Sabtu, 3 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Perbankan & Keuangan » Petani Hutan Masuk Radar Perbankan

Petani Hutan Masuk Radar Perbankan

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Senin, 1 Sep 2025
  • visibility 748
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

DULU bank cuma sibuk ngurusin orang kota dengan jas licin dan tanda tangan wangi parfum impor, kini giliran petani hutan ikut masuk radar. Ya, setelah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) gandeng Kementerian Kehutanan lewat Nota Kesepahaman terbaru di Bandar Lampung, nasib petani hutan yang biasanya dipandang sebelah mata akhirnya mulai diperhitungkan.

Sederhananya begini: dulu kalau petani hutan mau pinjam modal, alamatnya ke tengkulak atau koperasi kampung yang bunganya bisa bikin kepala pening kayak minum jamu basi. Tapi dengan kerja sama ini, ada peluang bank mulai melirik mereka. Bahasa kerennya perhutanan sosial bisa jadi nasabah prioritas baru.

Bayangkan pertemuan unik: bank yang biasanya sibuk menghitung suku bunga, tiba-tiba masuk hutan yang penuh dengan damar, kopi, dan karet. Perumpamaannya mirip kayak dosen ekonomi yang nyasar ke sawah, lalu kaget karena teori demand-supply bisa langsung dipraktikkan lewat harga singkong.

Petani hutan selama ini dianggap tidak punya agunan. Rumah masih panggung, sawah numpang di pinggir hutan negara, dan jaminan satu-satunya cuma keringat. Nah, lewat MoU ini, jaminan itu bukan lagi sekadar “keringat bau solar”, tapi bisa berubah jadi nilai ekonomi karbon. Pepatah lama bilang, “kalau tak ada rotan, akar pun jadi”. Kini versinya, “Kalau tak ada sertifikat tanah, karbon pun bisa jadi agunan.”

Tentu saja, masyarakat menunggu hasil nyata. Nota kesepahaman (MoU) jangan berhenti di papan bunga ucapan selamat atau di laci pejabat. Petani hutan tak butuh nota panjang, mereka butuh nota kontan hasil panen yang laku keras. Bank memang bisa jadi penyelamat, tapi kalau syarat pinjamannya kayak ujian CPNS pakai meterai, slip gaji, dan KTP yang tak pernah fotokopiannya lurus ya sama saja, ujung-ujungnya balik lagi ke tengkulak.

Namun, kita mesti optimis. Kerja sama OJK dan Kementerian Kehutanan ini ibarat membuka pintu pagar besar menuju hutan peluang. Petani hutan yang biasanya dicap kolot, kini bisa punya akses finansial modern.

Kalau dulu mereka cuma bisa menabung di celengan ayam dari tanah liat, sekarang bisa punya rekening tabungan dengan kartu ATM. Itu pun kalau sinyal internet di kampung masuk, kalau tidak ya ATM tetap jadi singkatan “Asal Tahan Mimpi.”

]Jangan lupa, inti dari kerja sama ini juga memperkenalkan potensi nilai ekonomi karbon. Kalau biasanya petani hutan hanya panen kopi, singkong, atau madu hutan, kini mereka bisa “panen udara bersih”. Ibarat kata, kalau selama ini oksigen cuma kita hirup gratis, ke depan bisa jadi rekening berjalan.

Ini seperti menjual “inhalasi” dengan label halal dan ramah lingkungan. Kedengarannya aneh, tapi begitulah dunia modern. Negara maju rela bayar supaya hutan kita tetap hijau. Jadi, jangan kaget kalau suatu hari petani hutan di Lampung bisa bilang “Saya punya dua komoditas unggulan kopi robusta dan oksigen segar grade A.”

Dalam budaya kita ada pepatah “Sepandai-pandai tupai melompat, sekali waktu jatuh juga”. Begitu juga dengan kebijakan. Sebagus apapun MoU, kalau tidak dijalankan dengan serius, ya jatuhnya cuma jadi mupu-mupu alias perhiasan di dinding kantor.

Maka dari itu, kerja sama ini harus benar-benar mengalir sampai ke akar. Jangan hanya seremonial dengan tenda mewah, seminar nasional, dan pidato berapi-api. Petani hutan butuh pembiayaan nyata, bukan tepuk tangan. Mereka ingin modal untuk beli bibit kopi, mesin pengolah damar, atau sekadar perahu kecil agar bisa angkut hasil panen keluar hutan.

Kalau OJK serius, perbankan serius, dan Kementerian Kehutanan konsisten, maka petani hutan akan naik kelas. Dari yang tadinya cuma jadi “penjaga hutan gratisan”, kini bisa jadi pelaku ekonomi hijau yang punya daya tawar di pasar.

Akhirnya, sinergi OJK dan Kementerian Kehutanan ini harus kita sambut positif. Jangan dilihat hanya sebagai kertas MoU, tapi sebagai peluang emas. Karena pada dasarnya, petani hutan bukan orang yang minta-minta. Mereka pekerja keras yang tahu cara menjaga bumi. Bedanya, selama ini dompet mereka lebih tipis dari daun jati muda.

Dengan akses permodalan lewat bank, ditopang nilai ekonomi karbon, petani hutan bisa berkembang. Bukan hanya dapur mereka yang ngebul, tapi juga ekonomi desa ikut hidup. Dan ingat pepatah Jawa “Sapa nandur, bakal ngundhuh” Barang siapa menanam, dia yang menuai. Kalau petani hutan menanam pohon, menjaga hutan, lalu bank memberi modal, maka hasilnya adalah panen kesejahteraan bersama.

Petani hutan yang dulu hanya jadi penjaga rimba, kini bisa jadi nasabah bank dengan masa depan cerah. Hutan lestari, rakyat mandiri, ekonomi hijau pun bersemi.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • KAI Diminta Percepat Pengerjaan Jalur Ganda

    KAI Diminta Percepat Pengerjaan Jalur Ganda

    • calendar_month Kamis, 18 Mar 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.580
    • 0Komentar

    PEMERINTAH Kabupaten Muara Enim minta kepada  PT. Kereta Api Indonesia (KAI) Persero untuk mempercepat pengerjaan jalur rel ganda double track guna menunjang kapasitas transportasi yang ada di Kabupaten Muara Enim. Dalam Rapat bersama Direksi PT. KAI Divisi Regional (Divre) III Palembang di Ruang Rapat Serasan Sekundang Kantor Bupati Muara Enim, Asisten Perekonomian dan Pembangunan (Perekobang), H. Riswandar, […]

  • Rumah Resiliensi, Wadah Informasi Bencana Dunia

    Rumah Resiliensi, Wadah Informasi Bencana Dunia

    • calendar_month Senin, 23 Mei 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 3.530
    • 0Komentar

    MENTERI Koordinator (Menko) Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Muhadjir Effendy, menyatakan Rumah Resiliensi Indonesia bisa menjadi tempat atau media berdiskusi seluruh lapisan masyarakat mengenai pengalaman penanganan bencana yang terjadi dibelahan dunia. Hal itu disampaikan Menko PMK saat secara resmi membuka Rumah Resiliensi Indonesia di Bali Collection, Nusa Dua, Bali pada Senin (23/5/2022). “Rumah Resiliensi Indonesia […]

  • Sumsel Punya Potensi 66 Ribu Hektare untuk Ekstensifikasi Sawit, 3 Daerah Ini Terbesar

    Sumsel Punya Potensi 66 Ribu Hektare untuk Ekstensifikasi Sawit, 3 Daerah Ini Terbesar

    • calendar_month Rabu, 19 Agt 2026
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 20
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.CO.ID – Ekstensifikasi sawit di Sumsel memiliki potensi lahan mencapai 66.005,65 hektare. Areal tersebut tersebar di sejumlah wilayah dan menjadi bagian dari rencana pengembangan kelapa sawit untuk mendukung ketahanan pangan dan energi nasional. Potensi itu terungkap dalam Rapat Koordinasi Persiapan Ground Check Teknis Ekstensifikasi Lahan Kelapa Sawit yang digelar Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, Rabu (19/8/2026). […]

  • Persahabatan Candradimuka 2020 & Reuni Akbar 1981–2019

    Persahabatan Candradimuka 2020 & Reuni Akbar 1981–2019

    • calendar_month Minggu, 2 Feb 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.206
    • 0Komentar

    ALUMNI yang berasal dari berbagai daerah di Sumsel bahkan adapula yang telah menetap di luar Sumsel ini tampak akrab melepas kerinduan sesama alumni dari berbagai angkatan. Ketua Stisipol Candradimuka Dr Lishapsari MSi mengatakan, saat ini Stisipol Candradimuka sudah menamatkan banyak mahasiswa yang hampir tersebar di seluruh daerah di Indonesia. “Banyak alumni yang sudah sukses di […]

  • Semangati korban kebakaran

    Semangati korban kebakaran

    • calendar_month Kamis, 21 Jul 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 695
    • 0Komentar

    DIDAMPINGI Ketua TP PKK sekaligus Ketua PMI Provinsi Sumsel, Hj. Feby Deru, Gubernur Sumsel H. Herman Deru mengunjungi sekaligus meninjau kondisi korban kebakaran di Batu Ampar, Kelurahan 1 Ilir, Kecamatan Ilir Timur II, Palembang, kemarin. Tak hanya memastikan kondisi warganya, Gubernur Sumsel H.Herman Deru juga datang membawa sejumlah bantuan untuk para korban. Menurut Herman Deru, […]

  • Penganugrahan Satyalancana Karya Satya, ASN Sumsel Diminta Tingkatkan Prestasi Kerja

    Penganugrahan Satyalancana Karya Satya, ASN Sumsel Diminta Tingkatkan Prestasi Kerja

    • calendar_month Selasa, 15 Agt 2017
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.186
    • 0Komentar

    Sebanyak 215 orang Aparatur Sipil Negeri (ASN) dilingkungan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan mendapatkan tanda kehormatan Satyalancana Karya Satya, merupakan penghargaan dari Negara kepada ASN yang telah bekerja dengan kesetiaan, pengabdian, kecakapan, kejujuran dan kedisiplinan secara terus menerus sekurang-kurangnya 10 tahun, 20 tahun dan 30 tahun.

expand_less
WordPress Archive YOORI eCommerce | Single & Multi-Vendor PWA Marketplace CMS Yordy – Directory Listings WordPress Theme Yorn – Music & Video WordPress Theme Yottis | Personal Creative Portfolio WordPress Theme + Store YouContent – Unlimited Unique Content Generator from Youtube Captions Youseo – SEO & Digital Creative Agency Elementor Template Kit YouTube And Vimeo Video Player with Playlist YouTube Feed : User, Channel and Playlist for WordPress YouTube Plugin – WordPress Gallery for YouTube YouTube Plugin – WordPress YouTube Gallery