3 Menit Menebang, 25 Tahun Menunggu Hutan Pulih
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month Kamis, 21 Mei 2026
- visibility 69
- comment 0 komentar
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
GUBERNUR Sumatera Selatan (Sumsel) H. Herman Deru menjelaskan manusia dapat merusak hutan hanya dalam hitungan menit, namun alam membutuhkan puluhan tahun untuk memulihkannya kembali.
Oleh sebab itu, ia mengingatkan masyarakat tentang ancaman kerusakan lingkungan saat menghadiri Festival Kehutanan bertema “Kenal Hutan, Kenal Masa Depan” di Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang, kemarin.
Dalam kegiatan yang menjadi bagian dari peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Provinsi Sumsel ke-80.
Herman Deru juga menyaksikan tayangan video mengenai proses penebangan pohon. Ia menilai tayangan itu menjadi pengingat keras tentang pentingnya menjaga kelestarian hutan di tengah meningkatnya ancaman kerusakan lingkungan.
“Melihat video tadi, menebang pohon itu hanya butuh waktu 3 menit. Tapi untuk tumbuh sampai sebesar itu, butuh waktu hingga 25 tahun,” ujar Herman Deru di hadapan mahasiswa, akademisi, kelompok tani, dan pegiat lingkungan.
Menurutnya kondisi tersebut harus menjadi perhatian serius semua pihak, terutama generasi muda.
Ia mengatakan, aksi penanaman pohon tidak boleh berhenti sebagai kegiatan simbolis atau seremoni tahunan semata.
Pemerintah dan masyarakat, kata dia, harus membangun kesadaran kolektif agar hutan tetap terjaga untuk masa depan.
Deru menilai banyak anak muda saat ini mulai jauh dari alam akibat perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup.
Oleh karena itu, ia meminta seluruh elemen masyarakat memperkuat literasi lingkungan sejak dini agar generasi mendatang memahami manfaat hutan bagi kehidupan.
“Hutan bukan hanya kumpulan pohon. Hutan menjadi penyangga kehidupan, sumber udara bersih, sumber air, dan pelindung lingkungan. Kalau hari ini kita tidak peduli, maka anak cucu kita yang akan menerima dampaknya,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan ancaman perubahan iklim dan kerusakan lingkungan tidak lagi menjadi isu masa depan, tetapi sudah dirasakan masyarakat saat ini.
Herman Deru menilai banjir, suhu panas ekstrem, hingga berkurangnya kualitas udara menjadi dampak nyata dari menurunnya kualitas lingkungan hidup.
Ia mengajak masyarakat meninggalkan warisan alam yang hijau dan sehat bagi generasi berikutnya.
Menurutnya, menjaga hutan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan kewajiban bersama seluruh lapisan masyarakat.
Festival Kehutanan tersebut berlangsung meriah dengan melibatkan mahasiswa, komunitas lingkungan, kelompok tani, serta sejumlah instansi terkait.
Panitia juga menghadirkan berbagai stand pameran hasil hutan dan edukasi lingkungan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pelestarian alam.
Sementara itu, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sumsel Drs. H. Koimudin, SH, MM mengatakan festival tersebut bertujuan membangun kesadaran baru tentang pentingnya menjaga hutan demi masa depan yang berkelanjutan.
Menurut Koimudin, Pemerintah Provinsi Sumsel terus mendorong rehabilitasi hutan melalui berbagai program penanaman pohon dan pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan hutan.
“Hari ini dilakukan penanaman sebanyak 200 pohon sebagai langkah rehabilitasi dan pelestarian hutan. Kegiatan ini juga melibatkan kelompok tani serta dimeriahkan oleh berbagai stand pameran hasil hutan,” ungkap Koimudin.
Keterlibatan mahasiswa dan kelompok tani, paparnya menjadi bagian penting dalam memperkuat gerakan menjaga lingkungan hidup. Pemerintah, lanjutnya tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan masyarakat dan dunia pendidikan.
Koimudin berharap Festival Kehutanan dapat menjadi momen memperkuat sinergi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat dalam menjaga kelestarian alam di Sumsel.
Ia juga berharap pesan yang disampaikan Gubernur mengenai cepatnya kerusakan hutan dapat menjadi pengingat bersama agar masyarakat lebih peduli terhadap lingkungan.
Pesan “3 menit menebang dan 25 tahun menunggu hutan pulih” yang disampaikan Herman Deru pun menjadi sorotan utama dalam festival tersebut. Pesan itu menggambarkan betapa mudahnya manusia merusak alam, namun begitu sulit dan lamanya waktu yang dibutuhkan untuk mengembalikan hutan seperti semula. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
