Tekno

Pabrik Modern Kini Cari SDM yang Kuasai AI dan IoT

ist

PABRIK modern di Indonesia kini mulai mencari SDM yang menguasai AI dan Internet of Things (IoT) seiring percepatan transformasi industri 4.0 di sektor manufaktur. Perusahaan industri tidak lagi hanya membutuhkan tenaga kerja konvensional, tetapi juga talenta digital yang mampu memahami data, otomatisasi, hingga sistem produksi berbasis teknologi.

Perubahan itu tidak lagi menjadi wacana masa depan. Transformasi industri 4.0 sudah bergerak di berbagai sektor manufaktur Indonesia, mulai dari otomotif, elektronik, makanan-minuman, hingga industri kimia. Mesin produksi semakin terkoneksi dengan sistem digital, sementara perusahaan membutuhkan tenaga kerja yang mampu beradaptasi dengan teknologi baru agar produktivitas tetap kompetitif di pasar global.

Kondisi tersebut menjadi salah satu sorotan dalam ASEAN-Japan Forum yang digelar di Jakarta. Forum itu mempertemukan pemerintah, pelaku industri, akademisi, dan mitra internasional untuk membahas tantangan pengembangan sumber daya manusia manufaktur di era digital.

Kementerian Perindustrian menilai kesiapan SDM menjadi faktor penting dalam mempercepat transformasi industri nasional. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dilaman resmi kemenperin menilai, tantangan sektor manufaktur saat ini tidak hanya berkaitan dengan investasi teknologi, tetapi juga kemampuan tenaga kerja dalam mengikuti perubahan digital.

Transformasi industri modern membutuhkan pekerja yang tidak sekadar memahami proses produksi konvensional. Dunia usaha kini membutuhkan talenta yang mampu mengoperasikan sistem berbasis data, memahami otomatisasi, hingga mendukung efisiensi energi dan pengembangan industri hijau.

Kebutuhan tersebut membuat pengembangan SDM digital menjadi perhatian utama pemerintah. Melalui Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI), Kemenperin terus memperluas pelatihan industri 4.0 bagi pelaku industri maupun pendidikan vokasi.

Kepala BPSDMI Doddy Rahadi mengatakan, Indonesia sebenarnya memiliki peluang besar karena didukung jumlah penduduk usia produktif yang tinggi. Namun, bonus demografi itu harus diiringi peningkatan kompetensi agar mampu menjawab kebutuhan industri masa depan.

Menurutnya, perusahaan manufaktur saat ini semakin membutuhkan tenaga kerja yang menguasai teknologi digital seperti AI, IoT, big data, hingga cloud computing. Selain itu, industri juga mulai menaruh perhatian pada efisiensi energi dan dekarbonisasi untuk mendukung transformasi industri hijau.

Sesuaikan kurikulum

Perubahan kebutuhan tenaga kerja tersebut perlahan ikut mengubah wajah pendidikan vokasi di Indonesia. Kampus dan lembaga pelatihan industri kini dituntut menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan industri digital agar lulusan tidak tertinggal oleh perkembangan teknologi.

Dalam ASEAN-Japan Forum, President Director Japan External Trade Organization (JETRO) Jakarta Shinji Hirai menilai tantangan industri saat ini bukan hanya mencari pekerja dengan kemampuan teknis dasar. Perusahaan juga membutuhkan SDM yang mampu memecahkan masalah, cepat beradaptasi, dan siap bekerja dalam lingkungan industri yang terus berubah.

Shinji menambahkan kondisi itu sangat relevan bagi Indonesia yang memiliki pertumbuhan ekonomi kuat dan tenaga kerja muda dalam jumlah besar. Menurutnya, potensi tersebut dapat menjadi kekuatan besar apabila dibarengi peningkatan kualitas keterampilan digital.

Kolaborasi internasional pun mulai diperkuat untuk mendukung pengembangan talenta industri Indonesia. Kemenperin bersama Ministry of Economy, Trade and Industry (METI) Jepang serta The Association for Overseas Technical Cooperation and Sustainable Partnerships (AOTS) menjalankan berbagai program pengembangan SDM industri sejak beberapa tahun terakhir.

Program tersebut tidak hanya fokus pada peningkatan kemampuan teknis, tetapi juga memperkenalkan budaya kerja industri Jepang seperti 5S dan Kaizen untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas kerja di sektor manufaktur.

Seiring berkembangnya transformasi industri global, kerja sama itu kini diperluas ke bidang Green Transformation (GX) dan Digital Transformation (DX). Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat daya saing industri nasional di tengah persaingan manufaktur dunia yang semakin mengarah pada digitalisasi dan efisiensi energi.

BPSDMI juga mengembangkan pelatihan Lean Manufacturing Management Industry (LeMMI) 4.0 bagi dosen dan mahasiswa Politeknik STMI Jakarta sejak 2021. Program itu melibatkan ratusan peserta dan diperluas ke praktisi industri melalui Pusat Industri Digital Indonesia (PIDI) 4.0.

Selain AI dan IoT, pelatihan juga mencakup big data, cloud computing, serta transformasi industri tingkat manajerial. Pemerintah berharap penguatan kompetensi tersebut mampu menciptakan SDM manufaktur yang lebih adaptif dan siap bersaing di tingkat global.

Transformasi industri digital memang membuka peluang besar bagi Indonesia. Namun di sisi lain, perubahan itu juga menjadi tantangan bagi tenaga kerja yang tidak mampu mengikuti perkembangan teknologi. Di tengah pertumbuhan pabrik modern dan otomatisasi industri, kemampuan digital perlahan berubah dari sekadar nilai tambah menjadi kebutuhan utama.

Karena itu, persaingan industri masa depan kemungkinan tidak lagi hanya ditentukan oleh jumlah pabrik atau kapasitas produksi. Pertarungan sesungguhnya akan berada pada kualitas talenta yang mampu mengoperasikan teknologi, membaca data, dan beradaptasi dengan cepat di era AI dan IoT. (***)

To Top