BRIN Lokalkan Teknologi Smart Greenhouse Korea untuk Pertanian Indonesia
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 9 jam yang lalu
- visibility 7
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : brin.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Korea Institute of Science and Technology (KIST) mendorong penerapan teknologi smart greenhouse Korea yang disesuaikan dengan kondisi iklim dan kebutuhan pertanian Indonesia. Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat transfer teknologi pertanian cerdas sekaligus membuka peluang hilirisasi hasil riset.
Kepala Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan BRIN, Nugroho Adi Sasongko, mengatakan fasilitas smart greenhouse yang dikembangkan melalui kerja sama BRIN dan KIST tidak hanya ditujukan untuk mengadopsi teknologi Korea, tetapi juga melokalisasinya agar dapat diterapkan pada lingkungan tropis dan kondisi pertanian Indonesia.
“Smart greenhouse ini mengintegrasikan sensor lingkungan, Internet of Things (IoT), kecerdasan buatan (AI), fertigasi otomatis, kontrol lingkungan, dan pengelolaan tanaman berbasis data guna meningkatkan produktivitas, kualitas produk, efisiensi sumber daya, serta keberlanjutan,” katanya.
Penguatan kerja sama tersebut akan dibahas dalam Seminar Internasional BRIN–KIST ODA bertema “International Joint Cooperation and Future Partnership: Strengthening Indonesia–Korea Collaboration in Smart Greenhouse Technology, Research, and Innovation” di Kawasan Sains dan Teknologi B.J. Habibie Serpong, Tangerang Selatan, Kamis (13/8).
Menurut Nugroho, seminar tersebut menjadi forum untuk mendiseminasikan capaian proyek sekaligus membahas strategi transfer dan lokalisasi teknologi. Forum itu juga akan membahas penguatan manajemen inovasi dan kekayaan intelektual serta arah kerja sama Indonesia-Korea di bidang pertanian cerdas, manufaktur maju, dan sistem pangan berkelanjutan.
“Melalui pemanfaatan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi, ketiga bidang ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas, daya saing, dan ketahanan pangan nasional,” ujarnya.
Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur BRIN, Cuk Supriyadi Ali Nandar, mengatakan kolaborasi dengan KIST juga menjadi bagian dari upaya mendorong inovasi teknologi manufaktur dan pengembangan sistem industri berkelanjutan di Indonesia.
Menurutnya, pemanfaatan teknologi pertanian presisi membutuhkan dukungan lintas sektor, mulai dari pemerintah, akademisi hingga sektor swasta. Dukungan tersebut diperlukan agar teknologi yang dikembangkan tidak berhenti pada tahap riset, tetapi dapat dioperasikan dan dimanfaatkan secara lebih luas.
“Melalui dukungan Bappenas, kementerian terkait, akademisi, dan sektor swasta, fasilitas ini diharapkan dapat mempercepat alih teknologi pertanian presisi serta mendukung ketahanan pangan Indonesia di tengah tantangan perubahan iklim global,” katanya.
Selain aspek teknologi, BRIN dan KIST juga mulai menyiapkan pengelolaan kekayaan intelektual dari hasil kolaborasi. Ketua Kelompok Riset Keberlanjutan Industri dan Optimasi Produk PRSIMB BRIN, Dudi Iskandar, mengatakan perlindungan dan pengelolaan kekayaan intelektual menjadi salah satu fokus penting dalam kerja sama tersebut.
Melalui keterlibatan Korea Invention Promotion Association (KIPA), para periset dari kedua negara mendapatkan pelatihan terkait pengelolaan hak paten bersama, lisensi, dan komersialisasi teknologi.
“Harapannya, inovasi yang dihasilkan dapat memberikan dampak ekonomi yang nyata dan berkelanjutan,” ujarnya.
Seminar BRIN-KIST tersebut menghadirkan peneliti KIST Lee Ju Young, Direktur Pangan dan Pertanian Kementerian Perencanaan Nasional/Bappenas Jarot Indarto, serta Dudi Iskandar sebagai pembicara.
Lee Ju Young akan memaparkan pengembangan smart greenhouse BRIN, termasuk proses transfer teknologi, kemajuan pembangunan, dan arah pengembangannya. Sementara itu, Jarot Indarto akan menyampaikan peta jalan pertanian cerdas Indonesia serta peluang kolaborasi dengan Korea.
Dudi akan membahas kesiapan BRIN dalam mendukung transfer teknologi, operasional, peningkatan kapasitas, dan pengembangan kolaborasi pada masa mendatang.
Kerja sama ini diharapkan tidak berhenti pada pembangunan fasilitas smart greenhouse, tetapi berkembang menjadi model kolaborasi riset yang mencakup transfer teknologi, penguatan kapasitas sumber daya manusia, pengelolaan kekayaan intelektual, hingga hilirisasi dan komersialisasi inovasi.
Dengan pendekatan tersebut, teknologi pertanian cerdas yang dikembangkan bersama Korea diharapkan dapat semakin sesuai dengan karakteristik Indonesia sekaligus mendukung peningkatan produktivitas, efisiensi sumber daya, dan ketahanan pangan di tengah tantangan perubahan iklim. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
