HIDUP rakyat itu sebenarnya sederhana, hanya dengan kalimat perut harus kenyang, kepala harus punya atap, dan sesekali tersenyum tipis walau harga cabai bikin mata melotot.
Kalau dua hal itu beres, hidup lebih adem. Kalau nggak, jangan heran kalau senyum ikut luntur. Makanya isu inflasi dan rumah rakyat selalu panas, meski dibungkus rapat resmi, slide warna-warni, dan angka-angka yang bikin kepala ikut puyeng.
Sekretaris Daerah Sumatera Selatan, H. Edward Candra, hadir dalam rapat daring pengendalian inflasi daerah sekaligus evaluasi program 3 Juta Rumah. Layar penuh grafik, tapi isu yang dibahas dekat banget sama perut dan atap rakyat sehari-hari.
Edward menyampaikan intisari “Pemprov Sumsel siap mendukung program pusat menjaga inflasi dan percepatan rumah layak huni,” kata Sekda H. Edward Candra, sepertinya singkat, padat, dan kredibel paparannya di Senin (12/1/2026).
Bahkan inflasi sering tampil gagah di layar presentasi, ada grafik naik turun, angka persen dengan dua digit di belakang koma, istilah ekonomi yang terdengar pintar.
Tapi, di lapangan, inflasi terasa nyata, yaitu cabai naik, minyak langka, beras makin mahal, dan uang belanja cepat habis.
Sementara rakyat jarang peduli persentase, yang terasa jelas cuma dompet makin tipis.
Makanya pemerintah harus serius, bukan sekadar agar terlihat sibuk, namun karena inflasi yang tak terkendali bisa bikin rumah tangga panas, dan panas yang ini bukan karena cinta, melainkan karena dapur berasap tanpa lauk, kadang rakyat cuma berharap harga stabil dulu, simpel, tapi menyentuh.
Masalahnya, inflasi itu terkadang bukan cuma soal kurang barang, tapi soal distribusi yang kurang rapi.
Misalnya kadang barangnya ada, tapi nyangkut di jalan. Stok cukup tapi harga keburu naik. Oleh sebab itu, peran pemerintah daerah jadi penting dengan tujuan memastikan barang bergerak lancar, pasar diawasi, harga tak dimainkan pihak tertentu.
Edward menambahkan tipis “Tentu ada tantangan di lapangan, tapi kami fokus memastikan program sampai ke masyarakat.”
Program 3 Juta Rumah terdengar megah dan optimis, tapi tantangannya bukan di niat, melainkan eksekusi. Banyak cerita klasik, seperti lahannya ada tapi status ribet, anggaran ada tapi proses lambat, data penerima belum rapi, atau rumah dibangun tapi lokasinya jauh dari sumber penghidupan. Akhirnya, rumah berdiri tapi penghuninya nggak betah.
Rumah sudah dibangun, tapi jangan-jangan rumahnya ikut ngambek di gudang.Pertanyaannya, apakah rumah benar-benar sampai ke tangan yang membutuhkan?
Oleh karena itu, rapat memang penting, tapi rakyat cuma mau satu hal, yaitu hasil terasa di lapangan, bukan notulen rapi, foto dokumentasi lengkap, atau target di slide cantik.
Dapur lebih tenang
Jadi solusinya begini, data harus cepat & akurat, distribusi & lokasi realistis supaya rumah murah tidak menambah biaya hidup, dan koordinasi & transparansi antara pusat dan daerah harus terus dijaga. Semua tetap dikemas ringan & kocak, bukan daftar panjang yang bikin pusing pembaca.
Kadang pemerintah rapat serius, rakyat cuma bisa senyum tipis “Harga naik, rapat tetap jalan, semoga hasilnya terasa.”
Misal saat Edward bicara soal inflasi “Kita pantau harga cabai, beras, dan minyak goreng. Semoga tidak ada yang nakal di pasar,” sekilas serius, tapi bikin senyum tipis, karena rakyat tahu, cabai memang suka membandel sendiri, bikin emak-emak pulang dari warung sayur ngeluh.
Jadi, inflasi dan rumah rakyat memang bukan cuma soal angka. Ini soal kehadiran negara dalam kehidupan sehari-hari.
Negara hadir bukan saat pidato selesai, tapi ketika harga stabil dan rumah bisa ditempati layak. Rakyat tidak menuntut kesempurnaan. Yang mereka harapkan adalah niat baik konsisten dan kerja nyata berkelanjutan.
“Pusat dan daerah harus bersinergi, menjaga harga, dan mempercepat penyediaan rumah. Tujuannya satu, kesejahteraan masyarakat.”
Apalagi inflasi bisa terkendali dampaknya membuat dapur lebih tenang. Rumah layak membuat tidur nyenyak. Saat dua hal ini dijaga serius, tentu hidup rakyat pelan-pelan membaik.
Saat inflasi terkendali dan rumah rakyat layak huni, hidup pelan-pelan lebih adem. Pusat dan daerah bertugas, rakyat yang merasakan manfaat. Seperti pepatah bilang, “Sepintar-pintarnya tupai melompat, akhirnya juga balik ke pohon.” maksudnya ya…urusan perut dan atap tetap harus dijaga dong!. (***)