SAAT zaman serba digital ini, bencana tidak kenal jam kerja. Gempa bisa datang pas kita lagi rebahan, banjir bisa datang pas lauk baru diangkat dari wajan, dan angin puting beliung kadang mampir lebih cepat daripada kurir paket online. Nah, kalau bencana bisa datang 24 jam nonstop, maka layanan perlindungan pun harus lebih sigap dari admin grup WhatsApp RT yang suka telat jawab “Siapa bisa pinjam tangga?”
Di sinilah hadir SAPA 129, call center kemanusiaan milik Kementerian PPPA. Nomornya gampang diingat 129, plus bisa dihubungi lewat WhatsApp di 08111-129-129. Bedanya dengan grup WA RT, kalau kirim pesan ke sini dijamin dibalas, bukan cuma di-read sambil adminnya sibuk masak mi instan.
Misalnya saat bencana, perempuan dan anak sering jadi kelompok paling rentan. Kadang kehilangan akses, kadang justru kena risiko kekerasan. Kalau dulu lapor kasus harus nunggu jam kerja kantor hari Senin sampai Jumat, pukul 8 sampai 4 sore sekarang cukup tekan 129. Ibaratnya, kalau bahaya datang jam 2 pagi, SAPA 129 tetap buka. Tidak pakai status “ketiduran” atau “lowbat”.
Pepatah bilang “Sedia payung sebelum hujan”. Tapi di era digital, pepatah bisa di-upgrade “Sedia SAPA 129 sebelum bencana datang” Karena payung hanya melindungi dari hujan, sementara SAPA 129 bisa melindungi dari risiko yang lebih besar kekerasan, kehilangan ruang aman, bahkan trauma berkepanjangan.
Yang menarik, SAPA 129 ini tidak hanya jadi tempat curhat. Begitu laporan masuk, ada tindak lanjut pendampingan hukum, perlindungan darurat, sampai dukungan psikososial. Jadi, bukan sekadar “baik, laporan Anda sudah kami terima” lalu hilang seperti pesan cinta tanpa balasan. Ini layanan nyata, bukan PHP.
Kalau dibandingkan dengan humanitarian hotline ala Internasional, SAPA 129 punya sentuhan lokal cepat, sederhana, dan bisa dijangkau semua orang. Tidak perlu bahasa Inggris fasih, cukup kirim pesan dalam gaya “Bu, saya butuh bantuan,” langsung diproses.
Lucunya, kadang orang lebih cepat lapor kehilangan sandal di grup WA kompleks daripada lapor kasus serius ke layanan resmi. Nah, SAPA 129 hadir untuk membalik keadaan biar hal-hal penting dapat prioritas, bukan tenggelam di antara pesan jualan kue basah atau undangan arisan.
Jadi teknologi digital bisa jadi sahabat kemanusiaan, SAPA 129 adalah contoh bagaimana layanan perlindungan harus mengikuti irama zaman sigap, responsif, dan selalu ada, kapan pun bencana datang. Karena kalau admin grup WA bisa telat balas pesan, negara jangan sampai begitu.
SAPA 129 bukan sekadar nomor, tapi simbol kehadiran negara yang nyata. Ia jadi “teman 24 jam” bagi perempuan dan anak yang rentan dalam bencana. Jadi, jangan tunggu bencana datang baru bingung cari nomor, simpan sekarang juga di kontak HP Anda. Karena ingat pepatah baru “Lebih baik punya SAPA 129 dan tidak dipakai, daripada butuh tapi tidak punya”.[***]