Senin, 28 Sep 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » SUMSELGLOBAL » Dari Palembang ke Planet Hukum, Posbankum Bukan Cuma Tempat Ngadu, Tapi Tempat Paham Juga

Dari Palembang ke Planet Hukum, Posbankum Bukan Cuma Tempat Ngadu, Tapi Tempat Paham Juga

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Rabu, 23 Jul 2025
  • visibility 526
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ketika Menteri Hukum Meluncur ke 5 Ilir, dan Buku Hukum Ngopi Bareng Warga

DUNIA yang makin ruwet ini, hukum tak bisa lagi duduk manis di balik meja pengadilan, ngopi sambil kancing kemeja dibuka dua. Zaman sekarang, hukum harus turun ke kampung, ke gang sempit, bahkan kalau perlu ke lapak tukang tambal ban, tempat ibu-ibu ngerumpi, atau pos ronda tempat bapak-bapak main gaplek sambil nonton sinetron India.

Ada kabar baiknya Palembang punya gebrakan!
Gak tanggung-tanggung, 3.000 Pos Bantuan Hukum alias Posbankum digeber sekaligus oleh Menteri Hukum dan HAM Supratman Andi Agtas. Ya ampun, 3.000! Itu kalo tiap Posbankum dikasih tumpeng satu, bisa-bisa ayamnya pun ikut stres.

Di tengah kota pempek dan jembatan ampera ini, ternyata Posbankum sudah mekar di 107 kelurahan. Salah satunya, Posbankum 5 Ilir yang bakal jadi lokasi spesial buat kunjungan Menkum. Di sana bukan cuma disiapin karpet merah, tapi juga Pojok Literasi Hukum. Bayangin, tempat ngadu bisa jadi tempat baca, dari hukum warisan sampai kasus utang piutang mantan.

Pojok ini akan dipenuhi 200-an buku, semacam “Perpustakaan Hati” tapi isinya KUHPerdata, Undang-Undang Perlindungan Anak, sampai “Hukum untuk Pemula Dari Tukang Bakso sampai Influencer.”

Biar warga gak ngeluh, “Aduh, hukum mah ribet,” tapi bisa bilang, “Eh hukum tuh kayak tukang ojek online, harus responsif dan transparan!”

Tengok ke negeri tetangga Brasil, mereka punya Defensoria Pública di tiap wilayah, layanan hukum gratis yang kuat sampai ke favelas (kampung padat). Belanda, punya Rechtsbijstand, bantuan hukum negara dengan sistem digital transparan.

India, lewat Legal Services Authority, sukses menyasar rakyat desa lewat lokakarya keliling dan edukasi hukum via radio lokal. Kenya, punya Legal Aid Act, di mana tiap pengadilan punya unit khusus bantu masyarakat kurang mampu.

Nah, kalau mereka bisa bikin rakyat dari gang sempit paham hukum, kenapa kita masih ngandelin spanduk dan baliho doang?

Jujur aja ya, bikin Posbankum doang tanpa edukasi itu ibarat buka warung kopi tapi gak pernah bikin promosi. Masyarakat awam taunya Posbankum itu tempat orang mau cerai, padahal bisa buat konsultasi hukum warisan, kasus anak putus sekolah, bahkan urusan kontrakan.

Kalau perlu, lakukan sosialisasi imajinatif bikin “Ngopi Bareng Hukum” tiap Jumat sore, gandeng konten kreator lokal buat bikin video “Hukum Itu Gak Harus Serius”. Bagi-bagi brosur dengan bahasa rakyat, bukan bahasa perjanjian pranikah dan masukkan edukasi hukum ke kegiatan PKK, arisan RT, atau nobar sinetron.

Resmikan boleh, Selfie sama prasasti juga sah, tapi kalau habis itu cuma jadi kenangan di feed medsos, ya sama aja kayak mantan yang cuma hadir di galeri HP. Posbankum harus hidup, bukan sekadar papan nama dan kursi plastik.

Gubernur, wali kota, camat, lurah, RT, RW, sampai tukang parkir perlu paham  akses hukum adalah hak, bukan hadiah.

Sebagai penutup, mari kita hayati pepatah baru “Lebih baik ditilang karena melanggar, daripada gak tahu aturan terus ngomel di warung kopi”

Hukum harus turun, nyampe, dan ngerti rakyat, jangan lagi ada warga yang bingung mau lapor ke mana, atau takut karena gak ngerti prosedur. Posbankum adalah jembatan  bukan jembatan ampera, tapi jembatan dari rakyat ke keadilan.

Dan semoga, dari 5 Ilir Palembang, semangat ini menjalar ke seluruh Indonesia. Kalau Belanda bisa, Brasil bisa, India bisa, masa kita masih sibuk pasang spanduk doang?

Yuk, ubah hukum dari hal yang menakutkan jadi hal yang memudahkan. Dari ruang sidang ke ruang tamu. Dari KUHP ke hati rakyat, karena keadilan bukan buat yang kuat saja, tapi buat yang tahu cara mengaksesnya.

Kalau disetujui, tulisan ini bisa dikembangkan ke dalam versi feature, naskah sosialisasi, atau materi edukasi audiovisual, siap bantu lanjut!.[***]

——————————————————————————————————————————

“From Palembang to Planet Law: Posbankum Is Not Just a Complaint Box, It’s a Portal to Justice”
When the Minister Lands in 5 Ilir, and Legal Books Brew Coffee with the People

IN this ever-complicated world, the law can no longer just sit behind a mahogany desk, sipping coffee with two shirt buttons casually opened. Nowadays, the law must walk the alleys, step into street stalls, mom groups, and even sneak into community karaoke nights.

And good news from the land of pempek and Ampera Bridge: Palembang is leading the way!
Not just one or two  but 3,000 Legal Aid Posts (Posbankum) are being launched simultaneously by the Minister of Law and Human Rights, Supratman Andi Agtas. That’s right, 3,000! If each one served tumpeng rice, the chickens might file a complaint of their own.

Out of Palembang’s 107 sub-districts, Posbankum is blooming like warung kopi. And the golden child? 5 Ilir Legal Aid Post, chosen to host the Minister’s visit. Not only will it get a ceremonial plaque, but it’ll also launch the Legal Literacy Corner  think mini library, but instead of romance novels, it’s filled with legal wisdom.

At least 200 books will be stocked. It’s where KUHPerdata (Civil Code) meets everyday problems  from inheritance disputes to love-and-loan entanglements. So that people can stop saying, “Law is confusing,” and start saying, “Law is actually like an ojek app transparent, fast, and reliable (well… most of the time).”

Here are four countries that made legal aid part of daily life:

  • Brazil has Defensoria Pública across its favelas, offering free legal services from the beach to the jungle.

  • The Netherlands provides Rechtsbijstand, where everyone can apply for legal aid online with a clear system.

  • India runs Legal Services Authority with radio talk shows, village legal camps, and tuk-tuk law tours.

  • Kenya’s Legal Aid Act makes sure even remote towns have access to justice, with trained para-legal volunteers.

So if Brazil can reach the jungle, and India can ride a tuk-tuk to justice, surely we can get legal books into Posbankum 5 Ilir?

Let’s be honest. Building a Posbankum without educating people is like opening a coffee shop with no signboard. Most people think it’s only for divorce drama  while in fact, it’s for much more: inheritance issues, rental problems, even kids getting kicked out of school.

We need creative legal outreach:

  • Launch “Coffee & Law Fridays” with fun talks and free pempek.

  • Invite local influencers to make TikToks: “5 Things You Didn’t Know You Could Ask a Lawyer!”

  • Hand out flyers with street-style language, not Latin-tinged legalese.

  • Inject basic legal lessons into local events arisan, wedding prep meetings, or sports tournaments.

We love ceremonies  ribbons, plaques, a Minister’s smile captured by 3 smartphones and 1 drone. But after the camera clicks… then what?

Let’s not allow Posbankum to become just another nameplate with spider webs.
It has to live. Breathe. Talk. Help.

Make it a habit, not a headline. As a final note, here’s a new-age proverb “Better to be fined and know why, than to rant at a warung without knowing your rights.”

Justice must walk beside the people. It must be found not just in courtrooms, but in community halls and living rooms. Posbankum is not a charity, it’s a basic right.

And from 5 Ilir Palembang, let this be a movement  not just a moment.
If the Netherlands can digitize, if Brazil can humanize, and if India can mobilize… why are we still busy printing banners?

Let’s turn law from something scary into something simple.
From codes to conversation.
From courtroom drama… to community love.

And remember justice that hides behind a suit is not justice  it should wear sandals and speak in everyday language.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Satgas Covid-19 Sesalkan Aksi Kekerasan Nakes di KKB Papua, Jubir  Sampaikan Duka Cita, Mereka Garda Terdepan Pananganan Pandemi, Butuh Keamanan & Kenyamana Bekerja

    Satgas Covid-19 Sesalkan Aksi Kekerasan Nakes di KKB Papua, Jubir  Sampaikan Duka Cita, Mereka Garda Terdepan Pananganan Pandemi, Butuh Keamanan & Kenyamana Bekerja

    • calendar_month Rabu, 22 Sep 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 752
    • 0Komentar

    SATGAS Penanganan COVID-19 turut menyampaikan duka cita yang mendalam dan  menyesalkan aksi kekerasan yang dilakukan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua. Kekerasan ini menyebabkan gugurnya seorang korban jiwa dari tenaga kesehatan (nakes). Menurut Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito, menyebut peran tenaga kesehatan dibutuhkan untuk melakukan penanganan COVID-19 di Indonesia sebagai garda terdepan […]

  • Raperda Usulan Pemprov Sumsel Memasuki Babak Pandangan Umum Fraksi-Fraksi

    Raperda Usulan Pemprov Sumsel Memasuki Babak Pandangan Umum Fraksi-Fraksi

    • calendar_month Senin, 28 Jan 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 899
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, Palembang– Pembahasan tujuh Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) yang diusulkan Pemerintah Provinsi Sumsel untuk dibahas dan disahkan wakil rakyat di Gedung DPRD Provinsi Sumsel terus bergulir. Dan telah memasuki tahap pandangan umum faksi-fraksi pada Rapat Paripurna ke 56 DPRD Sumsel,  Senin (28/1/2019). Wakil Gubernur Sumatera Selatan Ir. H. Mawardi Yahya menghadiri langsung agenda pandangan umum fraksi-fraksi  terhadap […]

  • “Women in Print Issue: Women and the Machine” – Edisi baru majalah ‘Women4Women’ Fujifilm

    “Women in Print Issue: Women and the Machine” – Edisi baru majalah ‘Women4Women’ Fujifilm

    • calendar_month Senin, 27 Mei 2024
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.228
    • 0Komentar

    Sekilas tentang dunia percetakan dan seni grafis, isu Perempuan dalam Industri Percetakan Sumselterkini.co.id, – RATINGEN, Jerman,  (GLOBE NEWSWIRE) – Fujifilm mempersembahkan edisi baru majalah Women4Women untuk menghormati perempuan di industri percetakan dan grafis. Edisi baru ini dirancang dengan tampilan dan nuansa yang benar-benar baru dan diterbitkan bertepatan dengan pameran teknologi cetak terkemuka dunia, drupa (Düsseldorf, […]

  • Teken Kesepakatan dengan PTDI – STTD, Muba Usulkan Tambahan Kuota

    Teken Kesepakatan dengan PTDI – STTD, Muba Usulkan Tambahan Kuota

    • calendar_month Jumat, 25 Mar 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 851
    • 0Komentar

    PEMKAB Muba menandatangani Perjanjian Kerjasama dengan Politeknik Transportasi Darat Indonesia (PTDI) – STTD tentang Pemenuhan Kebutuhan Sumber Daya Manusia sub sektor Transportasi Darat melalui Penerimaan Calon Taruna Pola Pembibitan. Sekretaris Daerah Drs H Apriyadi MSi melakukan kunjungan kerja ke Kampus PTDI-STTD, di Bekasi Jabar kemarin. Menurut Sekda kerjasama tersebut tujuannya adalah sebagai  salah upaya untuk […]

  • Harlah ke-86 GP Ansor,Sinergi dengan Pemerintah, Dorong Pembangunan Muba

    Harlah ke-86 GP Ansor,Sinergi dengan Pemerintah, Dorong Pembangunan Muba

    • calendar_month Minggu, 26 Apr 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 761
    • 0Komentar

    TEPAT pada 24 April 2020 lalu, Gerakan Pemuda (GP) Ansor memasuki usia ke-86 tahun, GP Ansor terlahir dalam suasana keterpaduan antara kepeloporan pemuda pasca Sumpah Pemuda, semangat kebangsaan, kerakyatan, dan sekaligus spirit keagamaan. Bupati Muba Dr H Dodi Reza Alex Noerdin Lic Econ MBA yang juga selaku Dewan Pembina GP Ansor Sumsel mengucapkan selamat Hari […]

  • KB ( Kelakar Bae ) “ Asep Pecah Utak “

    KB ( Kelakar Bae ) “ Asep Pecah Utak “

    • calendar_month Selasa, 30 Jun 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 887
    • 0Komentar

    Betapa pentingnya progran Keluarga Berancana ( KB ) gerakan untuk membentuk keluarga yang sehat dan sejahtera dengan membatasi kelahiran. Itu bermakna adalah perencanaan jumlah keluarga dengan pembatasan yang bisa dilakukan dengan penggunaan alat-alat kontrasepsi atau penanggulangan kelahiran, seperti kondom, spiral, IUD, dan sebagainya. Kacibob : “ Sep istri kamu ikut KB dak yo ???? “ […]

expand_less
WordPress Archive Accordion FAQ WordPress Plugin Accordion FAQ WordPress Plugin Responsive Accordion for WPBakery Page Builder (Formerly Visual Composer) Accordionza – jQuery Plugin Accu – Healthcare, Massage WordPress Theme AceBeat – DJ Personal Page WordPress Theme Acele – Responsive APP Showcase WordPress Theme Acelle Connect – WordPress Plugin for Acelle Mail ACF Extended Pro ACF for AMP Addon