Kamis, 8 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Seni & Budaya » Palembang Kota Tua, Seni Muda yang Tak Mau Nunggu Perda

Palembang Kota Tua, Seni Muda yang Tak Mau Nunggu Perda

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Rabu, 7 Jan 2026
  • visibility 1.109
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

PALEMBANG kota tua, seni muda, kalimat ini bukan hasil perenungan dini hari, tapi celetukan seorang seniman Palembang saat ditanya soal Perda Kesenian. Ia tertawa pendek, lalu nyeletuk, “Kalau nunggu Perda, kami bisa keburu botak duluan”

Palembang memang kota tua, sejarahnya panjang, ceritanya tebal, bukti arkeologinya tidak sedikit. Namun, dalam urusan seni, kota setua ini justru bergerak seperti anak muda yang baru pegang motor, ngebut, nekat, dan kadang lupa helm. Sementara regulasi dalam hal ini Perda Kesenian jalannya santai, rapi, tapi sering terlambat sampai tujuan.

“Perda itu penting, tapi jangan sampai seni disuruh puasa gara-gara aturan belum turun,” kata Muhammad Nasir, Ketua Dewan Kesenian Palembang. Nada bicaranya datar, tapi pesannya tegas. Menurutnya, DKP memilih bergerak dulu karena seni tidak bisa menunggu siklus politik. “Inspirasi itu tidak kenal Propemperda,” katanya sambil tersenyum.

Statemen ini bukan basa-basi, sepanjang 2024–2025, aktivitas seni di Palembang justru padat. Puisi digelar di ruang publik, mural difasilitasi agar tembok kota tidak cuma jadi korban coretan random, parade bunyi digelar supaya Palembang ingat ia punya irama selain klakson. UMKM dilibatkan, kampus diajak kolaborasi, mahasiswa magang, anak-anak sekolah diperkenalkan seni sejak dini.

“Kalau kami diam, kota ini sunyi,” ujar Fadly Lonardo, Sekretaris DKP. Ia bilang, banyak kegiatan seni lahir dari kegelisahan, bukan dari anggaran. “Kami ini sering kerja pakai logika gotong royong. Kadang patungan, kadang ngutang nama dulu.”

Nada serupa datang dari seniman senior Palembang yang sudah puluhan tahun makan asam garam panggung. “Zaman dulu kami manggung pakai lampu pinjam. Sekarang lampunya sudah ada, tapi aturannya belum,” katanya sambil tertawa getir. Ia menegaskan, Perda bukan untuk mengatur gaya berkarya, tapi untuk memastikan seni tidak selalu bergantung pada belas kasihan momentum.

Pertanyaan soal Perda Kesenian pun muncul berulang-ulang. Sudah ada naskah akademik, sudah audiensi dengan DPRD, sudah masuk pembahasan, tapi belum juga disahkan. “Perda ini seperti lagu yang sudah sering diputar, tapi belum pernah dinyanyikan,” kata seorang pegiat teater.

Bandingkan dengan daerah lain, misalnya Jogja, seniman fokus mikir karya, di Palembang, seniman mikir karya sambil mikir tempat, mikir dana, mikir izin,”  itu bukan soal kualitas seniman, tapi soal ekosistem.

Solo dan Yogyakarta sering jadi contoh. Di sana, seni tradisi punya kalender tetap. Wisatawan bisa menyesuaikan jadwal liburan. Di Palembang, banyak pertunjukan masih bergantung undangan atau acara seremonial. Kalau ada event, seni muncul. Kalau tidak, ya disimpan dulu.

Tapi justru dalam kondisi serba belum itulah seni Palembang terlihat paling keras kepala, dalam arti positif. Tradisi tidak diperlakukan seperti barang museum. Wayang Palembang, Dulmuluk, syarofal anam, Irama Batanghari Sembilan terus diupayakan tampil berdampingan dengan mural, film, podcast, dan diskusi kampus.

Tradisi itu bukan untuk dipajang, tapi dimainkan, kalau cuma disimpan, dia akan mati pelan-pelan.

Masuk ke soal Gedung Kesenian Palembang, harapan mulai terlihat. Gedung yang dulu sering kosong kini mulai diisi. “Target kami jelas, ada jadwal tetap, kata Nasir. Ia ingin siapa pun warga Palembang, mahasiswa, sampai wisatawan bisa membuka kalender dan tahu, seni apa yang bisa ditonton.

Program seniman masuk sekolah juga mulai digagas. “Anak-anak sekarang hafal YouTuber, tapi belum tentu kenal Dulmuluk,” katanya lagi karena itu, seni harus hadir lebih awal, bukan menunggu mereka dewasa dan sibuk.

Namun semua ini kembali ke satu titik krusial, keberlanjutan yaitu semangat itu ada batasnya, kalau semua terus pakai idealisme, lama-lama bisa tumbang.

Oleh sebab itu, seni itu memang bisa hidup tanpa Perda, dan Palembang sudah membuktikannya. Tapi negara tidak boleh menjadikan itu alasan untuk terus menunda. Justru karena seni sudah berjalan, regulasi harus menyusul, bukan sekadar mengapresiasi dari jauh.

Kalau seni mati, kota ikut mati, Palembang kota tua, seni muda, sekarang ujiannya ada pemerintah, mau ikut bergerak cepat, atau tetap santai sambil membiarkan seniman terus berlari sendirian. Karena satu hal sudah jelas seninya tidak mau pensiun, dan publik sudah siap menonton, tinggal payung hukumnya, mau turun atau terus digantung di langit kebijakan? (***)

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tinjau Pasar Induk Jakabaring, Ini Curhat Pedagang Kepada Wawako

    Tinjau Pasar Induk Jakabaring, Ini Curhat Pedagang Kepada Wawako

    • calendar_month Kamis, 15 Agt 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.900
    • 0Komentar

    Harapannya melalui peninjauan ini dapat dilakukan pembenahan Pasar Induk Jakabaring agar lebih baik.

  • Kegiatan Skala Besar Harus Ikuti Podaman, Satgas Beberkan 6 Faktor Risiko Penularan

    Kegiatan Skala Besar Harus Ikuti Podaman, Satgas Beberkan 6 Faktor Risiko Penularan

    • calendar_month Sabtu, 25 Sep 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.346
    • 0Komentar

    JURU Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito menegaskan bahwa penyelenggaraan kegiatan besar atau pertemuan besar harus mengikuti pedoman penyelenggaraan yang telah ditetapkan. Beberapa diantaranya, konferensi, pameran dagang, acara olahraga, festival konser, pesta maupun acara pernikahan yang besar. “Saat ini Indonesia terus berupaya mewadahi aktivitas masyarakat untuk tetap produktif namun aman COVID-19,” jelasnya dalam Keterangan […]

  • Gunakan Teknologi Ini, Masyarakat Muba Bakal Untung Besar

    Gunakan Teknologi Ini, Masyarakat Muba Bakal Untung Besar

    • calendar_month Sabtu, 27 Jul 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.138
    • 0Komentar

    TEKNOLOGI Mososa adalah teknologi berbasis limbah (solid sawit/limbah decanter) sebagai bahan dasar pembuatan pakan ternak & pupuk organik menjadi murah (60% dibawah harga standar) kualitas SNI. Hal itu disampaikan Hary Agus Wibowo pemilik hak paten Teknologi Mososa disela Kunjungan Bupati Musi Banyuasin (Muba) pada Gebyar Pajak Daerah 2019 di Desa Tanjung Agung Barat Kecamatan Lais, Selasa […]

  • Apple meninjau pengalaman hiburan baru yang diluncurkan dengan Apple Vision Pro

    Apple meninjau pengalaman hiburan baru yang diluncurkan dengan Apple Vision Pro

    • calendar_month Rabu, 24 Jan 2024
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.723
    • 0Komentar

    Pengguna dapat mengubah ruang mana pun menjadi teater pribadi, menikmati lebih dari 150 film 3D, dan merasakan hiburan masa depan dengan Apple Immersive Video   Sumselterkini.co.id, – CUPERTINO, CALIFORNIA Apple hari ini mengumumkan serangkaian pengalaman hiburan inovatif yang akan tersedia di Apple Vision Pro mulai Jumat, 2 Februari. Dengan piksel lebih banyak daripada TV 4K […]

  • Mahsuri Food Adakan Peletakan Batu Pertama Pabrik Saus dan Bumbu Baru di Malaysia

    Mahsuri Food Adakan Peletakan Batu Pertama Pabrik Saus dan Bumbu Baru di Malaysia

    • calendar_month Jumat, 19 Mei 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.296
    • 0Komentar

    SEREMBAN, MALAYSIA – Media OutReach – Mahsuri Food Sdn. Bhd. (“Mahsuri”), produsen produk bersertifikat Halal untuk kawasan ASEAN akan sepenuhnya mengoperasikan pabrik manufaktur baru yang berlokasi di Bandar Enstek, Negeri Sembilan pada awal tahun 2025 untuk mengembangkan bisnisnya di dalam dan luar negeri. Mahsuri Food mengadakan upacara peletakan batu pertama untuk pabrik saus dan bumbu […]

  • 7 Hal Yang Perlu Diketahui tentang Mutasi Virus Corona Varian B.1.1.7

    7 Hal Yang Perlu Diketahui tentang Mutasi Virus Corona Varian B.1.1.7

    • calendar_month Selasa, 9 Mar 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 789
    • 0Komentar

    PADA 2 Maret 2021, pemerintah umumkan mutasi virus Corona Varian B.1.1.7 penyebab COVID-19 telah memasuki wilayah Indonesia. Belum ada bukti ilmiah bahwa virus mutasi COVID-19, yang pertama kali ditemukan di Inggris ini, lebih tinggi tingkat keganasannya dibanding virus COVID-19 yang awal. Selain itu, varian virus ini juga tetap bisa dideteksi dengan tes swab antigen dan swab […]

expand_less
WordPress Archive Onnat – Digital Agency & Creative WordPress Theme Onova – IT Solutions & Services WordPress Theme Onova – Technology IT Solutions Elementor Template Kit Ontap – Brewery & Restaurant WordPress Theme Onum – SEO & Marketing Elementor WordPress Theme Opeka – Senior Care & Elderly Nursing WordPress Theme OpenHub – A Stylish Events & Conference Theme Openpos – WooCommerce Point Of Sale(POS) OpenSwatch – Woocommerce Variations Image Swatch Opklim – Law Firm WordPress Theme