SUARA gaduh bisa ditimbang, mungkin beberapa hari terakhir bobotnya melebihi hasil panen sawit di Bayung Lencir.
Bukan karena harimau turun gunung, bukan pula karena harga BBM naik diam-diam, melainkan gara-gara sebuah video viral yang katanya menampilkan TKA Cina kabur ke hutan saat dirazia.
Narasinya dramatis. Ada kata “kabur” ada “hutan” ada “Cina illegal.”
Lengkap sudah bumbu film laga, tinggal kurangnya adalah musik latar dan slow motion. Sayangnya, setelah ditelusuri, ceritanya ambyar. Bukan sinetron, apalagi fakta. Hoaks.
Yang menariknya, jumlah Tenaga Kerja Asing (TKA) di Musi Banyuasin tahun 2026 itu cuma 78 orang. Iya, tujuh puluh delapan. Bukan tujuh ratus. Bukan tujuh ribu. Tapi riuhnya? Bisa bikin grup Media Sosial RT kebakaran jenggot dari pagi sampai malam.
Ini menarik karena disinilah kita bisa belajar yang sedikit kadang ributnya bisa berisik, sementara yang banyak justru senyap tak dianggap.
Faktanya begini, dibalik 78 TKA yang sah dan lengkap dokumen, ada 276 tenaga kerja lokal yang bekerja di proyek yang sama.
Mereka berasal dari Mendis, Simpang Bayat, Pangkalan Bayat, Pagar Desa, sampai Sako Suban. Wong kito semua. Keringat asli, nasi bungkus lokal.
Tapi anehnya, yang diviralkan bukan ratusan warga lokal yang dapat kerja. Yang jadi santapan empuk justru puluhan orang asing yang legal.
Ini seperti hajatan besar
yang masak seharian nggak disorot,
yang datang sebentar malah jadi gosip seminggu.
Isu TKA bukan isu kaleng-kaleng. Begitu salah informasi, efeknya bisa panjang.
Warga resah, kepercayaan publik turun, investor mikir dua kali. Padahal di daerah, investasi itu ibarat pompa air.
Kalau jalan, banyak sumur ikut hidup. Kalau macet, yang kering bukan cuma tanah, tapi juga dapur warga.
Disnakertrans Muba sudah buka data seterang lampu jalan ternyata 44 TKA di PT CRBCI Norinco Intl KS, 34 TKA di PT CRBCI dan sisanya tersebar 1-9 orang di beberapa perusahaan.
Semua legal, lengkap paspor, ITAS, RPTKA, sampai PNBP. Ini bukan cerita katanya-katanya, ini angka, ini dokumen dan ini negara bekerja.
Transfer skill
Kenapa yang sedikit bisa heboh? karena hoaks itu seperti petasan, kecil, tapi suaranya bikin orang kaget. Sekali meletup, langsung disangka perang dunia.
Media sosial mempercepat semuanya. Jempol sering kali lebih cepat dari otak. Share dulu, cek belakangan. Kalau salah? Tinggal bilang, “Maaf kalau tidak benar.”
Masalahnya, hoaks tak pernah minta maaf ke dampaknya.
Di sinilah sudut pandang yang sering luput. TKA didatangkan bukan buat saingan nasi ‘wong kito’. Mereka umumnya tenaga ahli. Datang membawa keahlian teknis, bukan rebutan lapak.
Target akhirnya jelas transfer skill, proyek jalan, konektivitas hidup, ekonomi bergerak.
Kalau proyek jalan jadi, yang lewat bukan cuma truk perusahaan, tapi pedagang, petani, anak sekolah, dan ambulans desa.
Kadang kita lupa yang kelihatan sedikit di awal, efeknya bisa panjang ke belakang.
Jadi, kritis itu penting. Curiga itu sehat. Tapi kalau semua diselesaikan dengan viralisasi tanpa verifikasi, yang rusak bukan cuma nama orang, tapi juga nalar kolektif.
Disnakertrans sudah sediakan jalur resmi, bahkan nomor WhatsApp pengaduan. Artinya, negara tidak tutup telinga. Tinggal masyarakat mau pakai jalur lurus, atau tetap memilih jalan pintas bernama hoaks.
Di era digital, kita semua media. Tapi jadi media bukan berarti kehilangan tanggung jawab.
Karena sekali hoaks dilepas, kita tak pernah tahu ke mana ia akan melompat dan siapa yang akan tersandung.
Mungkin ini saatnya kita bertanya ke diri sendiri kita mau jadi penambah gaduh, atau penjaga keseimbangan?
TKA di Muba itu sedikit jumlahnya, resmi secara hukum, dan berdampak ekonomi.
Yang perlu diperbanyak bukan prasangka, tapi literasi. Bukan teriak di medsos, tapi cek data. Karena pembangunan tak butuh kegaduhan, tapi kepercayaan.
Dan seperti pepatah lama yang masih relevan sampai hari ini “Karena nila setitik, rusak susu sebelanga.”
Jangan sampai satu hoaks kecil merusak kepercayaan besar yang sedang dibangun bersama. (***)