tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan investasi, tetapi juga kualitas tenaga kerja. Industri membutuhkan lulusan yang mampu bekerja cepat, memahami kebutuhan lapangan, dan mengikuti perkembangan teknologi modern.
Penguatan pendidikan vokasi tersebut dilakukan melalui Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) yang membawahi berbagai unit pendidikan vokasi di Indonesia. Salah satu langkah yang kini dikembangkan adalah penggunaan aplikasi Industrial-Based Curriculum (IBC).
Kepala BPSDMI Doddy Rahadi menjelaskan, aplikasi IBC memudahkan satuan pendidikan dalam menyusun kurikulum berbasis industri secara lebih terintegrasi. Sistem ini mencakup proses perencanaan, pemantauan, hingga dokumentasi kebutuhan kompetensi tenaga kerja.
Menurut Doddy, kehadiran aplikasi tersebut juga membuka ruang lebih luas bagi dunia industri untuk ikut terlibat langsung dalam penyusunan kurikulum pendidikan vokasi.
“Aplikasi IBC memudahkan unit pendidikan vokasi dalam perencanaan dan pengelolaan kurikulum berbasis industri secara lebih terstruktur dan terintegrasi,” kata Doddy.
Selain sekolah, industri juga dapat memberikan masukan, validasi, hingga evaluasi terhadap Job Occupational Analysis (JoA) yang menjadi dasar penyusunan kurikulum. Dengan sistem yang terdigitalisasi, kolaborasi antara dunia pendidikan dan industri diharapkan berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.
Sementara itu, Kepala Pusat Pengembangan Pendidikan Vokasi Industri (PPPVI) Wulan Aprilianti Permatasari mengatakan, kurikulum berbasis industri menjadi salah satu langkah penting untuk memperkuat hubungan antara pendidikan dan kebutuhan dunia usaha.
Menurutnya, selama ini masih banyak lulusan yang kesulitan masuk ke dunia kerja karena kompetensi yang dimiliki belum sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan industri.
“Melalui aplikasi IBC, proses penyusunan kurikulum berbasis industri diharapkan lebih efektif, efisien, dan berdampak nyata bagi kesiapan lulusan,” ujar Wulan.
Program Manager Swisscontact Daniel Weibel menilai, salah satu tantangan terbesar pendidikan saat ini adalah adanya kesenjangan antara pembelajaran di sekolah dan kebutuhan dunia kerja yang terus berubah.
Karena itu, IBC hadir untuk memastikan kurikulum pendidikan benar-benar selaras dengan kebutuhan industri. Dengan pendekatan tersebut, lulusan diharapkan tidak hanya memiliki pengetahuan dasar, tetapi juga siap langsung bekerja ketika lulus.
Kerja sama Indonesia dan Swiss dalam pengembangan pendidikan vokasi ini telah berjalan sejak 2018 melalui program Swiss Skills for Competitiveness (SS4C). Hingga kini, puluhan Job Occupational Analysis (JoA) Chart dari berbagai sektor telah disusun sebagai dasar pengembangan kurikulum berbasis industri di Indonesia. (***)