Sabtu, 10 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » SUMSELGLOBAL » CATATAN PINGGIR : “Perubahan Muba, Saatnya Kata Kerja, Bukan Hanya Kata Benda!”

CATATAN PINGGIR : “Perubahan Muba, Saatnya Kata Kerja, Bukan Hanya Kata Benda!”

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Rabu, 13 Agt 2025
  • visibility 786
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

DI MUBA, kata “perubahan” sudah sering mampir di telinga warga, mulai dari spanduk, baliho, pidato resmi, sampai obrolan di warung kopi, semua bisa membicarakannya. Masalahnya, kadang “perubahan” itu hanya berhenti di papan reklame, seperti papan menu di rumah makan Padang banyak pilihan, tapi yang keluar dari dapur belum tentu sesuai gambar.

Perubahan sejati itu bukan sekadar kata benda yang manis diucapkan, tapi kata kerja yang bergerak, menendang, dan terasa di kehidupan sehari-hari. Membaca rilis Kominfo Muba tentang rapat para camat untuk percepatan pembangunan, saya jadi teringat pepatah Bugis “Taro ada taro gau”, kalau berkata, ya.. lakukan, karena janji tanpa aksi itu, seperti perahu tanpa dayung kelihatannya siap berlayar, tapi cuma melayang di tempat.

Kalau mau jujur, perubahan di Muba mestinya menyentuh empat sektor penting, bukan karena saya sok tahu, tapi karena inilah yang paling dirindukan warga dari Sungai Musi sampai kebun sawit ujung desa, misalnya infrastruktur yang tidak hanya instagramable, maksudnya jalan antar desa jangan cuma mulus saat mau difoto pejabat, lalu sebulan kemudian penuh lubang, seperti roti bolu.

Lihat Banyuwangi mereka membangun jalan kampung pakai beton bermutu tinggi, dan warga ikut terlibat merawatnya. Data Bappeda Banyuwangi (2022) menyebutkan biaya perbaikan turun 40% dalam lima tahun. Artinya, kalau dikerjakan serius, infrastruktur bisa awet, bukan proyek tahunan.

Ekonomi kerakyatan yang hidup, artinya lapangan kerja di Muba harus tumbuh, bukan cuma dibicarakan. Misalnya Kulon Progo, DIY, memberi contoh lewat program Bela Beli Kulon Progo. Pemerintahnya mewajibkan belanja produk lokal untuk proyek daerah. Hasilnya? UMKM naik kelas, pengangguran turun (Gunawan Sumodiningrat, Ekonomi Gotong Royong, 2019).

Kalau Muba mau, model ini bisa diadopsi, mulai dari pengadaan seragam sekolah buatan lokal sampai pengolahan hasil perkebunan di dalam daerah.

Lingkungan yang dirawat, bukan dieksploitasi, maksudnya Sungai Musi bukan cuma jalur transportasi dan sumber air, tapi juga identitas. Tapi kalau terus dikeruk pasirnya tanpa kendali, identitas itu bisa hanyut.

Lebih jauh lagi bisa belajar dari Korea Selatan yang punya cerita sukses Sungai Cheonggyecheon dulu kumuh, kini jadi taman kota yang mendongkrak nilai tanah 30% (Seoul Metropolitan Government, Urban Regeneration in Seoul, 2015).

Kalau mereka bisa, Muba pun mestinya mampu, seperti pelayanan publik yang ramah dan cepat, 
Kantor camat. Singapura punya One Service App, warga lapor lampu jalan mati atau sampah menumpuk, langsung direspon cepat.

Laporan Singapore Civil Service (2021) menyebut tingkat kepuasan publik tembus 90%. Di Muba, konsep sederhana ini bisa diterapkan bahkan dengan grup WhatsApp khusus tiap desa.

Sering kali kita jago bikin rencana, tapi lemah di eksekusi, sama seperti pemain bola yang dribbling cantik, tapi lupa menendang ke gawang. Rapat demi rapat penting, tapi kalau hasilnya cuma tumpukan kertas “usulan”, ya sama saja kita menulis surat cinta lalu disimpan di laci, tidak pernah dikirim.

John C. Maxwell dalam Leadership Gold (2008) bilang, “Perubahan tidak datang dari niat baik saja. Ia lahir dari keberanian mengeksekusi niat itu secara konsisten.” Ini pelajaran mahal yang seharusnya dipegang semua pemangku kebijakan Muba.

Punya tanggunjawab

Mari kita jujur sedikit, jangan sampai program percepatan pembangunan ini bernasib, seperti acara arisan ramai di awal, sepi di tengah, ribut di akhir. Warga sekarang tidak lagi puas dengan slogan manis. Mereka mau bukti yang bisa disentuh, dilihat, dan dirasakan.

Kalau mau belajar, lihat Surabaya di masa Tri Rismaharini dari taman kota, layanan publik, sampai drainase, semua dibenahi. Hasilnya, kota itu jadi rujukan Nasional, dan bukan karena spanduk raksasa, tapi karena perubahan terasa di sendi kehidupan warganya.

Perubahan yang sehat itu seperti menanam pohon, kita tidak bisa berharap panen mangga besok pagi kalau baru menanam bibit semalam. Ada proses, ada perawatan, dan ada ketelatenan. Pepatah Minang bilang, “Kalau ingin menebang pohon, asahlah parang sampai tajam. Jangan cuma bicara panjang”

Jadi, di Muba Infrastruktur harus dibangun merata, bukan hanya di jalur strategis politik. Ekonomi diarahkan untuk memperkuat kantong warga, bukan kantong segelintir orang. Lingkungan dijaga seperti menjaga warisan nenek moyang. Pelayanan publik diubah dari “sekadar prosedur” menjadi “pengalaman yang menyenangkan”.

Solusinya, bentuk tim monitoring independen di setiap kecamatan untuk memastikan proyek berjalan sesuai janji. Libatkan komunitas dan LSM lokal dalam pengawasan anggaran. Adakan open house pelayanan publik setahun dua kali, biar warga bisa menyampaikan kritik dan saran langsung dan terapkan sistem pelaporan cepat (aplikasi, hotline, atau grup WA resmi) untuk masalah infrastruktur dan layanan.

Perubahan di Muba tidak boleh berhenti di kata-kata, ia harus menjadi kata kerja yang berjalan di jalan desa, mengalir di Sungai Musi yang bersih, dan hidup di pasar yang riuh tapi tertata.

Kita semua, dari warga biasa sampai pejabat, punya tanggung jawab menyalakan api perubahan itu, karena perubahan sejati bukan datang dari baliho atau podium, tapi dari kerja nyata yang dirasakan rakyat.

Sampai hari itu tiba, kita hanya bisa mengingatkan jangan biarkan “perubahan” menjadi etalase. Jadikan ia gerak yang nyata, meninggalkan jejak, dan membentuk masa depan Muba yang benar-benar berbeda dari masa lalunya.

Semua berharap lima tahun ke depan Muba benar-benar berubah, bukan hanya berubah di brosur atau spanduk. Lima tahun itu cukup untuk melihat jalan yang tadinya bergelombang jadi mulus, pasar yang tadinya becek jadi rapi, sungai yang tadinya keruh jadi jernih, dan warga yang tadinya mengeluh jadi tersenyum.

Semoga asa ini bukan mimpi kosong, asal setiap janji diterjemahkan jadi kerja, dan setiap kerja dijalankan dengan hati. Kalau lima tahun ini terpakai dengan bijak, kita tidak perlu lagi menunggu “perubahan” di masa depan karena ia sudah hadir, hidup, dan dirasakan setiap hari di tanah Muba tercinta. [***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Hijab, Transportasi & Ketekunan Seorang Maharani: “Bisnis Itu Serius, Tapi Dimulai dengan Mimpi”

    Hijab, Transportasi & Ketekunan Seorang Maharani: “Bisnis Itu Serius, Tapi Dimulai dengan Mimpi”

    • calendar_month Kamis, 10 Jul 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.528
    • 0Komentar

    R.A. KARTINI  dulu memperjuangkan hak perempuan lewat tulisan dan pemikiran, kini para Kartini muda era saat ini mewujudkan semangat itu lewat dunia usaha. Mereka tidak lagi sekadar berdiri di balik layar, tapi justru jadi sutradara utama mengatur jalan cerita bisnis dengan tangan sendiri. Salah satunya adalah R Maharani Ayu Diningrum, perempuan muda dari Bekasi yang […]

  • Seri Pembuka,  Indonesia Ikut Finish Terdepan di MotoGP 2022 Seri Qatar

    Seri Pembuka, Indonesia Ikut Finish Terdepan di MotoGP 2022 Seri Qatar

    • calendar_month Senin, 7 Mar 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.538
    • 0Komentar

    INDONESIA turut finish terdepan di gelaran MotoGP seri pembuka musim 2022 di Sirkuit Internasional Losail, Qatar. Sejumlah merek produk Indonesia yang ikut mendukung pembalap dari tim Gresini Racing, Enea Bastianini, terpampang setelah ia muncul sebagai juara l, mendahului pembalap lainnya. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno, melalui siaran persnya di […]

  • Pj Bupati OKI ajak warga ikut didata untuk Pilkada

    Pj Bupati OKI ajak warga ikut didata untuk Pilkada

    • calendar_month Jumat, 12 Jul 2024
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.028
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, -Pj. Bupati OKI Asmar Wijaya mengatakan, coklit merupakan bagian dari tahapan Pemilu 2024, sehingga semua pemilih bisa turut menyukseskannya. Petugas Pemutakhiran Data Pemilih (Pantarlih) Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) mengunjungi rumah dinas Bupati OKI di pendopoan, Kamis (11/7/2024). Kunjungan tersebut untuk pencocokan dan penelitian (coklit) data pemilih jelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) tahun 2024. […]

  • Pandemi, PMI Muba Gencar Lakukan Ini

    Pandemi, PMI Muba Gencar Lakukan Ini

    • calendar_month Kamis, 19 Nov 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.181
    • 0Komentar

    MESKI masih dihadapkan pada pandemi COVID-19, namun aksi kemanusiaan yang dilakukan Palang Merah Indonesia (PMI) Musi Banyuasin dibawah kepemimpinan Beni Hernedi SIP yang juga Wakil Bupati Muba terus gencar dilakukan. Beberapa waktu lalu PMI Muba yang langsung dipimpin Ketua PMI Muba Beni Hernedi menghabiskan waktu selama 3 hari menyusuri DAS sungai /anak anak Sungai Lalan […]

  • Reaksi JCH Muba setelah diberi Apriyadi uang saku 300 Riyal

    Reaksi JCH Muba setelah diberi Apriyadi uang saku 300 Riyal

    • calendar_month Senin, 13 Mei 2024
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.067
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, – Sebanyak 270 Jemaah Calon Haji (JCH) asal Kabupaten Musi Banyuasin senyum sumringah bahagia, Jumat (10/5/2024) di Hotel Gambo & Residence Sekayu. Pasalnya, di sela pelepasan oleh Pj Bupati Sandi Fahlepi bersama Sekda Apriyadi Mahmud ratusan JCH tersebut mendapatkan uang saku tambahan langsung dari Sekda Apriyadi Mahmud. Tak tanggung-tanggung, Sekda Apriyadi merogoh kocek pribadi […]

  • Eksportir RI Antusias Pasarkan Produknya di Benua Afrika

    Eksportir RI Antusias Pasarkan Produknya di Benua Afrika

    • calendar_month Senin, 11 Okt 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.298
    • 0Komentar

    CAFE TOWN, Afrika Selatan – Dukung program nasional “Indonesia Spice Up the World”, KJRI Cape Town turut serta dalam webinar “Program Pelatihan Terpadu UKM Pangan Olahan Go Export” (08/10/2021). Konsul Jenderal RI di Cape Town, Mohamad Siradj Parwito, menjadi narasumber pada kegiatan yang dihadiri oleh para pelaku UKM pangan olahan, Gabungan Asosiasi Pengusaha Makanan dan Minuman […]

expand_less
WordPress Archive GoLock - Locksmith & Key Maker Service Elementor Pro Template Kit Gomedic – Medical Elementor Template Kit Gomo – Moving Company Elementor Template Kit Gon - Responsive Multi-Purpose WordPress Theme Gontli – Interior Multipurpose Template Kit Good Energy – Ecology & Renewable Power Company WordPress Theme Good Mood – Wine Shop WordPress Theme Good Tailor – Fashion & Tailoring Services WordPress Theme GoodLife – Magazine & Newspaper WordPress Theme Goodman – Creative Portofolio Elementor Template Kit