Minggu, 20 Sep 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Uncategorized » Dua Pilar Pencegah Korupsi

Dua Pilar Pencegah Korupsi

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Rabu, 4 Sep 2019
  • visibility 1.868
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

INDONESIA darurat korupsi’, bagaimana tidak? Hampir setiap hari kita disuguhkan berita tentang pelaku korupsi. Parahnya, virus korupsi banyak menjangkiti wakil rakyat, virus ini menyebar dari pusat sampai ke daerah perdesaan. Entah sudah berapa banyak pejabat pusat sampai kepala desa yang ditangkap gara-gara korupsi. Para wakil rakyat seolah kesurupan ‘hantu serakah’, alih-alih memikirkan nasib rakyat, mereka malah sibuk memperkaya diri sendiri dengan jalan korupsi.

Dalam ‘Filosofi Teras’, terdapat konsep Trikotomi Kendali 1 yang meliputi 1) Hal-hal yang bisa dikendalikan; 2) Hal-hal yang tidak bisa dikendalikan; dan 3) Hal-hal yang bisa dikendalikan sebagian. Walau terlihat sederhana, menerapkan konsep Trikotomi Kendali dalam kehidupan sehari-hari bukanlah perkara yang mudah. Sebagian besar orang tidak mampu mengendalikan nafsu sehingga akalnya menjadi lumpuh.

Akibatnya hal-hal yang seharusnya tidak dapat dikendalikan namun berusaha untuk dikendalikan, meskipun dengan paksaan. Contohnya kasus korupsi, banyak orang yang ingin cepat kaya dengan mengambil hak orang lain, meskipun itu salah.

Menghilangkan perilaku korupsi bukanlah perkara yang mudah, polanya sama seperti, membangun kualitas sumber daya manusia menurut Human Development Theory, butuh waktu yang panjang dan dimulai sejak dini, bahkan sejak usia emas (golden age).

Oleh karena itu, perlu keterlibatan keluarga (orangtua) dan lembaga pendidikan. Keluarga Pondasi utama pendidikan adalah keluarga (orangtua), sebab keluarga merupakan madrasah pertama bagi anak. Oleh karena itu, perlu adanya program pendidikan khusus untuk keluarga yang bertujuan untuk membantu menanamkan nilai-nilai karakter pada orangtua yang nantinya dapat dilestarikan sebagai budaya positif di keluarga. Keluarga perlu paham pendekatan daur hidup (life course) dalam upaya pembangunan modal manusia.

Dalam pendekatan life course, para ahli percaya bahwa intervensi dapat dilakukan untuk membentuk modal manusia yang cakap. Intervensi dapat diberikan sejak anak belajar melalui pendidikan dalam rumah, membangun kesehatan, menuju dunia kerja, berkeluarga, dan kewarganegaraan 2 .

Dalam kandungan sampai pada tahap Keluarga harus paham bahwa dalam pendekatan life course terdapat usia emas (golden age), yaitu usia 0-6 tahun, yang pada usia inilah karakter dibentuk. Sebagian besar orangtua kadang keliru dalam mendidik anak, karena ketidakpahamannya terhadap pentingnya pendidikan karakter. Sebagai contoh, ketika anak menangis, orangtua akan mengalihkan perhatiannya dengan menjanjikan pemberian hadiah.

Tapi, nyatanya setelah si anak berhenti menangis hadiah tak ia dapatkan. Disadari atau tidak, ini bukanlah cara yang tepat dalam mendidik anak. Akan lebih baik, jika memberikan sesuatu yang lebih menarik, seperti mainan atau mengajaknya keluar dan lain sebagainya.

Tentunya ini jauh lebih baik dibandingkan cara yang pertama, sebab dampak yang ditimbulkan cara pertama akan menyebabkan anak tidak percaya dengan ucapan orangtua, selain itu, ia juga anak akan meniru perilaku suka berbohong tersebut. Sebab pada masa golden age, menurut Ki Hadjar Dewantara adalah masa dimana anak akan melakukan proses nonton, niteni, dan nirokke. Anak-anak akan melihat dengan segenap panca indera setiap hal yang dilakukan oleh orangtuanya, lalu setelah itu ia akan menandai dan menirukan perbuatan itu.

Lembaga Pendidikan

Orientasi lembaga pendidikan harus direvisi, selama ini porsi antara aspek kognitif, afektif, dan psikomotor tidaklah seimbang. Lembaga pendidikan lebih cenderung mengutamakan aspek kognitif, apalagi pada era revolusi 4.0, lembaga pendidikan lebih terkesan sebagai lembaga komersil dan komoditas yang hanya menciptakan orang-orang yang berpikiran pragmatis dan materialistis. Sedangkan aspek afektif sangat kurang, akibatnya lahirlah generasi intelektual namun memiliki karakter yang lemah.

Tulisan ini tidak bermaksud menentang kemajuan Revolusi 4.0, karena kemajuan IPTEK sangat kita harapkan untuk membantu pekerjaan manusia, namun hanya mengingatkan esensi penting dari pendidikan yang pada akhirnya adalah untuk kebaikan manusia (well being). Pendidikan yang mampu membuat orang mengetahui kebaikan (knowing the good), mencintai kebaikan (loving the good) dan melakukan kebaikan (doing the good) 3 .

Jadi selain melakukan the great shifting, lembaga pendidikan juga haru aware dengan esensi penting pendidikan ini. Actionnya dimulai dari pendekatan guru saat mengajar yang kemudian didukung oleh segenap masyarakat sekolah. Sebagai contoh, ketika melakukan ulangan harian, guru yang baik harus menekankan bahwa kejujuran adalah hal terpenting yang harus dipegang. Nilai 9 baik, namun cara mendapatkan nilai 9 dan makna di balik nilai 9 itu jauh lebih penting.

Saya pernah menerapkan ini ketika mengajar di salah satu sekolah SMA. Awalnya memang masih banyak yang curang, hal itu saya temukan dari hasil tes ujian

lisan. Saya sengaja melakukan tes lisan terhadap jawaban siswa untuk menilai kejujuran mereka. Jika memang jawaban yang tertulis merupakan hasil pemikiran mereka, dapat dipastikan mereka mampu menjawab benar dan tepat.

Faktanya ketika di tes lisan, sebagian besar siswa tidak mampu menjawab, padahal lembar jawabannya terisi penuh. Pendekatan yang saya lakukan dengan bertanya kepada mereka, berusaha membuat mereka terbuka dan nyaman dalam mengungkapkan kejujurannya. Akhirnya saya mendapat jawaban lebih dari 70 persen siswa melakukan Kecurangan, seperti mencontek teman, melihat buku, buka HP, dan lain sebagainya.

Langkah selanjutnya saya melakukan tes remedial dengan metode yang sama dan soal yang berbeda. Alhasil, pada percobaan kedua terjadi penurunan jumlah siswa yang melakukan kecurangan. Metode ini saya lakukan secara konsisten yang pada akhirnya mampu membuat siswa untuk selalu jujur dalam menjawab soal yang saya berikan.

Hemat saya, jika metode ini diterapkan oleh setiap guru, setiap sekolah, dan setiap lembaga pendidikan. Maka dapat diasumsikan bahwa kebiasaan ini akan mampu mencegah perilaku tidak jujur sejak dini yang merupakan ‘cikal bakal’ bibit korupsi.

Inilah contoh kekuatan keluarga dan lembaga pendidikan dalam pembentukkan karakter anak manusia. Keluarga akan menjadi madrasah pertama bagi anak-anak bangsa,sedangkan lembaga pendidikan berfungsi sebagai tempat menempanya, supaya akhirnya akan menghasilkan generasi yang mengamalkan Tri pantangan yang meliputi 1) Tidak menyalahgunakan kewenangan atau kekuasaan; 2) Tidak melakukan manipulasi keuangan; dan 3) Tidak melanggar kesusilaan 4 dan berprinsip Trikotomi Kendali. Tujuannya adalah menghilangkan bibit-bibit korupsi sejak dini dengan membiasakan dan menanamkan karakter yang kuat pada anak, seperti karakter religius, jujur, tanggung jawab, komitmen, dan lain sebagainya.

“Membasmi pelaku korupsi itu baik, tapi mencegah lahirnya koruptor-koruptor baru itu jauh lebih baik, kuncinya tanamkan karakter sejak dini”.[**]

 

Penulis  : Armansyah, S.Pd., M.Si

(Dosen dan Peneliti Bidang Ilmu Kependidikan dan Kependudukan UPGRI Palembang)

 

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dua Diamankan, Polres Gagalkan Penyeludupan 173 Kg Timah

    Dua Diamankan, Polres Gagalkan Penyeludupan 173 Kg Timah

    • calendar_month Minggu, 9 Jan 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 747
    • 0Komentar

    SAT Polairud Polres Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung berhasil menggagalkan upaya penyelundupan 173 Kilogram timah berbagai bentuk yang akan diselundupkan ke Jakarta melalui Pelabuhan Pangkalbalam, Sabtu (08/01/2022). Dalam penjelasannya, Kepala Satuan Polisi Air dan Udara (Sat Polairud) Polres Pangkalpinang, AKP Capt Yordansyah mengatakan, penggagalan penyelundupan 173 Kilogram timah ilegal ini berawal dari adanya informasi dari masyarakat […]

  • Hadiri Paripurna, Ini Harapan Harno

    Hadiri Paripurna, Ini Harapan Harno

    • calendar_month Jumat, 20 Nov 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 934
    • 0Komentar

    WALIKOTA Palembang, H. Harnojoyo tetap bersyukur terkait masih meningkatkan anggaran pendapatan Pemerintah kota Palembang di tahun 2020 meski di tengah Pandemi Covid-19. Hal tersebut dikatakan Harnojoyo usai  Rapat Paripurna DPRD Kota Palembang ke-17 tentang Penyampaian Raperda APBD Tahun Anggaran 2021 serta Penambahan Program Pembentukan Perda (Propemperda) Tahun 2020. “Alhamdulillah hari ini kita sudah selesai melaksanakan pembahasan. Dan […]

  • Dari Palembang ke Planet Hukum, Posbankum Bukan Cuma Tempat Ngadu, Tapi Tempat Paham Juga

    Dari Palembang ke Planet Hukum, Posbankum Bukan Cuma Tempat Ngadu, Tapi Tempat Paham Juga

    • calendar_month Rabu, 23 Jul 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 522
    • 0Komentar

    Ketika Menteri Hukum Meluncur ke 5 Ilir, dan Buku Hukum Ngopi Bareng Warga DUNIA yang makin ruwet ini, hukum tak bisa lagi duduk manis di balik meja pengadilan, ngopi sambil kancing kemeja dibuka dua. Zaman sekarang, hukum harus turun ke kampung, ke gang sempit, bahkan kalau perlu ke lapak tukang tambal ban, tempat ibu-ibu ngerumpi, […]

  • Resmi, MPP Palembang Beroperasi, Ini Harapan Wako Palembang

    Resmi, MPP Palembang Beroperasi, Ini Harapan Wako Palembang

    • calendar_month Jumat, 27 Nov 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 842
    • 0Komentar

    MALL Pelayanan Publik [MPP] Palembang resmi beroperasi, sehingga diharapkan mampu memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan mudah.Walikota Palembang, Harnojoyo sangat bersyukur karena saat ini sebanyak 28 instansi yang bergabung. “Mall Pelayanan Publik yang memiliki 28 unit layanan dengan 373 layanan diharapkan dapat mempermudah masyarakat untuk mendapatkan berbagai pelayanan dengan mudah dan cepat,”ungkapnya saat meresmikan MPP Palembang yang […]

  • Buka Akses Ruang Publik

    Buka Akses Ruang Publik

    • calendar_month Rabu, 7 Sep 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.131
    • 0Komentar

      Ruang publik yang nyaman menjadi perhatian prioritas Pj Bupati Muba Drs Apriyadi MSi. Dalam kaitan tersebut, Pemkab Muba melalui Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim) membuka akses jalan Peternakan untuk menuju ruang publik yakni Lapangan Gelanggang Remaja Sekayu.   “Sehingga masyarakat tidak sulit untuk memanfaatkan fasilitas di Lapangan Gelanggang Remaja Sekayu, jadi kita bangun jalan […]

  • Program Khotmil Qur’an Pertama Muara Enim Resmi Ditutup, Ini Harapannya

    Program Khotmil Qur’an Pertama Muara Enim Resmi Ditutup, Ini Harapannya

    • calendar_month Rabu, 31 Mar 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.592
    • 0Komentar

    PROGRAM Khotmil Qur’an Pertama Kabupaten Muara Enim untuk  siswa SD,SMP sederajat, dan  para guru, staf dan jajaran di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) se-Kabupaten Muara Enim resmi ditutup. Kegiatan  yang diselenggarakan pada September 2020 lalu ditutup  secara virtual oleh Plh.Bupati Muara Enim, Dr.H.Nasrun Umar,SH,MM diwakili  Staf Ahli Bupati Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia (SDM) Kabupaten Muara Enim, Amrullah Jamaluddin, S.E., […]

expand_less
WordPress Archive Covoza – Covid-19 Awareness & Prevention Elementor Template Kit COWO – Coworking Elementor Template Kit CoWorker – Responsive Multipurpose Template Coworking & Creative Space Elementor Template Kit Coworkshop | Coworking Space WordPress Theme Cozy – Interior Design WordPress Theme CozyStay – Hotel Booking WordPress Theme Craft Portfolio – Architecture & Design WordPress Theme Craftio – Carpenter WordPress Theme Craftis – Handcraft & Artisan Elementor Template Kit