DUNIA yang makin ruwet ini, hukum tak bisa lagi duduk manis di balik meja pengadilan, ngopi sambil kancing kemeja dibuka dua. Zaman sekarang, hukum harus turun ke kampung, ke gang sempit, bahkan kalau perlu ke lapak tukang tambal ban, tempat ibu-ibu ngerumpi, atau pos ronda tempat bapak-bapak main gaplek sambil nonton sinetron India.
Ada kabar baiknya Palembang punya gebrakan!
Gak tanggung-tanggung, 3.000 Pos Bantuan Hukum alias Posbankum digeber sekaligus oleh Menteri Hukum dan HAM Supratman Andi Agtas. Ya ampun, 3.000! Itu kalo tiap Posbankum dikasih tumpeng satu, bisa-bisa ayamnya pun ikut stres.
Di tengah kota pempek dan jembatan ampera ini, ternyata Posbankum sudah mekar di 107 kelurahan. Salah satunya, Posbankum 5 Ilir yang bakal jadi lokasi spesial buat kunjungan Menkum. Di sana bukan cuma disiapin karpet merah, tapi juga Pojok Literasi Hukum. Bayangin, tempat ngadu bisa jadi tempat baca, dari hukum warisan sampai kasus utang piutang mantan.
Pojok ini akan dipenuhi 200-an buku, semacam “Perpustakaan Hati” tapi isinya KUHPerdata, Undang-Undang Perlindungan Anak, sampai “Hukum untuk Pemula Dari Tukang Bakso sampai Influencer.”
Biar warga gak ngeluh, “Aduh, hukum mah ribet,” tapi bisa bilang, “Eh hukum tuh kayak tukang ojek online, harus responsif dan transparan!”
Tengok ke negeri tetangga Brasil, mereka punya Defensoria Pública di tiap wilayah, layanan hukum gratis yang kuat sampai ke favelas (kampung padat). Belanda, punya Rechtsbijstand, bantuan hukum negara dengan sistem digital transparan.
India, lewat Legal Services Authority, sukses menyasar rakyat desa lewat lokakarya keliling dan edukasi hukum via radio lokal. Kenya, punya Legal Aid Act, di mana tiap pengadilan punya unit khusus bantu masyarakat kurang mampu.
Nah, kalau mereka bisa bikin rakyat dari gang sempit paham hukum, kenapa kita masih ngandelin spanduk dan baliho doang?
Jujur aja ya, bikin Posbankum doang tanpa edukasi itu ibarat buka warung kopi tapi gak pernah bikin promosi. Masyarakat awam taunya Posbankum itu tempat orang mau cerai, padahal bisa buat konsultasi hukum warisan, kasus anak putus sekolah, bahkan urusan kontrakan.
Kalau perlu, lakukan sosialisasi imajinatif bikin “Ngopi Bareng Hukum” tiap Jumat sore, gandeng konten kreator lokal buat bikin video “Hukum Itu Gak Harus Serius”. Bagi-bagi brosur dengan bahasa rakyat, bukan bahasa perjanjian pranikah dan masukkan edukasi hukum ke kegiatan PKK, arisan RT, atau nobar sinetron.
Resmikan boleh, Selfie sama prasasti juga sah, tapi kalau habis itu cuma jadi kenangan di feed medsos, ya sama aja kayak mantan yang cuma hadir di galeri HP. Posbankum harus hidup, bukan sekadar papan nama dan kursi plastik.
Gubernur, wali kota, camat, lurah, RT, RW, sampai tukang parkir perlu paham akses hukum adalah hak, bukan hadiah.
Sebagai penutup, mari kita hayati pepatah baru “Lebih baik ditilang karena melanggar, daripada gak tahu aturan terus ngomel di warung kopi”
Hukum harus turun, nyampe, dan ngerti rakyat, jangan lagi ada warga yang bingung mau lapor ke mana, atau takut karena gak ngerti prosedur. Posbankum adalah jembatan bukan jembatan ampera, tapi jembatan dari rakyat ke keadilan.
Dan semoga, dari 5 Ilir Palembang, semangat ini menjalar ke seluruh Indonesia. Kalau Belanda bisa, Brasil bisa, India bisa, masa kita masih sibuk pasang spanduk doang?
Yuk, ubah hukum dari hal yang menakutkan jadi hal yang memudahkan. Dari ruang sidang ke ruang tamu. Dari KUHP ke hati rakyat, karena keadilan bukan buat yang kuat saja, tapi buat yang tahu cara mengaksesnya.
Kalau disetujui, tulisan ini bisa dikembangkan ke dalam versi feature, naskah sosialisasi, atau materi edukasi audiovisual, siap bantu lanjut!.[***]

