Di Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, akhir pekan lalu rumah dinas Wakil Wali Kota Palembang, Prima Salam, berubah jadi tempat singgah yang hidup, bukan juga karena dekorasi atau seremoni, tapi karena orang-orang yang terus berdatangan tanpa henti.
Tak ada suasana canggung. Warga melangkah masuk dengan santai, sebagian menggandeng anak, sebagian lagi datang bersama keluarga besar. Di wajah mereka, bukan sekadar formalitas Lebaran, tapi keinginan sederhana bersalaman, bertemu, dan merasakan momen yang sama.
Di bagian dalam, antrean bergerak pelan, satu per satu menyalami tuan rumah. Ada yang hanya menunduk hormat, ada yang menyempatkan berbincang singkat, dan tak sedikit yang mengabadikan momen lewat foto bersama.
Semua berjalan alami, tanpa kesan terburu-buru.
Yang menarik, batas antara pejabat dan warga seperti ikut Luruh.
Sejumlah pejabat di lingkungan Pemerintah Kota Palembang terlihat hadir, bahkan Ketua DPRD Sumatera Selatan turut bergabung.
Namun tak ada barisan khusus. Semua menyatu dalam arus yang sama.
Obrolan kecil terdengar di sela antrean,candaan ringan khas Palembang muncul begitu saja, mencairkan suasana.
Warga yang sebelumnya tak saling kenal bisa tertawa dalam satu momen yang sama.
Rumah dinas tak lagi terasa dinas, rumah itu berubah jadi ruang temu.
Tempat di mana orang datang bukan karena undangan resmi, tapi karena merasa boleh.
Melalui Staf Ahli TP PKK Kota Palembang, Putri Azizah Prima Salam, keluarga Wakil Wali Kota menyampaikan rasa syukur atas momen tersebut.
Ia menyebut Idul Fitri sebagai waktu terbaik untuk merajut kembali kedekatan.
“Setelah kita menjalankan ibadah puasa selama 30 hari, hari ini jadi momen untuk saling mendekatkan diri dan mempererat silaturahmi,” ujarnya.
Tradisi membuka rumah saat Lebaran, lanjutnya, memang sudah menjadi kebiasaan yang terus dijaga setiap tahun. Bukan sekadar agenda, tapi cara sederhana untuk tetap dekat dengan masyarakat.
“Kami membuka pintu untuk masyarakat Palembang agar bisa merasakan kebersamaan di hari kemenangan ini,” katanya.
Ucapan itu terasa selaras dengan apa yang terlihat di lapangan. Tak ada yang terlihat ragu untuk datang. Bahkan beberapa warga tampak santai, seolah sedang berkunjung ke rumah saudara sendiri.
Di sela kegiatan, keluarga Wakil Wali Kota juga menyempatkan diri bersilaturahmi ke rumah Gubernur, Wakil Gubernur, Sekda, hingga Wali Kota Palembang. Sebuah tradisi yang menunjukkan bahwa silaturahmi berjalan dua arah datang dan mendatangi.
Menjelang siang, arus tamu belum juga surut. Justru terus berganti. Yang selesai bersalaman keluar, digantikan oleh yang baru datang. Ritme itu berulang, tanpa perlu diatur.
Tak ada momen yang benar-benar kosong.
Mungkin di situlah letak kesannya, bukan pada seberapa banyak yang datang, tapi pada bagaimana suasana itu terjaga hangat, cair, dan tanpa jarak.
Lebaran kali ini tak hanya soal perayaan. Ia menjadi ruang pertemuan yang sederhana, tapi terasa dekat.
Tempat di mana jabatan tak lebih tinggi dari sapaan, dan rumah dinas tak lebih jauh dari rumah sendiri.
Pintu memang terbuka. Tapi yang membuat orang datang, barangkali bukan itu, melainkan rasa diterima yang terasa nyata. (***)