Sumselterkini.co.id, – Setelah lama menunggu, akhirnya langit Sumatera Selatan kembali bergema dengan deru jet internasional. Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II (SMB II) Palembang resmi membuka kembali rute reguler internasional perdana Palembang–Kuala Lumpur bersama AirAsia, sebuah langkah maju yang layak disambut hangat, namun jangan sampai tepuk tangannya lebih keras dari kerja kita menyambut peluang ini.
Dulu, Palembang bisa dibilang seperti rumah megah di ujung lorong sempit, cantik tapi susah dijangkau. Kini, lorong itu mulai dibuka, tapi pertanyaannya apakah tamunya akan betah berkunjung?. Pembukaan rute internasional ini ibarat membuka pintu depan rumah kepada dunia, namun membuka pintu saja tidak cukup, kreativitas adalah kunci utama setelah pintu itu terbuka. Inilah saatnya Sumsel tidak hanya jadi destinasi, tapi jadi pengalaman.
Jangan biarkan pengunjung keluar dari pesawat dengan rasa penasaran, lalu pulang dengan rasa kecewa. Rute luar sudah dibuka, kini tinggal bagaimana Pemerintah Provinsi, kota dan daerah lain di Sumsel mengisinya dengan sambutan hangat, cerita menarik, produk lokal yang unik, dan atraksi wisata yang berkesan. Tanpa kreativitas, bandara internasional hanya akan menjadi terminal transit, bukan terminal kenangan.
Lihatlah Thailand, Bandara Phuket tak hanya sibuk mengantar orang pulang, tapi juga membawa pulang pundi-pundi devisa dari turis asing. Bahkan bandara Krabi yang mungil bisa menarik turis Eropa karena konsisten menjual pantai, kuliner, dan paket pengalaman lokal dari tuk-tuk hingga yoga sawah.
Kota Jogja bahkan lebih berani, Bandara YIA yang letaknya ndelik di Kulon Progo saja bisa mendatangkan turis luar dengan branding kuat wisata budaya, candi, kuliner, dan even kreatif. Jogja paham bahwa membuka bandara Internasional bukan hanya soal izin terbang, tapi juga soal menyiapkan alasan kuat kenapa orang harus datang dan betah tinggal meski hanya semalam.
Hoi An di Vietnam, kota kecil, tak punya bandara sendiri, tapi sanggup mendatangkan jutaan wisatawan dengan lampion dan nuansa nostalgia. Di sana, kisah masa lalu dikemas dengan nuansa kekinian. Sungai kecil jadi jalur perahu romantis, jalan sempit jadi surganya foto Instagram dan kreativitas mengalahkan keterbatasan.
Atau George Town di Penang, Malaysia, yang menjual mural di tembok tua dan festival makanan kaki lima. Mereka paham bahwa wisata bukan soal gedung megah, tapi soal identitas yang dihidupkan.
Di dalam negeri, kita bisa berkaca pada Banyuwangi, dulu cuma dikenal karena ketel uap ferry ke Bali. Tapi dalam satu dekade, daerah ini jadi sorotan dunia dengan branding “Sunrise of Java” yang kuat. Festival budaya, digitalisasi UMKM, dan event internasional mereka rangkai terus-menerus. Bandara kecilnya pun pelan-pelan jadi pintu utama turis dari luar negeri.
Danau Toba, yang dulu tidur panjang sebagai danau luas nan sepi, kini perlahan dibangunkan lewat aksesibilitas dan promosi terpadu sebagai Destinasi Super Prioritas. Tak perlu menunggu sempurna, cukup konsisten dan kreatif.
Padahal Sumatera Selatan tak kekurangan potensi. Bukit Serelo di Lahat, Danau Ranau di OKU Selatan, air terjun Temam di Lubuklinggau, hingga kuliner khas seperti pempek, tekwan, model, dan martabak HAR bisa menjadi magnet. Tapi promosi kita lemah. Media sosial kita sepi konten. QR code di tempat wisata entah mengarah ke mana. Tour guide-nya lebih sering pakai Google Translate daripada pakai senyum.
Palembang sendiri punya Jakabaring Sport City (JSC), kawasan olahraga berstandar internasional. Stadion, arena dayung, aquatic center semuanya tinggal dipoles dan dipromosikan. Bisa jadi tuan rumah even Asean atau kejuaraan regional. Tapi sayangnya, kadang kita lebih sibuk bangga dengan yang “sudah pernah” terjadi (Asian Games 2018) daripada memikirkan apa lagi yang “akan datang”. dan obyek lainnya yang bisa bikin pelancong luar menarik.
Bukan sebaliknya, bahkan menariknya (atau justru menggelitik), ketika rute ini dibuka, justru warga Palembanglah yang paling semangat memanfaatkan kesempatan ini untuk wisata ke luar negeri, medical check-up di Melaka, atau belanja di Pavillion Mall. Tiket promo ludes bukan karena wisatawan asing mau datang ke Palembang, tapi karena warga lokal sudah pegang koper, paspor, dan daftar oleh-oleh dari Malaysia. Lucu, tapi nyata.
Padahal logikanya sederhana rute ini mestinya bukan cuma jalan keluar, tapi juga pintu masuk. Sayangnya, sambutan kita masih seperti rumah baru direnovasi tapi belum diisi perabot. Kalau wisatawan asing datang, apa yang akan mereka lihat? Selain pempek dan Sungai Musi, masih terlalu sedikit narasi yang bisa dibanggakan dalam satu paket pariwisata yang rapi dan menarik.
Pepatah bijak mengatakan, “Dimana ada jalan, harus ada tujuan”. Kini jalan ke Palembang sudah ada, tinggal kita yang menentukan, apakah wisatawan hanya akan menjadikan kota ini tempat transit belaka atau benar-benar destinasi utama.
Momentum
Sebagai perbandingan, Bali bukan hanya terkenal karena bandara internasionalnya, tapi karena tiap sudutnya menawarkan cerita, tiap evennya dikemas global, dan tiap pengalaman turisnya dipikirkan sampai ke hal kecil dari kopi pagi hingga sunset sore.
Sudah saatnya Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan berpikir lebih strategis. Jadikan pembukaan rute internasional ini sebagai momentum, bentuk tim kreatif lintas sektor pariwisata, seni budaya, UMKM, olahraga, dan perhubungan. Adakan even seni-budaya tiap bulan di Jakabaring. Tawarkan paket City Tour Palembang-Musi-JSC lewat kerja sama dengan AirAsia. Libatkan travel influencer, dan aktifkan media sosial berbahasa Inggris.
Dorong kampung wisata, revitalisasi sungai Musi, dan perbanyak ruang publik berstandar internasional. Kalau perlu, undang chef luar negeri untuk lomba masak pempek, atau adakan Palembang Water Festival di Sungai Musi. Kreativitas bukan pelengkap, tapi penentu apakah bandara ini jadi titik awal kejayaan, atau hanya jadi pengingat bahwa kita pernah punya mimpi.
Pintu ke luar negeri sudah dibuka, tapi jangan biarkan tamu datang, lalu bingung harus ke mana, kreativitas adalah tiket lanjutan agar pariwisata Sumsel bisa ikut terbang tinggi. Jangan biarkan rute internasional ini hanya jadi jalur pulang kampung atau foto seremonial semata. Bangun daya tarik yang otentik, siapkan destinasi yang rapi dan bersih, serta jadikan setiap sudut Sumsel layak dikisahkan kembali oleh wisatawan.
Jika Palembang dan Sumsel ingin dikenal dunia, maka dunia harus diajak menikmati pesonanya, bukan sekadar lewat iklan, tapi lewat pengalaman nyata yang membuat mereka ingin kembali. Karena ujung-ujungnya, bukan hanya soal siapa yang datang, tapi apa yang mereka ceritakan saat pulang. Rute SMB II jangan sampai hanya menjadi pintu keluar warga lokal untuk wisata dan berobat, tanpa ada yang datang balik membawa uang dan cerita ke Sumsel.
Pariwisata tak akan hidup hanya dari baliho dan niat baik, ia perlu dikawal dengan ide segar, paket wisata menarik, promosi konsisten, dan kerja sama lintas sektor. Pemerintah daerah, pelaku industri, komunitas, bahkan seniman lokal harus duduk bareng merancang konsep yang menjadikan Sumsel bukan sekadar tujuan transit, tapi tempat yang layak diceritakan ulang. Karena dalam dunia pariwisata modern, yang mahal bukan tiketnya, tapi kesan dan pengalaman. Provinsi Sumsel harus berani jadi Provinsi yang dikenang, bukan sekadar dilalui.
Dunia kini menengok ke arah kita, tapi jangan sampai saat mereka datang, mereka tak menemukan alasan untuk tinggal lebih lama. Sumsel harus segera menata cerita dan menyajikan rasa agar penerbangan internasional tak hanya mengantar ke luar, tapi juga mengundang masuk.[***]