DI HALAMAN SMA Negeri 1 Lubuklinggau, Sumatera Selatan (Sumsel) terlihat lebih sibuk dari biasanya. Guru-guru berdiri rapi. Siswa berbaris sambil sesekali melirik rombongan pejabat yang datang membawa senyum, protokoler, dan kamera dokumentasi.
Di tengah suasana itu, Cik Ujang menanam satu pohon alpukat.
Kelihatannya sederhana.
Tapi justru dari hal kecil itu, ada pertanyaan yang diam-diam terasa menampar banyak sekolah hari ini, kenapa sekolah terus dibangun megah, sementara siswanya masih belajar dalam suasana yang melelahkan?
Sebab jujur saja, banyak sekolah sekarang memang bagus dilihat dari depan. Cat baru. Gerbang tinggi. Plang nama mengilap. Tapi ketika matahari mulai naik, halaman sekolah berubah seperti pantulan seng panas.
Anak-anak datang pagi dengan semangat, lalu mulai layu sebelum jam pelajaran terakhir selesai.
Ironisnya, sekolah sering sibuk mengejar citra modern, tapi lupa menyediakan hal paling sederhana, rasa nyaman.
Mungkin karena pohon tidak bisa masuk proposal pencitraan semudah pembangunan pagar dan gapura.
Karena itu, ketika Wagub Sumsel mulai mendorong konsep “Sekolah Hijau” lewat aksi tanam pohon di sekolah, langkah itu terasa lebih penting daripada sekadar seremoni tanam bibit.
Minimal ada pesan yang ingin disampaikan: sekolah jangan cuma jadi tempat mengejar nilai, tetapi juga ruang hidup yang manusiawi bagi siswa.
“Anak-anak ini adalah penerus masa depan Sumatera Selatan dan Indonesia. Kita harus pastikan lingkungan belajar mereka nyaman dan fasilitasnya memadai melalui kerja sama lintas pemerintah,” ujar H. Cik Ujang dalam kunjungannya, Jumat (8/5/2026).
Kalimat itu terdengar formal. Tapi kenyataan di lapangan memang tidak selalu nyaman.
Masih ada sekolah yang ruang kelasnya pengap. Halamannya gersang. Tempat duduk siswanya lebih panas daripada suasana rapat dinas. Bahkan ada anak-anak yang lebih hafal sudut teduh sekolah dibanding rumus matematika yang diajarkan pagi itu.
Karena hanya di bawah bayangan pohon kecil mereka bisa bernapas sedikit lega saat jam istirahat.
Dan mungkin di situlah masalah pendidikan kita kadang terasa aneh.
Kita sering bicara kurikulum modern, digitalisasi sekolah, sampai target kualitas lulusan. Tetapi urusan sederhana seperti udara sejuk dan halaman teduh justru sering kalah prioritas.
Padahal suasana sekolah ikut menentukan bagaimana anak bertumbuh.
Sekolah yang nyaman bisa membuat siswa betah belajar.
Nyaman
Bahkan guru juga lebih tenang mengajar. Lingkungan hijau perlahan membentuk kebiasaan disiplin, peduli, dan rasa memiliki terhadap sekolah.
Ini bukan sekadar urusan estetika.
Ini urusan cara kita memperlakukan anak-anak di ruang pendidikan.
Karena itu, gerakan sekolah hijau seharusnya jangan berhenti di acara simbolis yang ramai saat pejabat datang lalu hilang setelah berita selesai tayang.
Publik tentu berharap pohon yang ditanam bukan sekadar properti dokumentasi.
Sebab negeri ini terlalu sering rajin menanam saat kamera menyala, tetapi lupa merawat setelah tamu pulang.
Kalau memang serius ingin menghadirkan sekolah hijau di Sumsel, programnya harus lebih panjang dari sekadar seremoni satu pagi.
Sekolah bisa mulai membangun ruang teduh sederhana. Siswa dilibatkan merawat tanaman. Pemerintah membantu penghijauan dan fasilitas dasar. Bahkan lomba kebersihan dan lingkungan antarsekolah mungkin lebih berguna daripada lomba spanduk ucapan yang besarnya kadang menutupi pagar sekolah.
Sebab anak-anak tidak belajar di baliho.
Mereka belajar di ruang yang setiap hari mereka pijak.
Wali Kota Rachmat Hidayat berharap SMA Negeri 1 Lubuklinggau bisa menjadi contoh sekolah hijau di Lubuklinggau. Harapan itu bagus. Tinggal bagaimana semua pihak konsisten menjaganya, bukan hanya saat ada kunjungan pejabat.
Karena merawat pohon jauh lebih sulit daripada menanamnya.
Sama seperti pendidikan.
Ia tidak selesai dalam satu acara, satu pidato, atau satu foto penanaman bibit.
Di akhir kegiatan, pohon alpukat itu berdiri kecil di halaman sekolah. Belum memberi teduh apa-apa. Tapi setidaknya, ia membawa harapan sederhana, semoga suatu hari nanti sekolah-sekolah kita tidak hanya megah dilihat dari luar, tetapi juga nyaman dirasakan anak-anak di dalamnya. (***)