Selasa, 29 Sep 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Tekno » AI Makin Pintar, Wartawan Harus Lebih Manusia

AI Makin Pintar, Wartawan Harus Lebih Manusia

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Minggu, 1 Feb 2026
  • visibility 157
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

AI makin pintar, bahkan kini mampu meringkas berita lebih cepat dari wartawan yang masih muter-muter cari parkiran. Di sisi lain, wartawan justru dituntut untuk tetap dan semakin manusia.

Di era teknologi serba canggih ini, hampir semua pekerjaan bisa dipermudah mesin. Termasuk di dunia jurnalistik, di mana AI mampu menyajikan ringkasan berita rapi, judul seksi, dan paragraf pembuka yang menggoda bahkan sebelum wartawannya sempat membuka laptop.

Inilah yang perlu disadari para jurnalis hari ini. Saat AI makin pintar dan teknologi serba instan, pekerjaan memang boleh dibantu mesin, tapi rasa tetap tak bisa diunduh.

Hebatnya lagi, wartawan baru membuka ponsel atau laptop, eh  malah AI sudah lebih dulu menyajikan ringkasan berita lengkap dengan judul yang menggoda rasa penasaran pembaca. Sekilas terlihat sempurna, tapi di situlah masalahnya  AI sering sok tahu.

Yang ditampilkan AI kerap hanya kulit. Ia merangkum, tapi tak merasakan. Padahal, rasa itulah yang membuat sebuah peristiwa hidup. AI tak melihat kejadian secara langsung, tak mencium bau banjir, tak mendengar suara gemetar narasumber. Rasa masih sepenuhnya milik wartawan.

Karena itu, meski AI makin pintar, wartawan jangan ikut-ikutan jadi mesin.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria, dalam Retreat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) 2026 di Rumpin, Kabupaten Bogor, mengingatkan bahwa perkembangan kecerdasan artifisial telah mengubah lanskap jurnalisme global secara fundamental.

Setelah media bermigrasi dari cetak ke digital, datang gelombang disrupsi baru platform digital dan algoritma. Kini, nasib berita tak sepenuhnya ditentukan redaksi, tapi juga oleh mesin posisinya kadang terasa seperti redaktur bayangan.

Lebih canggih lagi, berita kini tak selalu dibaca dari media asalnya. Banyak orang cukup membaca ringkasan dari mesin pencari atau layanan AI. Merasa sudah lulus ujian wawasan harian, padahal baru baca dua paragraf. Fenomena ini dikenal sebagai zero click, klik nol, percaya diri seratus.

“Kita menghadapi fenomena zero click, di mana publik cukup membaca ringkasan berita dari AI tanpa mengunjungi sumber aslinya. Ini berdampak langsung pada trafik media dan keberlanjutan industri pers,” kata Nezar.

Begini seandainya wartawan liputan di tengah hujan, kamera basah, sandal nyaris hanyut terbawa arus. Semua itu menjadi pengalaman yang kelak hidup dalam tulisan. Sementara AI? Duduk manis, tinggal meringkas.

Pembaca membaca dua paragraf ringkasan lalu berkata, “Oh, aku sudah tahu ceritanya.” Padahal itu baru garis besarnya saja, belum ada kisah sandal hanyut dan kamera basah. Kulitnya ada, nyawanya belum tentu.

AI memang jago meringkas. Ia bisa menjawab apa yang terjadi, tapi tak selalu paham apa yang dirasakan. Mesin bisa menyebut angka korban, tapi tak mengerti mengapa suara seorang ibu tiba-tiba pecah saat bercerita.

Di situlah keunggulan wartawan sesuatu yang tak bisa diunduh. Saat AI makin pintar, wartawan unggul di empati. AI piawai mengolah data, wartawan bermain di nurani. AI bekerja dengan algoritma, wartawan bekerja dengan insting kadang salah, tapi sering jujur.

Nezar juga mengutip riset Reuters Institute dan University of Oxford yang menunjukkan penurunan optimisme pelaku media terhadap masa depan jurnalisme.

Trafik media digital dilaporkan turun lebih dari 40 persen seiring meningkatnya konsumsi informasi lewat platform dan AI.

Angka ini bikin media jantungan, terutama media kecil. Tapi sekaligus memberi peringatan berita cepat mungkin kalah, tapi cerita yang bernyawa justru makin dicari.

Masalahnya, konten jurnalistik kini kerap diperlakukan seperti gorengan gratis di meja rapat diambil satu, dua, tiga, tanpa tanya siapa yang beli minyaknya. Platform menikmati sajian, AI menyajikan ulang, sementara media menghitung biaya operasional sambil menarik napas panjang.

Karena itu, isu keberlanjutan media tak bisa lagi diselesaikan dengan kata ikhlas. Pemerintah pun turun tangan lewat Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2024 tentang Tanggung Jawab Perusahaan Platform Digital untuk mendukung Jurnalisme berkualitas (Publisher Rights).

Selain itu, pemerintah tengah menyusun peta jalan kecerdasan artifisial nasional.

Pesannya jelas AI boleh pintar, namun  harus sopan. Boleh membantu, tapi jangan menyikut yang bekerja di lapangan.

Pada akhirnya, AI makin pintar bukan akhir cerita wartawan. Zero click bukan lonceng kematian. Anggap saja ini tes kepribadian massal siapa yang bertahan dengan kualitas, dan siapa yang menyerah pada ringkasan.

Wartawan tak harus mengalahkan AI, apalagi jadi budaknya. Otak manusia harus mengendalikan mesin. Lebih sabar mendengar, lebih rajin bertanya, lebih berani memberi konteks itulah yang membuat jurnalisme tetap hidup.

Dunia boleh serba cepat dan ringkas, tapi pembaca diam-diam masih mencari satu hal yang tak bisa ditiru mesin cerita yang bikin merasa ditemani.

Kalau AI bertanya, “Apa keunggulan wartawan?” jawabannya sederhana “mak kato wong kito, pendek bacoanyo, wartawan puny0 ras0.” (***)

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sarip Petir: Kisah TKI Antargalaksi [Bab 4 Laundry, Konspirasi & Rok Celana Anti Galau]

    Sarip Petir: Kisah TKI Antargalaksi [Bab 4 Laundry, Konspirasi & Rok Celana Anti Galau]

    • calendar_month Jumat, 20 Jun 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 859
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, – Pagi-pagi buta aku udah mandi. Sabun yang kupakai edisi terbatas, “Kenangan Naik Sepeda Tanpa Rem”,  aroma lumpur sawah bercampur keringat pertama kali belajar jatuh cinta. Pasta gigi?. Jelas bukan sembarang pasta. Ini “Rasa Pulang Cepat Karena Guru Rapat”, yang bisa bikin lidah bergetar, karena nostalgia jajan cilok lima ratusan. Kenapa aku setotal itu […]

  • 4 Komplotan Curanmor Ringkus

    4 Komplotan Curanmor Ringkus

    • calendar_month Jumat, 26 Feb 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.686
    • 0Komentar

    UNIT Reskrim Polsek Pagaralam Selatan di-back up Sat Reskrim Polsek Dempo Utara dan Unit Pidum Sat Reskrim Polres Pagaralam, berhasil mengungkap kasus pencurian sepeda motor (curanmor). Dalam ungkap kasus ini, tak tanggung-tanggung aparat berhasil menggulung empat pelaku komplotan curanmor yang meresahkan masyarakat. Ke empat tersangka yang diciduk itu adalah Ardiansyah (18), Desa Muara Karang, Kecamatan […]

  • Pemprov Segera Bedah Rumah, Siapa Saja Yang Dapat

    Pemprov Segera Bedah Rumah, Siapa Saja Yang Dapat

    • calendar_month Senin, 31 Mei 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.008
    • 0Komentar

    PLH Sekretarsi Daerah Provinsi Sumatera Selatan H. Akhmad Najib. S.H., M.Hum katakan, sesuai tindak lanjut perkataan Gubernur Herman Deru pada acara HUT ke 75 Sumsel peduli Tangguh, dimana bentuk kepedulian serta harus Care /peduli tanpa ada hal lain yang lain mengikat fokus membantu masyarakat miskin dengan bantuan bedah rumah. Hal tersebut disampaikan pada saat Rapat […]

  • Pilih Batik Sebagai Sarana Promosi Experience Indonesia

    Pilih Batik Sebagai Sarana Promosi Experience Indonesia

    • calendar_month Rabu, 9 Nov 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 616
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, London, Inggris – KBRI London menggelar “Workshop: Discover Batik” di KBRI London (7/11). Acara ini merupakan rangkaian dari kegiatan promosi Experience Indonesia yang berlangsung selama 3 hari mulai 6 – 8 November 2022 di London. “Kami memilih batik sebagai sarana promosi Experience Indonesia mengingat batik adalah warisan takbenda dunia. Kekayaan wastra nusantara termasuk batik adalah aset diplomasi budaya di […]

  • Kasus Turun Dratis, PPKM Jadi Level I, Tapi Harus Tetap Waspada, Tracingnya Terus Digenjot

    Kasus Turun Dratis, PPKM Jadi Level I, Tapi Harus Tetap Waspada, Tracingnya Terus Digenjot

    • calendar_month Jumat, 15 Okt 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 777
    • 0Komentar

    KASUS COVID-19 di Kabupaten Musi Banyuasin menurun drastis, tidak membuat pengawasan Kepala Dinas Komunikasi dan informatika Musi Banyuasin Herryandi Sinulingga AP menjadi kendor. Bahkan dirinya terus meningkatkan pengawasan guna memastikan kesehatan pegawainya dalam keadaan sehat dan aman. Tepat hari ini, Rabu (13/10/2021) secara mendadak dirinya berkerjasama dengan pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Muba melakukan tracking COVID-19 […]

  • Masuk masa pensiun, Sekda Pemkab OKI kasih pesan untuk anak buah

    Masuk masa pensiun, Sekda Pemkab OKI kasih pesan untuk anak buah

    • calendar_month Senin, 19 Jun 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.195
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id -Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten OKI, H. Husin, S. Pd, MM, M. Pd memasuki masa purna tugas setelah kurang lebih 33 tahun mengabdi sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN). Diakhir masa tugasnya Husin menyampaikan sejumlah pesan kepada para ASN di Kabupaten OKI. “Yang pertama menjadi ASN harus berani keluar dari zona nyaman, dari Comfort zone menuju […]

expand_less
WordPress Archive Graph Paper Press Sell Media Manual Purchases Graph Paper Press Sell Media Model Release Graph Paper Press Sell Media Reprints Graph Paper Press Sell Media S3 Graph Paper Press Sell Media Stripe Graph Paper Press Sell Media Watermark Graphina – Forminator (Add-on) Graphina Pro - Elementor Dynamic Charts, Graphs, & Datatables Graptor – Technology & IT Solutions WordPress Theme Grasp – Creative Portfolio & Agency Elementor Template Kit