Senin, 28 Sep 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Pertambangan & Energi » Karpet Merah Batu Bara, Kamar Lain Bicara Krisis Iklim

Karpet Merah Batu Bara, Kamar Lain Bicara Krisis Iklim

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Rabu, 14 Jan 2026
  • visibility 705
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

MALAM ini udara terasa dingin, sejak siang hujan turun tak tentu arah sebentar reda, lalu nyambung lagi. Mirip kebijakan yang setengah-setengah, tapi tetap dipaksakan jalan. Daripada bengong sambil dengar suara hujan, saya membuka laptop dan membaca beberapa berita.

Niatnya sederhana, mengisi waktu. Tapi ternyata yang terbaca justru bikin pikiran ribut.

Di hari yang sama, saya menemukan dua artikel. Yang satu rilis resmi Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan. Yang satunya laporan diskusi Walhi di salah satu media online lokal. Bacanya memang tidak berurutan, tapi efeknya beruntun, seperti minum es teh manis, lalu langsung disusul kopi pahit tanpa jeda.

Di artikel pertama, Gubernur Sumsel H. Herman Deru menjamu tamu istimewa, Duta Besar India untuk Indonesia, Mr. Sandeep Chakravorty, bersama Konsul Jenderal India di Medan, Mr. Ravi Shanker Goel. Pertemuan berlangsung di Griya Agung Palembang, Rabu (14/1/2026).

Suasananya hangat, ramah, penuh senyum diplomatik. Karpet merah digelar rapi, kamera menyala, dan meja pertemuan diisi dua topik utama, ekspor batu bara ke India serta kerja sama pendidikan dan pertukaran pemuda.

Lengkap, tinggal tambah pempek kapal selam, tekwan, dan foto bersama berlatar ukiran songket, sudah sah disebut pertemuan berkelas.

Namun di artikel kedua, di kamar lain yang tak berkarpet merah, Walhi justru menggelar diskusi tentang krisis iklim dan petaka ekologis.

Tak ada jamuan, tak ada basa-basi, isinya data, peringatan, dan kalimat-kalimat yang bikin dahi berkerut. Intinya satu bumi makin rusak, kebijakan sering kalah oleh modal, dan masyarakat terus jadi korban tetap.

Dua artikel, satu hari, satu kota…
Tapi suasananya seperti dua dunia…

Rasanya seperti satu rumah sedang hajatan, sementara rumah sebelah kebakaran.

Dalam rilis Pemprov Sumsel, batu bara tampil gagah. Duduk manis di meja kehormatan sebagai komoditas unggulan.

Jika seandainya ekspor ke India terealisasi, Pendapatan Asli Daerah (PAD) meningkat, ekonomi bergerak, dan daerah makin sejahtera. Secara teori ini terdengar mantap dan masuk akal.

Bahkan secara hitungan kas daerah juga, kabar ini memang menggoda, apalagi batu bara masih laku. Pasarnya global, pembelinya antre sehingga dompet daerah bisa ditambal.

Tentu, cara berpikir pembangunan yang percaya dompet sehat adalah tanda daerah bahagia, kabar seperti ini tentu terasa manis sering langsung dianggap angin segar, sampai lupa menghitung asap yang ikut keluar.

Masalahnya, batu bara itu, seperti tamu rapi yang datang pakai sepatu mengilap, tapi lupa melepas alas kaki saat masuk rumah. Setelah tamu pulang, yang repot bukan dia, melainkan tuan rumah yang harus membersihkan karpet.

Sebab di balik setiap ton batu bara, ada cerita yang jarang muncul di rilis resmi, lubang tambang yang tak ditutup, sungai yang warnanya mirip kopi tubruk, debu yang masuk ke paru-paru warga, dan konflik lahan yang lebih panjang dari pidato sambutan.

Sementara itu, di kamar lain, alarm sudah menyala, sebab ketika batu bara dielus di ruang kehormatan, Walhi justru menyalakan sirene peringatan. Mereka sepakat, apa yang kita alami hari ini bukan lagi sekadar bencana alam, melainkan petaka ekologis hasil ulah manusia sendiri.

Diskusi itu bicara soal gugatan terhadap korporasi, soal hukum yang sering kalah cepat dari kekuatan modal, dan soal pembangunan yang rajin menghitung untung, tapi malas menghitung rusak.

Ironisnya, diskusi Walhi tidak sedang bercerita tentang negeri jauh yang tak pernah kita datangi. Itu potret Indonesia hari ini, hutan terbakar, sungai berubah warna, dan masyarakat yang terus diminta mengalah demi satu kata sakti bernama pembangunan.

Suasananya seperti satu gedung yang lupa bercermin..
satu ruangan penuh tepuk tangan…
dan ruangan lain penuh bau yang tak bisa ditolak hidung.

Tak adil memang jika tidak diakui, ekspor batu bara berpotensi menaikkan PAD. Tapi jujur juga harus diucapkan, kerusakan lingkungan hampir selalu ikut naik dan biasanya lebih cepat dari PAD.

Masalahnya, dalam laporan keuangan daerah, sungai kotor tidak tercatat sebagai kerugian. Udara beracun tidak masuk kolom minus.

Anak-anak yang sakit ISPA tidak memengaruhi grafik pertumbuhan. Akibatnya, daerah terlihat untung di atas kertas, sementara masyarakat membayar dengan napas pendek dan air bersih yang makin jauh, ini bukan pembangunan, ini cicilan masalah.

Paradigma pembangunan

Walhi menyebut akar persoalan dengan terang, paradigma pembangunan. Selama keberhasilan hanya diukur dari angka PDB dan grafik ekonomi, lingkungan akan selalu jadi korban yang disuruh “bersabar”.

Lucunya, pembangunan selalu mengatasnamakan rakyat. Tapi ketika banjir datang, asap mengepung, dan lahan rusak, rakyat juga yang pertama disuruh mengerti keadaan.
Sementara yang bikin keadaan?
Biasanya sudah pindah rapat ke ruangan ber-AC.

Persoalannya sebenarnya sederhana, isu lingkungan belum sepenuhnya dianggap sebagai urusan kebijakan. Ia sering berhenti sebagai bahan diskusi, sementara keputusan pembangunan terus melaju dengan logika lama.

Padahal, pesannya jelas, kalau batu bara mau dijual, aturannya jangan kendor. Kalau korporasi untung, tanggung jawabnya jangan kabur.

Kalau PAD naik, biaya pemulihan jangan pura-pura lupa.

Dan kalau bicara masa depan, jangan cuma mewariskan lubang dan asap.

Yang biasanya untung, kas daerah, korporasi, dan pasar energi.
Yang menanggung biasanya warga sekitar tambang, sungai, hutan, sawah, anak-anak yang tumbuh di udara kotor, dan generasi berikutnya yang kebagian PR paling berat.

Ini bukan teori, ini pengalaman yang terus diulang.

Jadi, kalau membaca dua artikel itu rasanya seperti menonton dua adegan film yang diputar bersamaan. Yang satu penuh senyum dan jabatan tangan, yang satu penuh data dan peringatan.

Pertanyaannya sederhana, mau terus pura-pura tidak dengar, atau mulai mendengar sebelum terlambat?

Oleh sebab itu, karpet merah boleh digelar, tamu boleh disambut, dan kontrak boleh ditandatangani. Tapi kalau di kamar lain krisis iklim terus dibicarakan dan kita memilih menutup telinga, jangan heran jika suatu hari masalah itu masuk sampai ruang tamu.

Seperti kata pepatah “Untung hari ini jangan dibayar dengan rusak seumur hidup.” (***)

 

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pemkot Palembang Beri Penghargaan Wajib Pajak Tertib

    Pemkot Palembang Beri Penghargaan Wajib Pajak Tertib

    • calendar_month Kamis, 21 Nov 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.037
    • 0Komentar

    PEMERINTAH kota Palembang melalui Badan Pengelolaan Pajak Daerah (BPPD) kota Palembang memberikan penghargaan kepada wajib pajak. Hal ini sebagai bentuk apresiasi pemerintah dalam pembayaran pajak. Kepala BPPD kota Palembang, Sulaiman Amin mengatakan, penghargaan ini sebagai bentuk apresiasi pemerintah kepada wajib pajak dan pungut pajak, serta memotivasi wajib pajak lainnya. “Kita tahu bahwa kota Palembang ini kegiatan […]

  • Sebagai Kepala Daerah Ketahanan Pangan, IJTI Jabar Beri Penghargaan

    Sebagai Kepala Daerah Ketahanan Pangan, IJTI Jabar Beri Penghargaan

    • calendar_month Selasa, 14 Des 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.456
    • 0Komentar

    IKATAN Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Jawa Barat memberikan penghargaan kepada almarhum Oded M. Danial sebagai Kepala Daerah Pencanangan Ketahanan Pangan di masa Pandemi Covid-19 lewat Program Buruan Sae (Sehat, Alami, Ekonomis). Penghargaan tersebut diterima oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan, Eric M. Attauriq pada acara Malam Anugerah IJTI Pengda Jawa Barat 2021, di Hotel Grand Preanger […]

  • Kali ke-8, Muara Enim Peroleh WTP

    Kali ke-8, Muara Enim Peroleh WTP

    • calendar_month Sabtu, 8 Mei 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.624
    • 0Komentar

      PEMKAB Muara Enim memperoleh dan mempertahankan predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) untuk ke-8 kalinya secara berturut-turut.   Penghargaan diberikan langsung Kepala BPK-RI Perwakilan Provinsi Sumatera Selatan, Harry Purwaka, Jumat [7/5/2021].   Penghargaan ke -8 atas laporan keuangan Pemerintah Kabupaten Muara Enim Tahun Anggaran 2020.   Plh. Bupati Nasrun Umar berterima terimaksih kepada BPK-RI atas […]

  • Ingat ! Tenaga Kerja di Luar Muba Wajib Tes Covid-19

    Ingat ! Tenaga Kerja di Luar Muba Wajib Tes Covid-19

    • calendar_month Senin, 22 Jun 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.373
    • 0Komentar

    SEKRETARIS Daerah Kabupaten Muba, Drs H Apriyadi MSi mengatakan, sesuai intruksi Bupati Muba Dr H Dodi Reza Alex bahwasanya untuk mengantisipasi adanya cluster baru dari wabah Covid-19 ini, maka tenaga kerja dari luar wajib melakukan uji tes Covid-19 dan  melaksanakan protokol kesehatan selama bekerja di wilayah Muba. “Prinsipnya kami Pemkab Muba menyambut baik program Kementerian […]

  • Benarkah, Penerbangan di AS Ditutup karena Kru dan Pilot Menolak Vaksin

    Benarkah, Penerbangan di AS Ditutup karena Kru dan Pilot Menolak Vaksin

    • calendar_month Sabtu, 14 Agt 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 732
    • 0Komentar

    BEREDAR unggahan di media sosial Facebook yang menyebutkan sejumlah penerbangan di Amerika Serikat (AS) ditutup karena kru dan pilot menolak vaksin. Unggahan tersebut disertai dengan foto Bandara Internasional Hollywood Fort Lauderdale, Florida, Amerika Serikat. Dalam foto itu tampak maskapai bernama Spirit Airlines menunda dan membatalkan penerbangan. Faktanya, informasi yang menyebutkan sejumlah penerbangan di Amerika Serikat […]

  • Insya Allah, Pompanisasi Sungai Bendung Beroperasi Akhir Tahun Ini, Walkot Palembang :  Mudah-Mudahan Gak Kebanjiran Lagi

    Insya Allah, Pompanisasi Sungai Bendung Beroperasi Akhir Tahun Ini, Walkot Palembang : Mudah-Mudahan Gak Kebanjiran Lagi

    • calendar_month Kamis, 24 Okt 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 811
    • 0Komentar

      DAERAH Sekip Palembang salah salah satu daerah yang terkenal dengan langganan banjir saat musim penghujan, bahkan air bisa meluap dalam hitungan sekejap di daerah itu. Bahkan, parahnya lagi air bisa masuk rumah yang tingginya bisa mencapai 30 cm, meski kerap menjadi dilema bagi masyarakat setempat, pada umumnya mereka pasrah dengan kondisi ini, ada sebagian mereka […]

expand_less
WordPress Archive Maxi – Gutenberg Magazine & News Theme Maxify | Startup & Business News WordPress Blog Theme Maxima – Retina Ready WordPress Theme MaxiNet – Internet & IPTV Provider Elementor Template Kit MaxShop – Electronics Store Elementor WooCommerce WordPress Theme (9+ Homepages, 2+ Mobile Layouts) Maxus – Multipurpose eCommerce WordPress Theme Maya – Smart and Powerful WP Theme Mayosis – Digital Marketplace WordPress Theme Mazuma – Business Elementor Template Kit MBStore – Digital WooCommerce WordPress Theme