Minggu, 18 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Tekno » Menuju Kemandirian AI, Indonesia Garap LLM Lokal Sendiri

Menuju Kemandirian AI, Indonesia Garap LLM Lokal Sendiri

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Sabtu, 20 Sep 2025
  • visibility 1.508
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

INDONESIA itu ibarat gudang rempah yang aromanya semerbak ke seluruh dunia, tapi anehnya masih suka beli bumbu instan dari luar negeri. Begitu pula dengan kecerdasan artifisial (AI), kita kaya bahasa, budaya, dan data, tapi sering kali masih mengandalkan teknologi impor. Kini, Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) bertekad mengubah cerita itu lewat program AI Talent Factory dan pembangunan Large Language Model (LLM) lokal yang benar-benar berjiwa Indonesia.

Kenapa penting?, karena AI itu kayak otak digital, kalau cuma pakai otak bikinan orang lain, ya… jangan kaget kalau jawabannya suka ngaco soal budaya kita. Bayangkan minta AI bikin pantun Betawi tapi jawabannya malah pantun gaya Shakespeare. Kan bisa bikin orang bilang “Ini AI apa stand-up comedy?”.

Indonesia punya lebih dari 700 bahasa daerah, itu artinya, bahan baku kita untuk bikin AI lokal segunung, tapi kalau nggak dimanfaatkan, ya percuma, sama aja kayak punya sawah luas tapi tiap hari masih beli beras dari warung sebelah.

Ada pepatah bilang, “Dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”, kalau AI mau bermanfaat untuk rakyat, ya harus ngerti bahasa rakyat. Jangan sampai AI jago bahasa Inggris, tapi kalau disuruh jawab dalam bahasa Jawa halus, malah loading lama kayak sinyal di kampung halaman.

Mari kita lihat tiga contoh negara yang udah melangkah lebih jauh, Tiongkok, mereka punya Ernie Bot buatan Baidu, bahasa mandarin jadi raja di platform AI mereka. Hasilnya? rakyatnya bisa pakai AI tanpa harus minder sama buatan Barat, Korea Selatan, mereka dorong pengembangan AI dengan data bahasa Korea, supaya anak muda bisa belajar teknologi tanpa terjebak istilah asing.

Selain itu India, negeri Bollywood ini jagoan, mereka bikin AI yang bisa paham ratusan dialek lokal, misalnya orang desa bisa ngobrol dengan chatbot pakai bahasa sendiri tanpa harus kursus bahasa Inggris dulu.

Nah, kalau mereka bisa, kenapa kita harus puas jadi penonton? Indonesia bisa bikin AI yang ngerti logat Medan, bisa balas pantun Palembang, sampai ngerti guyonan khas Jogja.

Wamen Nezar Patria sudah wanti-wanti, kita butuh 9 juta talenta digital lagi, angka gede, tapi bukan mustahil, kalau generasi muda kita mau, mereka bisa jadi pengembang AI, bukan cuma user.

Seandainya mahasiswa Malang bikin AI khusus untuk bantu nelayan di pesisir Jawa, atau anak-anak Bandung bikin AI yang bisa bantu petani kopi. Itu bukan cuma keren, tapi bikin hidup masyarakat lebih gampang.

Sekarang banyak orang pakai AI impor buat bikin konten, desain, bahkan laporan. Sah-sah saja, tapi kalau semua hanya jadi pemakai, lama-lama kita kayak penonton konser yang cuma bisa jingkrak, sementara panggungnya diisi orang lain.

Pepatah bilang, “Kalau tidak bisa jadi tuan rumah, jangan selamanya jadi tamu”. Nah, di dunia AI, kita jangan selamanya jadi tamu. Sekali-kali harus bikin pesta sendiri, undang tamu, dan jadi tuan rumah yang disegani.

Peluangnya jelas, data bahasa dan budaya kita melimpah, pasar digital kita besar, anak muda kreatif bejibun,  tantangannya juga segede gaban, yakni infrastruktur, dana riset, dan keseriusan pemerintah untuk konsisten.

Kalau strategi nasional AI ini berhasil, kita bisa punya LLM lokal yang bukan cuma pintar, tapi juga berjiwa Indonesia. AI bisa kasih rekomendasi resep gudeg, kasih wejangan ala dalang wayang, atau bikin pantun ala anak Betawi, unik dan relevan.

AI itu, seperti pisau dapur, kalau dipakai masak, bisa bikin keluarga kenyang, kalau salah pakai, bisa bikin tangan berdarah. Makanya, pengembangan AI lokal harus diarahkan untuk kebaikan bangsa, seperti pendidikan, kesehatan, ekonomi kerakyatan.

Indonesia tidak boleh puas jadi tukang ngekos di teknologi asing, kita punya sumber daya, punya anak muda cerdas, dan punya keberagaman budaya sebagai modal, belajarlah dari Tiongkok, Korea, dan India, kita harus berani bikin AI sendiri.

Jadi, kalau lain kali ada yang nanya, “AI Indonesia itu kayak gimana?” kita bisa jawab dengan bangga AI kita bukan cuma paham bahasa Inggris, tapi juga bisa ketawa kalau dengar dagelan Cak Lontong, karena pada akhirnya, AI terbaik adalah yang lahir dari tanah sendiri, tumbuh dengan bahasa sendiri, dan berakar pada budaya sendiri.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • 3 Ton Sisik Trenggiling Bawa Penyidik ke Pontianak, WN Vietnam Diamankan Diduga Terkait Jaringan Internasional

    3 Ton Sisik Trenggiling Bawa Penyidik ke Pontianak, WN Vietnam Diamankan Diduga Terkait Jaringan Internasional

    • calendar_month Kamis, 27 Agt 2026
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 39
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.CO.ID – Pengungkapan kasus penyelundupan sekitar 3 ton sisik trenggiling di Pelabuhan Tanjung Priok ternyata belum berhenti pada penyitaan barang bukti. Penyidik Gakkum Kehutanan mengembangkan perkara tersebut hingga ke Pontianak, Kalimantan Barat, dan mengamankan seorang warga negara Vietnam berinisial VXH pada 26 Agustus 2026. VXH diamankan setelah penyidik menelusuri informasi mengenai keberadaannya di Indonesia. Langkah […]

  • Alhamdullilah, Khusyuk Ibadah, Jemaah Haji Asal Muba dalam Keadaan Sehat

    Alhamdullilah, Khusyuk Ibadah, Jemaah Haji Asal Muba dalam Keadaan Sehat

    • calendar_month Selasa, 30 Jul 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 815
    • 0Komentar

    MEMASUKI hari ke-10 berada di Mekkah, jemaah hasil asal Kabupaten Musi Banyuasin khusyuk menjalankan ibadah. Tercatat, ada sebanyak 265 jemaah haji asal bumi Serasan Sekate yang tahun ini berkesempatan berkunjung ke rumah Allah. “Meski cuaca cukup panas mencapai hingga 46 derajat, Alhamdulillah jemaah haji asal Muba semuanya dalam keadaan sehat, hanya saja memang ada beberapa yang […]

  • Rumah rakyat ala Ratu Dewa

    Rumah rakyat ala Ratu Dewa

    • calendar_month Minggu, 16 Jun 2024
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.160
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, – Penjabat (Pj) Walikota Palembang Ratu Dewa, menepati janjinya memberikan ruang diskusi dan menjadikan rumah dinasnya sebagai rumah rakyat.   Melalui konsep yang sangat sederhana dengan memberikan ruang tanpa batas antara masyarakat dan pejabat, tentunya hal ini menjadikan trobosan baru sosok Pj Walikota yang ingin mempersembahkan pengetahuan mengenai sejarah rumah dinas Walikota ini.   […]

  • Tinjau Vaksinasi Warga Binaan Lapas Sekayu

    Tinjau Vaksinasi Warga Binaan Lapas Sekayu

    • calendar_month Selasa, 10 Agt 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 918
    • 0Komentar

    BUPATI Dr Dodi Reza Alex Noerdin Lic Econ MBA memastikan sebaran pelaksanaan vaksinasi di Kabupaten Muba disambut antusias oleh masyarakat. Bahkan, Dodi Reza telah melobi Kementerian Bidang Perekonomian untuk meminta  vaksin tambahan dan vaksin jenis AstraZeneca guna kebutuhan warga Muba.  Vaksinasi ini program nasional yang sasarannya seluruh kelompok masyarakat termasuk warga binaan di Lapas Sekayu, […]

  • Apa Benar Pembangunan Aspal Karet di Muba Bisa Tekan Inflasi ? Baca Ini

    Apa Benar Pembangunan Aspal Karet di Muba Bisa Tekan Inflasi ? Baca Ini

    • calendar_month Kamis, 25 Jul 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.049
    • 0Komentar

    INOVASI percepatan pembangunan infrastruktur yang terus dilakukan Bupati Musi Banyuasin (Muba) Dodi Reza Alex Noerdin  sangat efektif menekan angka inflasi di Bumi Serasan Sekate. “Untuk menekan inflasi, kita harus memutus rantai distribusi. Caranya dengan inovasi pembangunan infrastruktur hingga ke pelosok daerah. Langkah ini  meningkatkan sentra-sentra produksi dan dengan sendirinya inflasi dapat turun dan stabil,” ungkap Dodi […]

  • BI Sumsel Musnahkan  6.900 Lembar Uang Palsu

    BI Sumsel Musnahkan 6.900 Lembar Uang Palsu

    • calendar_month Kamis, 10 Okt 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 807
    • 0Komentar

    KANTOR Perwakilan Bank Indonesia [BI] Sumsel menyebutkan sepanjang 2019 sebanyak 6.900 lembar uang palsu ditemukan. Kepala Perwakilan BI Sumatera Selatan, Yunita Resmi Sari, mengatakan uang rupiah palsu tersebut diserahkan oleh perbankan maupun masyarakat langsung kepada bank sentral. “Paling banyak pecahan Rp 100.000 ada 3.662 lembar, kemudian Rp 50.000 sebanyak 2.719 lembar, Rp 20.000 ada 412 lembar, […]

expand_less
WordPress Archive Sativaka – Medical Marijuana Dispensary WordPress Satka – Satellite TV & Internet Provider WordPress Theme Save for Later with WooCommerce Save Julia | Donation & Fundraising Charity WordPress Theme Save products for later, Save & Share WooCommerce Cart Savelife – Charity & Donation WordPress Theme Savoy – Minimalist AJAX WooCommerce Theme Saxon – Viral Content Blog & Magazine Marketing WordPress Theme Saxxy – Music Band & Musician Elementor Template Kit Sayahat – Travel Agency Elementor Template kit