Saat jalan utama Sumsel tak lagi harus berhenti
EMPAT flyover palang pintu kereta api di Sumatera Selatan digadang-gadang jadi jurus pamungkas untuk memutus kemacetan yang sudah terlalu lama jadi tontonan gratis warga. Setiap palang pintu turun, kendaraan langsung antre seperti mau ambil sembako murah, klakson bunyi saling sahut, dan waktu mendadak jadi barang mewah. Hal inin bukan kejadian langka, tetapi agenda rutin, bahkan nyaris harian.
Di Sumatera Selatan, menunggu palang pintu kereta bukan lagi musibah, tapi keterampilan hidup. Tanpa perlu kursus, tanpa perlu sertifikat.
Begitu palang turun, refleks warga langsung jalan. Ada yang matikan mesin biar hemat bensin, ada yang turun beli kopi, ada yang sempat nelpon rumah, “Mak, aku telat. Kereta lagi lewat.” Padahal keretanya belum tentu kelihatan ujungnya.
Palang pintu ini memang punya wibawa luar biasa. Sekali turun, semua tunduk. Mau pejabat, mau rakyat jelata, mau yang motornya cicilan atau mobilnya plat merah, semua setara dihadapan rel.
Di saat yang sama, kereta batubara melintas dengan gagah dan percaya diri. Panjangnya kadang bikin orang bertanya serius, “Ini satu kereta atau rombongan kereta se-kecamatan?”
Ironisnya, kereta itu membawa energi nasional. Listrik menyala di kota lain, industri hidup di tempat jauh. Tapi di sekitar lintasan, energi yang paling terasa justru energi kesabaran tingkat tinggi.
Klakson berbunyi bukan buat mempercepat, tapi buat pelampiasan emosi. Waktu habis, bensin jalan, dan janji datang tepat waktu ikut ambyar.
Ajaibnya, semua ini sudah lama kita anggap wajar. Dari dulu sampai sekarang ceritanya sama. Bedanya cuma gaya menunggu. Dulu melamun, sekarang scroll ponsel. Dulu ngeluh ke diri sendiri, sekarang update status. Intinya satu rakyat berhenti karena ekonomi sedang lewat di depan hidungnya.
Di tengah ritual harian warga sekitar rel itulah, rencana pembangunan empat flyover terdengar seperti kabar yang bikin alis terangkat.
Flyover Simpang Belimbing, Gunung Megang 1 dan 2, serta Ujan Mas diproyeksikan jadi solusi yang masuk akal untuk masalah yang selama ini diselesaikan dengan cara… ya ditunggu saja.
Logikanya sebenarnya sederhana. Kalau dua arus besar, kereta batubara dan kendaraan umum terus dipertemukan di satu titik sempit, jangan heran kalau macet dan rawan kecelakaan. Itu seperti nyuruh dua rombongan hajatan masuk satu pintu kecil, lalu berharap semua tertib dan saling senyum.
Target 2027
Gubernur Sumsel H. Herman Deru juga bicara apa adanya. Angkutan batubara, katanya, akan terus meningkat. Wajar, negara butuh energi. Tapi yang juga wajar, rakyat butuh jalan lancar dan aman.
Kalau logistik digenjot tapi jalannya tetap begitu-begitu saja, yang tumbuh bukan kemajuan, tapi daftar keluhan baru.
Flyover, bukan cuma beton dan aspal, Ia adalah tanda pemerintah mulai sadar pembangunan jangan cuma lewat, tapi juga mampir sebab jangan sampai daerah penghasil energi malah jadi daerah penghasil emosi.
Apalagi proyek ini digarap rame-rame. Ada PT KAI, PT Bukit Asam, PT Semen Baturaja, pemerintah provinsi, sampai pemerintah pusat. Ibaratnya, semua pihak yang biasanya saling lewat akhirnya duduk satu meja, sepakat bahwa macet tidak bisa diselesaikan dengan saling tunggu.
Targetnya 2027. Angka yang terdengar optimistis dan patut dikawal. Warga Sumsel tentu berharap target ini bukan sekadar janji manis di awal tahun.
Sebab, terlalu sering kita dengar proyek yang niatnya baik, tapi jalannya pelan-pelan, seperti kendaraan yang menunggu palang pintu dibuka.
Saat itulah, palang pintu tak lagi menjadi momok harian, melainkan bagian dari sejarah kemacetan yang berhasil dipatahkan.
Kalau empat flyover ini benar-benar jadi dan berfungsi, dampaknya bukan cuma soal cepat sampai. Ini soal harga diri pengguna jalan. Soal rasa adil. Soal keyakinan pembangunan tidak selalu harus membuat orang berhenti lebih lama.
Mungkin suatu hari nanti, anak-anak Sumsel hanya mengenal palang pintu dari cerita orang tuanya. Cerita tentang masa lalu, ketika orang-orang pernah berhenti lama di jalan, hanya untuk menunggu kereta lewat dan sekarang bisa tertawa karena itu sudah lewat.
Kata pepatah “Jalan yang baik bukan yang paling megah, tapi yang bikin orang nggak keburu emosi sebelum sampai tujuan.” (***)