Sabtu, 5 Sep 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Pendidikan » Digitalisasi Pendidikan, Gadget ke Ekosistem & Konsumsi ke Produksi

Digitalisasi Pendidikan, Gadget ke Ekosistem & Konsumsi ke Produksi

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Jumat, 29 Agt 2025
  • visibility 870
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

DI INDONESIA, urusan pendidikan ibarat memasak sayur asem di dapur rumah nenek, bahan-bahannya banyak, bumbunya harus lengkap, dan jangan salah takar, kalau tidak rasanya jadi aneh. Begitu juga dengan digitalisasi pendidikan, kalau cuma bagi-bagi alat canggih macam papan interaktif, laptop, atau yang disebut Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Atip Latipulhayat sebagai “TV jumbo”, ya ibarat kasih kompor gas tanpa kasih tabungnya, ujung-ujungnya cuma jadi pajangan.

Mari mulai dengan cerita sederhana misalnya di sebuah sekolah dasar di kampung, datanglah bantuan laptop dan papan interaktif kinclong. Anak-anak terpukau, guru-guru berdecak, kepala sekolah langsung selfie sambil caption, “Sekolah kami sudah digital!”. Tapi, minggu berikutnya papan interaktif itu berubah fungsi jadi papan tulis manual, ditempeli kertas pengumuman jadwal piket kelas. Laptopnya? Disimpan rapi di lemari, dipakai kalau ada tamu dari dinas. Nah, ini dia yang sering luput digitalisasi bukan soal alat, melainkan soal ekosistem.

Atip Latipulhayat sudah menekankan, guru tetap aktor utama, tapi  jujur, tidak sedikit guru kita yang masih lebih akrab dengan kapur tulis ketimbang layar sentuh, ya kan !. Pepatah Jawa bilang, “Jer basuki mawa bea”-  keberhasilan butuh biaya, nah, dalam hal ini biaya bukan cuma rupiah, tapi juga investasi waktu dan tenaga buat melatih guru agar bisa mengoperasikan teknologi, bukan cuma jadi penonton.

Kalau digitalisasi ini diibaratkan pertunjukan wayang, maka gurulah dalangnya. Tanpa dalang, gamelan boleh saja berdentum, tapi lakon tidak jalan. Laptop dan papan interaktif hanya sebatas gong dan kendang, percuma megah kalau dalangnya bingung menabuh.

Digitalisasi sebenarnya jangan hanya menjadikan anak-anak kita konsumen konten global, sebaliknya jadi produsen konten lokal. Bayangkan kalau setiap papan interaktif diisi video animasi buatan guru Indonesia, cerita rakyat Nusantara dalam bentuk interaktif, atau simulasi sains dengan bahasa gaul khas anak-anak kita, wah itu baru namanya digitalisasi yang berdaulat.

Kalau tidak, jangan heran kalau nanti anak PAUD lebih hafal nama karakter kartun Jepang ketimbang tokoh nasional. Sungguh ironis kalau “TV jumbo” di kelas hanya jadi layar buat memutar YouTube dari luar negeri, bukankah lebih baik kalau teknologi itu kita isi dengan karya kita sendiri?

Contoh paling sering disebut tentunya di Finlandia, negeri sauna ini sukses dengan digitalisasi bukan karena banyak gadget, tapi karena kurikulumnya lentur, guru dilatih serius, dan murid didorong untuk kolaborasi. Jadi papan interaktif di sana bukan sekadar layar, melainkan bagian dari budaya belajar yang sudah disiapkan. Indonesia bisa meniru semangatnya alat hanyalah pendukung, manusianya yang utama.

Lalu ada Korea Selatan, negeri K-Pop yang juga K-EdTech, di sana, pemerintah gencar investasi konten digital pendidikan lokal. Bukan cuma bikin platform, tapi memastikan guru bisa produksi bahan ajar berbasis video dan animasi. Hasilnya? Murid-murid di pelosok Korea bisa belajar matematika dengan gaya ala webtoon. Nah, kita di Indonesia jangan sampai cuma jadi penonton drama Korea, tapi juga belajar dari caranya bikin pendidikan “ramah layar”.

Contoh lain datang dari India, meski tantangannya jauh lebih berat, karena populasi besar dan kesenjangan digital tinggi, mereka berani meluncurkan platform DIKSHA (Digital Infrastructure for Knowledge Sharing). Bayangkan, jutaan guru dan murid bisa akses konten pendidikan gratis lewat aplikasi. Ini bukti kalau digitalisasi bisa jadi solusi merata, asal ada komitmen membangun ekosistem, bukan hanya gadget.

Dan jangan lupa Singapura tetangga kita dekat Sumatera ini merupakan  negeri mungil  tapi terkenal, karena setiap kebijakan digitalisasinya selalu diikuti dengan teacher training ketat. Jadi jangan heran kalau papan interaktif di sana benar-benar interaktif, bukan sekadar papan pajangan, mereka paham pepatah modern “The best app is still a well-prepared teacher”.

Resiko serius

Tapi mari jangan terlalu berbunga-bunga, di balik semua gemerlap digitalisasi, ada risiko serius kecanduan digital. Anak-anak PAUD gampang sekali terpesona dengan layar, kalau tak diawasi, papan interaktif bisa jadi pintu masuk candu visual, bukan jendela ilmu. Ini sama saja seperti kasih anak pisau dapur, kalau diajarkan, bisa jadi chef handal, kalau dibiarkan, bisa celaka.

Artinya, setiap perangkat digital harus diiringi dengan pengawasan guru, lagi-lagi, guru bukan tergantikan, justru semakin dibutuhkan.

Direktur PAUD, Nia Nurhasanah, sudah menyusun strategi bimtek bagi 64 ribu lebih satuan PAUD yang akan menerima perangkat digital tahun 2025. Angka ini terdengar gagah, tapi jangan lupa membangun ekosistem digital itu seperti lari maraton, bukan sprint 100 meter. Tidak bisa sekadar kirim perangkat hari ini, lalu besok berharap anak-anak langsung cerdas digital.

Perlu kesinambungan antara  bimtek, pendampingan, kurikulum yang adaptif, dan juga kolaborasi dengan industri kreatif. Kalau tidak, papan interaktif itu nasibnya sama seperti monorel Palembang, niatnya keren, ujung-ujungnya jadi cerita lucu buat bahan stand-up comedy.

Ada pepatah bijak, “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari” . Dalam konteks digitalisasi, kalau gurunya saja bingung buka Zoom atau salah klik saat presentasi, jangan harap muridnya bisa belajar dengan baik, karena itu, literasi digital guru adalah kunci, bahkan bisa ditambahkan pepatah baru “Guru melek digital, murid kreatif global”

Digitalisasi pendidikan tidak boleh berhenti pada seremoni pembagian perangkat, kita butuh ekosistem, yakni kurikulum yang mendukung, guru yang siap, konten lokal yang relevan, serta perlindungan anak dari candu digital, seperti menanam padi, jangan hanya sibuk dengan cangkulnya, tapi lupa merawat sawahnya.

Oleh sebab itu, maka teknologi hanyalah alat, guru tetaplah pelita, dan digitalisasi hanya bermakna bila mengubah dari sekadar konsumsi menjadi produksi, dari sekadar gadget menjadi ekosistem.

Kalau itu bisa kita jalankan, barulah mimpi mencerdaskan kehidupan bangsa lewat digitalisasi bukan hanya jargon, tapi kenyataan, dan papan interaktif tidak akan lagi jadi papan pengumuman, tapi betul-betul jadi jendela dunia.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kurikulum Merdeka : Kesiapan Guru Masih Dipertanyakan

    Kurikulum Merdeka : Kesiapan Guru Masih Dipertanyakan

    • calendar_month Minggu, 26 Feb 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 838
    • 0Komentar

    MASA pandemi membuat seluruh tatanan kehidupan termasuk pendidikan menjadi tidak stabil. Sebagai langkah menanggulangi hal tersebut pemerintah memiliki inisiatif untuk melakukan penyesuaian terhadap pelaksanaan kegiatan pembelajaran yaitu dengan mengeluarkan kebijakan baru yang dibranding dengan nama Kurikulum Merdeka yaitu kurikulum yang capaian pembelajarannya disederhanakan serta menekankan pada penguatan profil pelajar pancasila. Pelaksanaan kurikulum merdeka ini membawa konsep […]

  • Persiapan PTM, Vaksinasi Pelajar Terus Dilakukan secara Masif

    Persiapan PTM, Vaksinasi Pelajar Terus Dilakukan secara Masif

    • calendar_month Selasa, 31 Agt 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 784
    • 0Komentar

    PRESIDEN RI Joko Widodo (Jokowi) menginstruksikan seluruh jajarannya melakukan vaksinasi secara masif di berbagai pelosok tanah air. Untuk mendukung persiapan pembelajaran tatap muka (PTM) yang akan segera digelar pada September 2021. Program vaksinasi secara masif ini, diutamakan untuk daerah-daerah dengan angka penularan kasus COVID-19 yang tinggi. “Saya juga sudah perintahkan agar kegiatan vaksinasi bagi pelajar […]

  • Hadiah Spesial dari TNI AU, Pemkot Palembang Resmi Terima Hibah Tanah

    Hadiah Spesial dari TNI AU, Pemkot Palembang Resmi Terima Hibah Tanah

    • calendar_month Kamis, 20 Mar 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.168
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, – Ada kabar kece buat warga Palembang! Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang resmi mendapat hibah tanah seluas 650 meter persegi dari TNI Angkatan Udara melalui Lanud Sri Mulyono Herlambang. Serah terima hibah ini digelar di Lanud Sri Mulyono Herlambang, Rabu (19/3) sore, dan langsung diterima oleh Wali Kota Palembang, Ratu Dewa. Pak Wali, yang datang […]

  • Kalo’ Mau Sukses, ASN Harus Punya Personal Branding, Bupati Dodi Kasih Wejangan Ini, Contohnya Majukan Daerah Harus Punya Branding Juga, Orang Kalo Tau Aspal Karet, Mikirnya Pasti Muba, Tapi Itu Butuh Proses ! Helmi Yahya “Jangan Setengah-setengah,” Tips- nya 3 C, Apa Itu ?

    Kalo’ Mau Sukses, ASN Harus Punya Personal Branding, Bupati Dodi Kasih Wejangan Ini, Contohnya Majukan Daerah Harus Punya Branding Juga, Orang Kalo Tau Aspal Karet, Mikirnya Pasti Muba, Tapi Itu Butuh Proses ! Helmi Yahya “Jangan Setengah-setengah,” Tips- nya 3 C, Apa Itu ?

    • calendar_month Selasa, 29 Jun 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.854
    • 0Komentar

    PERSONAL  Branding dibutuhkan bagi seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) agar bisa sukses di bidangnya. Penegasan ini diungkapkan Bupati Musi Banyuasin (Muba) Dr H Dodi Reza Alex Noerdin saat membuka Workshop Personal Branding dan Kreatifitas ASN di Opproom Pemkab Muba, digelar BKPSDM Muba, Selasa (29/6/2021). Bupati Dodi Reza menyebutkan, personal branding adalah sebuah atribut personal artinya […]

  • Kenali Nusantara, Pelindo II Ajak 20 Siswa Berprestasi di Sumsel Berangkat ke Palangkaraya  

    Kenali Nusantara, Pelindo II Ajak 20 Siswa Berprestasi di Sumsel Berangkat ke Palangkaraya  

    • calendar_month Sabtu, 10 Agt 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.454
    • 0Komentar

      SEDIKITNYA 20 siswa/i berprestasi di Provinsi Sumatera Selatan dipilih untuk mengikuti ‘Program Siswa Mengenal Nusantara tahun 2019’ yang diselenggarakan Pelindo II/IPC. Acara ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan BUMN Hadir Untuk Negeri 2019. General Manager IPC Palembang, Agus Edi Santoso, Jumat, mengatakan 20 siswa/i tersebut telah melalui seleksi ketat diantaranya Tes Potensi Akademik, tes […]

  • Resmi! Tiket Indonesia vs Tiongkok Dijual Kamis15 Mei via Livin Mandiri, Cek Harganya!

    Resmi! Tiket Indonesia vs Tiongkok Dijual Kamis15 Mei via Livin Mandiri, Cek Harganya!

    • calendar_month Kamis, 15 Mei 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.394
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, – Kamis hari ini, Stadion Utama Gelora Bung Karno bakal bergetar, bukan karena gempa, tapi karena duel panas antara Garuda Muda dan Tembok Besar. Tapi sebelum bicara taktik dan tendangan, mari kita bahas yang lebih krusial dan penuh perjuangan tiketnya. Mulai besok, Kamis (15 Mei) pukul 10.00 WIB, rakyat sepak bola Indonesia akan beradu […]

expand_less
WordPress Archive StoryBlog – WordPress Theme for Story Tellers StoryHub – Multipurpose WordPress Elementor Blog Theme STRACK Biz Elementor Template Kit Stractura – Construction Elementor Template Kit Stradale – Cafe & Restaurant WordPress Theme Strata – Professional Multi-Purpose Theme Stratum Pro – Elementor Widgets Streamit – Live Video Streaming Player WordPress Plugin Streamit - Video Streaming WordPress Theme + RTL StreamVid - Video Streaming WordPress Theme