Senin, 28 Sep 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kesehatan » Patogen Lebih Ngeri dari Peluru, Perang Abad ke-21 Tak Terlihat

Patogen Lebih Ngeri dari Peluru, Perang Abad ke-21 Tak Terlihat

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Kamis, 21 Agt 2025
  • visibility 841
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

KALAU dulu orang takut sama peluru nyasar, zaman sekarang lebih serem sama bersin nyasar. Iya, bayangin lagi makan bakso di pinggir jalan, tiba-tiba ada bapak di meja sebelah “Haaaciiiim!”. Nah, itu lebih bikin jantung copot dibanding denger suara letusan petasan. Karena peluru bisa dilihat ujungnya, tapi virus?. Bisa nongkrong santai di gagang pintu, nemplok di uang receh, atau nyelip di gorengan bala-bala yang dibeli sore-sore.

Inilah yang lagi disorot Menkes Budi Gunadi Sadikin, katanya ancaman biosecurity itu jauh lebih bahaya dari perang militer. Lah iya, peluru paling kena satu-dua orang. Virus? bisa nyebar satu RT sekalian, bonusnya bikin Puskesmas penuh kayak konser dangdut gratisan.

Perang zaman dulu jelas musuhnya ada seragam, ada tank, ada meriam, kalau udah ketemu, tinggal “dor-doran” aja. Tapi perang abad ke-21? musuhnya tak kelihatan, lha, gimana mau ditembak kalau bentuknya aja mikroskopis?

Analoginya begini kalau maling kampung masih bisa ketahuan dari sandal jepit yang ditinggal di teras, virus nggak ninggalin jejak sama sekali. Tiba-tiba batuk, demam, lalu… satu keluarga masuk isolasi, kayak maling plus ninja datang diam-diam, pergi ninggalin jejak sial.

Menkes sampai cerita, di Perang Dunia II, banyak tentara mati bukan karena peluru, tapi karena penyakit, jadi bukan cuma pelor yang bikin roboh, tapi juga patogen kecil yang licin, pepatah lama bilang, “Kalah perang bisa bangkit, kalah imun langsung tumbang”

COVID-19 kemarin itu ibarat gladi resik perang dunia gaya baru, negara-negara yang biasanya adu kuat rudal, tiba-tiba kelabakan nyari masker. Yang biasa pamer jet tempur, malah rebutan oksigen, misalnya, negara adidaya pun bisa gemetaran gara-gara makhluk yang nggak kelihatan ini.

Di Indonesia sendiri, vaksinasi awalnya kayak drama sinetron, episode panjang, naiknya rating nggak cepat-cepat, baru setelah TNI dan lintas sektor turun tangan, angka vaksinasi meroket. Jadi jangan remehkan pasukan bersepatu bot kalau sudah pegang suntikan, dari baris-berbaris, langsung baris antre vaksin.

Pandemi ngajarin satu hal penting, perang abad 21 bukan soal siapa yang punya tank paling besar, tapi siapa yang punya stok masker medis dan tabung oksigen paling banyak.

Coba bandingkan, peluru bunyinya keras, orang tahu kapan harus tiarap, sementara virus datang diam-diam, nyebar tanpa suara. Peluru bisa ditembak balik, sedangkan  virus? nggak bisa ditembak pakai senapan angin apalagi ketapel.

Kalau peluru nyasar kena kaki, bisa dioperasi, kalau virus nyasar ke tubuh, obatnya bisa bikin kantong bolong. Jadi jelas, patogen itu kayak mantan yang masih punya akses WA tengah malam, nggak kelihatan tapi bikin hidup susah tidur.

Menkes juga ngingetin, Indonesia ini negara paket komplit, selain rawan virus, juga langganan bencana banjir, longsor, gempa, sampai gunung meletus, kalau bencana datang, ancaman kesehatan ikut numpang lewat.

Itulah kenapa TNI dan Kemenkes bikin Emergency Medical Team, semacam Avengers tapi versi medis. Bedanya, mereka nggak pake jubah terbang, tapi APD lengkap, misalnya ada gempa, EMT ini langsung turun kayak Spiderman turun dari gedung. Bedanya, mereka nggak bawa jaring, tapi bawa kotak P3K dan ventilator.

Di era global, siapa yang bisa bikin vaksin dan obat sendiri, dialah penguasa dunia, kalau dulu rebutan minyak dan emas, sekarang rebutan formula vaksin. Soft power bangsa ke depan ya kesehatan. Negara yang rakyatnya sehat, ekonominya kuat, imunnya kebal, bisa nyanyi lagu kebangsaan dengan suara lantang tanpa terganggu batuk pilek.

Pepatah baru mungkin harus kita bikin “Sehat pangkal kuat, kuat pangkal berdaulat”.

Intinya, perang abad ke-21 ini bukan cuma urusan militer, virus, bakteri, mutasi penyakit, dan bencana adalah musuh tak kasat mata yang lebih berbahaya dari peluru. Makanya, pertahanan biosecurity harus jadi bagian dari strategi nasional.

Kalau tentara jaga perbatasan, tenaga kesehatan jaga tubuh bangsa. Kalau tentara siap perang pakai senjata, kita rakyat juga harus siap perang pakai sabun cuci tangan, masker, vaksin, dan pola hidup sehat, jangan sampai kalah perang gara-gara males cuci tangan, itu mah konyol.

Patogen memang lebih ngeri dari peluru, peluru hanya melukai tubuh, tapi virus bisa melumpuhkan bangsa, oleh karena itu pemerintah wajib serius bikin sistem biosecurity nasional yang kuat,  TNI dan tenaga kesehatan harus terus jadi duet maut kombinasi tentara dan dokter itu paket komplet dan rakyat juga harus disiplin, jangan bandel. Ingat, lawan musuh tak terlihat butuh kebersamaan.

Oleh karena itu,  jangan tunggu sirene perang baru sadar, sirene bersin dan batuk itu sudah alarm perang yang paling nyata. Kalau perang militer bisa dimenangkan dengan peluru, perang abad ke-21 cuma bisa dimenangkan dengan kesadaran, kebersamaan, dan gaya hidup sehat.

Karena sekali lagi, virus itu kecil, tapi efeknya bisa bikin dunia megap-megap. Ingat pepatah baru “Lebih baik kalah debat di warung kopi daripada kalah imun di rumah sakit.”.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Penyederhanaan Birokrasi, Sekda Nasrun Umar Hadiri Rakor di Kementerian PANRB

    Penyederhanaan Birokrasi, Sekda Nasrun Umar Hadiri Rakor di Kementerian PANRB

    • calendar_month Kamis, 16 Jan 2020
    • account_circle Yosep Indra Praja
    • visibility 867
    • 0Komentar

    SEKRETARIS Daerah Sumatera Selatan H Nasrun Umar menghadiri langsung rapat koordinasi Penyederhanaan Birokrasi Pemerintah Daerah di Birawa Assembly Hall Jakarta, Kamis (26/12). Rapat yang digelar Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Tjahjo Kumolo untuk Meneruskan arahan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo. Rapat koordinasi ini dilakukan untuk memberikan pengarahan teknis bagi Sekretaris Daerah Provinsi […]

  • Lanjutan Pembangunan Jembatan di Rantau Bayur

    Lanjutan Pembangunan Jembatan di Rantau Bayur

    • calendar_month Minggu, 4 Okt 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.453
    • 0Komentar

    GUBERNUR Sumatera Selatan (Sumsel) H Herman Deru akhirnya  melanjutkan penyelesaian pembangunan jembatan yang terletak di Desa Tebing Abang Kecamatan Rantau Bayur Kabupaten Banyuasin. Jembatan yang mangkrak pembangunannya sejak tahun 2007 lalu itu diharapkan dapat  menjadi jalan alternatif penghubung Kabupaten Banyuasin dan Kabupaten Muara Enim. Gubernur Herman Deru saat melakukan Ground Breaking lanjutan pembangunan jembatan di […]

  • Kembali di Zona Merah, Prokes di Palembang Belum Berjalan Sepenuhnya

    Kembali di Zona Merah, Prokes di Palembang Belum Berjalan Sepenuhnya

    • calendar_month Sabtu, 25 Jul 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 852
    • 0Komentar

    KOTA Palembang kembali ke zona merah dari sebelumnya berada di zona orange terkait masih meningkatnya angka penyebaran covid 19. Walikota Palembang H Harnojoyo memaparkan hasil rapat Conference (Vidcon) Via Aplikasi Zoom Cloud Meeting bersama Panglima TNI dan Kapolri tersebut masih menekankan masalah protokol kesehatan yang harus benar-benar diterapkan dan dijalankan khususnya di kota Palembang, kemarin. TNI […]

  • Jelang Ramadan, Palembang Siap Rapat Distributor Amankan Stok

    Jelang Ramadan, Palembang Siap Rapat Distributor Amankan Stok

    • calendar_month Sabtu, 14 Feb 2026
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 126
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id,- Menjelang Bulan Suci Ramadan 1447 H, Pemerintah Kota Palembang memperkuat langkah antisipatif untuk menjaga ketersediaan bahan pokok dan stabilitas harga. Wali Kota Ratu Dewa menegaskan, pihaknya akan segera menggelar rapat dengan distributor untuk mengantisipasi lonjakan harga mendadak dan memastikan pasokan tetap lancar hingga ke pasar tradisional. Rapat ini menjadi bagian dari strategi proaktif pemerintah […]

  • Angka Kemiskinan  Cenderung Turun, Bappeda Sumsel : Selaras dengan Program Banyuasin Bangkit, Adil & Sejahtera 

    Angka Kemiskinan  Cenderung Turun, Bappeda Sumsel : Selaras dengan Program Banyuasin Bangkit, Adil & Sejahtera 

    • calendar_month Kamis, 8 Apr 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.684
    • 0Komentar

      ANGKA Kemiskinan di Banyuasin turun 2,55% dari Tahun 2009-2020 disampaikan oleh Bupati Banyuasin, H. Askolani, SH., MH dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Daerah (Murembang) perubahan RPJMD Tahun 2018-2023 dan RKPD Kabupaten Banyuasin Tahun 2022 berlangsung di Pendopoan Rumah Dinas Kabupaten Banyuasin, Kamis (8/4/21). Dalam Kesempatan ini juga dihadiri oleh Kepala Bappeda Provinsi Sumatera Selatan, Dr. […]

  • Beli Beras Petani Lalan, Kuyung Daniel Borong Beras Satu Ton untuk Pasien Isoman di Muba

    Beli Beras Petani Lalan, Kuyung Daniel Borong Beras Satu Ton untuk Pasien Isoman di Muba

    • calendar_month Rabu, 28 Jul 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 807
    • 0Komentar

    KEPEDULIAN Bupati Dr Dodi Reza Alex Noerdin Lic Econ MBA terhadap pasien Isoman dan warga terdampak COVID-19 Muba menginspirasi banyak pihak. Setelah beberapa waktu lalu trending topik pengusaha Aceh menggelontorkan uang sebesar Rp2 Triliyun untuk bantuan ke Sumsel yang diberikan ke Kapolda. Kini giliran Tokoh Pemuda di Bayung Lencir asal Desa Tampang Baru Muba Daniel […]

expand_less
WordPress Archive Speedy Car Game with AdMob and Leaderboard Spheral – Creative Agency & Portfolio WordPress Theme Spice – Beauty & Hair Salon WordPress Theme SpiceDine – WordPress Theme For Hotels & Restaurants Spider Spin2Win WooCommerce Coupon Code Spin Popup for WooCommerce – Spinio Spinzy - Laundry & Fresh Clothing Elementor Template Kit Spirits – Liquor Shop & Wine Store WordPress Theme Splash Sport – WordPress Sports Theme for Basketball, Football, Soccer and Baseball Clubs sPlayer – Sticky Audio Player With Playlist