Pemerintahan

“Hijau di Ujung Kabel, Hitam di Ujung Pabrik”

GUBERNUR Sumatera Selatan H. Herman Deru menerima tamu penting di ruang kerjanya kemarin. Bukan tamu yang datang membawa pempek atau tekwan, melainkan rombongan serius dengan map tebal dan rencana panjang, yaitu kendaraan listrik, charging station, dan masa depan hijau.

Topik ini terdengar modern, bahasanya juga meyakinkan, kata kuncinya satu ‘ramah lingkungan,’ pas banget dengan narasi ‘bumi rumah kita’ katanya makin kepanasan.

Pembahasan itu memang terasa segar, seperti kita membuka jendela di pagi hari yang sejuk membuat udara masuk, kepala jadi adem, pikiran ikut terang sehingga di atas meja rapat, masa depan itu tampak hijau dan rapi.

Secara logika di jalanan, ide kendaraan listrik memang menyenangkan untuk dibaca. Seandainya, jika suatu hari kendaraan listrik benar-benar mendominasi jalan raya di Sumatera Selatan, pasti, hidung tak lagi dipaksa menghirup bau solar.

Bahkan tak terdengar lagi knalpot yang batuk-batuk, dan asap hitam tak sempat bikin mata perih sebelum berkedip.

Selain itu, mobil melaju dengan senyap, motor tak meraung, dan paru-paru akhirnya bisa istirahat tanpa lembur akhirnya tidur malam pun terasa lebih nyenyak.

Namun, logika jalanan juga jujur, sebab begitu keluar dari ruang tamu yang sejuk, ceritanya sering berubah.

Di jalan raya, truk-truk besar yang uzur masih sliwar-sliwer menenggak solar, kalau mogok, sopirnya sering lebih dulu pasrah daripada mesinnya. Bau solar masih rajin menyapa hidung, terutama di jam sibuk.

Di titik ini, publik cuma bisa senyum kecut sambil bertanya pelan yang hijaunya di bagian mana?

Mobil listrik memang tak berasap itu faktanya, namun jangan lupa, listriknya datang dari mana.

Di Sumatera Selatan, struktur kelistrikan masih bertumpu pada pembangkit berbasis batubara. PLTU Bukit Asam, Banjarsari, Keban Agung, Simpang Belimbing, hingga Sumsel-5 masih menjadi tulang punggung pasokan listrik regional.

Artinya sederhana, ketika kendaraan listrik dicolokkan, besar kemungkinan yang mengalir di kabel itu adalah energi dari batubara.

Dari sini lahirlah ironi modern, mobil listrik memang tak berasap, tetapi asapnya pindah alamat, dari knalpot ke cerobong PLTU. Kita tak benar-benar menghilangkan asap, hanya memindahkannya.

Seperti menyapu debu ke kolong sofa ruang tamu, dari luar tampak bersih, tapi kolongnya tetap batuk.

Data bauran energi Sumatera Selatan, berdasarkan kajian Institute for Essential Services Reform (IESR) dipublikasikan pada 2024 dan mengolah data Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Sumatera Selatan tahun 2022 menyebutkan energi fosil masih mendominasi bauran energi daerah.

Batubara mengambil porsi terbesar, disusul gas bumi dan minyak bumi. Sementara energi terbarukan air, surya, panas bumi, dan bioenergy memang sudah ada, tetapi porsinya belum menjadi pemeran utama,  ibarat masih figuran yang sering terlupa dialognya.

Di sinilah kendaraan listrik berdiri sebagai simbol yang manis, namun belum sepenuhnya tuntas. Karena ia tampak hijau di brosur, tetapi di balik layar, hitamnya masih terasa. Bukan salah mobilnya. Bukan pula salah niatnya. Yang perlu dibenahi adalah urutan mainnya.

Kita boleh mencontoh negara lain dan bukan contoh setengah-setengah, seperti Norwegia, misalnya. Lebih dari 90 % listriknya berasal dari energi terbarukan, terutama tenaga air.

Ketika mobil listrik melaju, ia benar-benar hijau dari hulu ke hilir, tak heran jika kendaraan listrik mendominasi penjualan mobil baru. Di sana, mobil listrik bukan gimmick, melainkan konsekuensi logis.

Sementara di Islandia bahkan lebih ekstrem lagi, sebab hampir seluruh listriknya berasal dari panas bumi dan tenaga air.

Mobil listrik disana nyaris tak meninggalkan jejak emisi, tak ada drama pindah asap, karena dari awal memang tak ada asap.

Lalu Costa Rica. negara kecil yang jarang disebut di tongkrongan ini, tapi unggul dalam urusan energi bersih, pasalnya lebih dari 98 % listriknya berasal dari energi terbarukan. Mereka tak sekadar berbicara hijau, tetapi hidup di dalamnya.

Di negara-negara itu, mobil listrik adalah hasil akhir dari sistem energi yang sudah beres. Sementara di sini, kita baru di bab pembuka, tetapi sudah ingin pamer epilog.

Persoalan lain adalah soal keadilan, apalagi harga mobil listrik masih mahal dan penggunanya terbatas. Sementara mayoritas warga Sumatera Selatan masih setia pada motor lama, mobil diesel, dan angkutan umum yang usianya lebih senior dari kalender dinding.

 

Pengingat ringan & senyum

Ironisnya, sektor inilah yang menyumbang emisi terbesar, tetapi justru paling jauh dari sentuhan kebijakan hijau.

Oleh karena itu, pertanyaannya pelan-pelan berubah, apakah kebijakan ini ingin membersihkan udara, atau sekadar membersihkan citra?

Tulisan ini tentu bukan untuk mematahkan niat baik, justru sebaliknya sebagai pengingat ringan dengan senyum, dan bukan dengan telunjuk, bahwa transisi energi bukan sprint, melainkan maraton. Butuh napas panjang, urutan yang tepat, dan konsistensi yang tak mudah goyah.

Jika ingin benar-benar hijau, mungkin langkah awalnya bukan dari mobil pribadi, melainkan dari kendaraan publik.

Misalnya bus uzur, angkutan umum uzur, truk peti kemas uzur, kendaraan itu masih diperdayakan. Lalu pembangkitnya juga harus dibenahi, energi terbarukan diperkuat, dan peran batubara pelan-pelan dikurangi. Di situlah kendaraan listrik menemukan konteksnya.

Memang membangun charging station sangat penting, disaat bumi semakin panas ini, sebab menjadi tanda bahwa kita menyiapkan masa depan yang lebih bersih dan nyaman untuk anak cucu kita.

Namun masa depan tak cukup disiapkan dengan colokan saja, ia butuh keberanian mengubah sistem, bukan sekadar mengganti wajah.

Mobil listrik hari ini mungkin belum sepenuhnya hijau. Tetapi bisa menjadi sebuah asa, asal komitmennya itu utuh, bukan setengah-setengah jalan.

Asa bahwa suatu hari nanti, kabel yang kita banggakan benar-benar mengalirkan energi bersih, bukan sekadar memindahkan hitam dari satu tempat ke tempat lain.

Sebab jika tidak, kita akan terus hidup dalam ironi yang sama, yaitu bangga pada mobil tanpa knalpot, sambil pura-pura lupa pada cerobong yang terus mengepul.

Semoga Sumatera Selatan kelak benar-benar hijau dari hulu ke hilir, bukan hanya ramah di ujung kabel, tetapi juga bersih di ujung pabrik, dan semoga juga hanya menjadi fase, bukan warisan.(***)

 

Terpopuler

To Top