PUNYA rumah sendiri masih jadi mimpi banyak orang, keinginannya sederhana, tapi jalannya terasa makin menanjak, pasalnya harga bahan bangunan bergerak naik, biaya hidup ikut merangkak, sementara kemampuan mencicil tidak selalu bergerak searah.
Di situ banyak orang akhirnya memilih menunda, bukan karena tidak mau, tapi karena belum yakin sanggup menjalaninya sampai selesai.
Realitas beberapa tahun terakhir menunjukkan satu hal yang cukup jelas, harga rumah terus meningkat, sementara kemampuan membeli belum tentu ikut naik.
Bagi banyak masyarakat, kondisi ini membuat rumah terasa semakin sulit dijangkau. Bukan semata karena tidak ada pilihan, tapi karena jarak antara harga dan kemampuan semakin melebar.
Di tengah situasi seperti ini, langkah Bank Sumsel Babel baru-baru ini bekerja sama dengan PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) melalui fasilitas Rp300 miliar patut diapresiasi. Hal ini tentu menjadi sinyal sektor perumahan masih dijaga agar tetap bergerak, tidak ikut melambat di tengah tekanan ekonomi.
Tambahan likuiditas memberi ruang bagi bank untuk menyalurkan pembiayaan lebih luas, jika dimanfaatkan dengan baik, dampaknya bisa terasa ke berbagai sisi.
Proyek perumahan tetap berjalan, tenaga kerja terserap, dan aktivitas ekonomi di sekitarnya ikut hidup, apalagi sektor ini memang memiliki efek berantai yang cukup besar.
Sementara dari sisi internal, manajemen Bank Sumsel Babel juga memastikan tambahan likuiditas ini tidak hanya menjadi cadangan, tetapi benar-benar dioptimalkan dengan tetap mengedepankan prinsip tata kelola perusahaan yang baik.
Mengutip salah satu media online, Direktur Utama Bank Sumsel Babel, Marzuki memandang kolaborasi ini sebagai langkah strategis yang tidak hanya memperkuat kapasitas pembiayaan, tetapi juga berpotensi mendorong pertumbuhan sektor perumahan yang berdampak luas terhadap perekonomian daerah.
Namun, kondisi di lapangan menunjukkan persoalannya tidak berhenti pada ketersediaan dana.
Harga material konstruksi yang masih fluktuatif membuat biaya pembangunan sulit diprediksi.
Bagi pengembang, situasi ini menjadi tantangan dalam menjaga harga tetap terjangkau. Ketika biaya naik, harga rumah ikut terdorong naik, dan pada akhirnya kembali dirasakan oleh masyarakat sebagai pembeli.
Di sisi lain, daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih, pasalnya banyak yang masih fokus menjaga kebutuhan harian.
Apalagi mengambil kredit rumah itu menjadi keputusan yang tidak ringan, karena menyangkut komitmen jangka panjang. Dalam kondisi seperti ini, kehati-hatian justru menjadi pilihan yang wajar.
Dari sisi perbankan, situasinya juga tidak sederhana, meskipun ada tambahan likuiditas, prinsip kehati-hatian tetap menjadi prioritas. Bahkan risiko kredit macet harus dijaga agar tidak meningkat, sehingga proses seleksi kredit tetap berjalan ketat.
Yang kemudian sering terjadi cukup sederhana, yaitu dana tersedia, tetapi tidak semua orang bisa mengaksesnya.
Terutama bagi masyarakat yang bekerja di sektor informal atau memiliki penghasilan yang tidak tetap. Bukan berarti tidak mampu, tetapi belum sepenuhnya sesuai dengan sistem penilaian yang digunakan.
Fondasi kuat
Kerja sama ini tetap membawa potensi yang besar, apalagi dengan dukungan dari Kementerian Keuangan Republik Indonesia melalui SMF yang memang memiliki peran dalam memperkuat pembiayaan Perumahan Nasional.
Fondasi pembiayaan menjadi lebih kuat, dan peluang untuk menjaga keberlanjutan sektor ini tetap terbuka.
Namun, satu hal yang perlu terus dijaga adalah arah dari pembiayaan itu sendiri, pasalnya, apakah benar-benar mampu menjangkau masyarakat yang selama ini kesulitan memiliki rumah, atau justru lebih banyak terserap oleh kelompok yang sudah lebih siap secara finansial.
Agar dampaknya lebih terasa, pendekatan yang digunakan perlu menyesuaikan dengan kondisi saat ini.
Banyak masyarakat memiliki pola penghasilan yang tidak tetap. Dalam situasi seperti ini, skema pembiayaan yang lebih fleksibel bisa menjadi solusi agar akses tidak hanya terbuka secara teori, tetapi juga bisa dijangkau secara nyata.
Selain itu, upaya menjaga keterjangkauan harga juga menjadi hal penting. Tanpa itu, tambahan pembiayaan hanya akan mengikuti kenaikan harga, bukan membantu mengatasinya.
Di sisi lain, proses pengajuan yang lebih sederhana tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian itu, dapat membantu masyarakat yang sebenarnya layak, tetapi terhambat secara administratif.
Pengawasan dalam penyaluran juga perlu diperkuat. Dana yang tersedia perlu dipastikan benar-benar mengalir ke sektor dan kelompok yang tepat, sehingga manfaatnya tidak berhenti pada sebatas angka saja, tetapi terasa dalam kehidupan sehari-hari.
Langkah Rp300 miliar ini tetap layak diapresiasi di tengah kondisi ekonomi yang penuh tantangan, menjaga sektor perumahan tetap bergerak adalah hal yang penting.
Setidaknya ada upaya untuk tidak membiarkan sektor ini berjalan sendiri, namun tantangan hari ini memang tidak ringan lantaran harga masih bergerak, daya beli masih terbatas, dan perbankan tetap harus berhati-hati.
Dalam kondisi seperti ini, pendekatan yang lebih adaptif menjadi kunci, oleh sebab itu jika itu bisa dilakukan, kerja sama ini bukan hanya memperkuat lembaga keuangan, tetapi juga benar-benar mendekatkan masyarakat pada kebutuhan dasarnya.
Karena bagi masyarakat, tujuan akhirnya tetap sederhana yaitu memiliki rumah yang bisa dijangkau, dengan cara yang masuk akal. (***)