Sabtu, 5 Sep 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Tekno » Asuransi Pintar, Data Terancam? Budaya Perusahaan Jadi Kunci

Asuransi Pintar, Data Terancam? Budaya Perusahaan Jadi Kunci

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Rabu, 12 Nov 2025
  • visibility 3.048
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

INDUSTRI asuransi kini sedang jatuh cinta sama AI, katanya biar cepat, biar efisien, biar tampak keren dan “pintar”. Tapi ya namanya juga cinta teknologi kadang bikin lupa risiko. Karena di balik AI yang katanya pintar, ada ancaman serius, data pribadi nasabah yang bisa bocor kapan saja.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengingatkan bahwa di era kecerdasan artifisial (AI), potensi penyalahgunaan data pribadi di industri asuransi makin meningkat.

Menurutnya, teknologi AI memang makin banyak dimanfaatkan untuk menentukan premi, menilai klaim, hingga menjadi agen layanan pelanggan.

“Otomatisasi proses klaim dan layanan pelanggan dengan memakai teknologi AI juga dapat meningkatkan efisiensi. Namun, ada tantangan yang perlu kita antisipasi,” ujar Nezar dalam rilis Komdigi di  iLearn Seminar bertema Reinforcing Insurance Governance Through Data Management and PDP Alignment di Hotel Movenpick, Jakarta Pusat, Selasa (11/11/2025).

Ia menegaskan bahwa sistem AI membutuhkan data pribadi dalam volume besar untuk melatih model, yang otomatis meningkatkan risiko kebocoran data dan penyalahgunaan.

Lebih parahnya lagi, hasil perhitungan AI tidak selalu akurat. Data yang salah sedikit saja bisa bikin hasilnya bias. Nah, kalau biasnya sampai bikin klaim nasabah ditolak, bisa-bisa AI-nya yang pintar, nasabahnya yang pusing.

Sekarang bayangkan, eh…, maksudnya bukan dibayangkan tapi disadari, kalau AI salah baca data, bisa saja ada nasabah dianggap “berisiko tinggi”, padahal cuma karena alamatnya salah ketik. Yang tadinya mau klaim banjir, malah ditolak karena sistem mikir rumahnya di puncak gunung. Lah, gimana ceritanya?

Padahal Negara-negara canggih aja bisa bocor, apalagi kita, contohnya Amerika Serikat pernah geger gara-gara kasus Equifax, data jutaan warga lenyap begitu saja.

Selanjutnya Jepang, yang terkenal disiplin kayak jam tangan digital, pernah juga kecolongan data asuransi kesehatan. Bahkan Inggris? NHS-nya sempat dijebol hacker.

Nah, kalau mereka yang infrastrukturnya sekuat tembok baja bisa jebol, Indonesia yang kadang server-nya aja “maintenance terus” ya mesti lebih waspada.

Masalahnya, di kita ini, banyak perusahaan asuransi yang masih mikir pelindungan data pribadi itu cuma urusan hukum. “Yang penting patuh UU PDP, biar nggak kena sanksi,” katanya.

Padahal, seperti pepatah “Sekali air tumpah, tak bisa dikumpulkan lagi”. Data pribadi yang bocor nggak bisa dikumpulin kayak main puzzle. Begitu bocor, bisa ke mana-mana. Kadang ke dark web, kadang ke WA grup tetangga.

Wamen Nezar juga mengingatkan, pelindungan data itu bukan cuma soal kepatuhan hukum, tapi soal budaya perusahaan. Artinya, kesadaran menjaga data harus jadi DNA organisasi, bukan cuma pasang spanduk “Kami patuh UU PDP” di lobi kantor.

Budaya ini harus hidup, dari CEO sampai satpam yang jaga server. Kalau semua sadar, nggak ada lagi tuh password kantor yang isinya “admin123”.

Perusahaan yang cuma takut sanksi biasanya cuma fokus bikin dokumen formalitas. Tapi yang benar-benar punya budaya pelindungan data, mereka rutin audit keamanan, transparan ke nasabah, dan melatih karyawan agar ngerti cara jaga data pribadi. Bedanya kayak warung kopi yang rajin cuci gelas sendiri sama yang nunggu pelanggan protes baru dibersihin.

Lucunya, ada juga perusahaan yang merasa sudah aman cuma karena beli sistem AI mahal. Padahal, AI semahal apapun tetap bisa jadi bodoh kalau dikasih data yang salah.

Contohnya di luar negeri, ada AI yang menolak klaim pasien karena “dideteksi sudah meninggal dunia”, padahal orangnya masih hidup dan marah-marah di depan kantor. Nah lho, itu bukan error, itu dagelan versi digital.

Regulasi

Regulasi soal pelindungan data pribadi sudah ada Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP). Bahkan sekarang sedang disusun aturan turunannya lewat Peraturan Presiden.

Tapi, seperti kata Wamen Nezar, hukum tanpa budaya cuma jadi pajangan. Kalau budaya datanya belum hidup, regulasi secanggih apapun nggak akan menolong.

Kita butuh perusahaan yang bukan cuma patuh pada aturan, tapi hormat pada data. Patuh itu karena takut sanksi, hormat itu karena sadar nilai. Karena di era digital ini, yang dijual bukan cuma polis, tapi juga kepercayaan. Sekali kepercayaan hilang, premi sebesar apapun nggak akan nutup kerugian reputasi.

Jadi, solusi bukan cuma bikin sistem makin canggih, tapi bikin manusia di dalamnya makin sadar. Perusahaan asuransi harus mulai membangun budaya pelindungan data dari dalam, rutin audit, edukasi staf, dan jujur ke nasabah soal bagaimana data mereka digunakan. Karena percuma AI punya IQ 180 kalau yang ngatur masih suka nyimpen file penting di flashdisk gratisan dari seminar.

Intinya, AI boleh pintar, tapi data harus lebih pintar dijaga. Karena di dunia digital, kebocoran data itu bukan soal “kalau”, tapi soal “kapan”. Bisnis asuransi yang bisa bertahan bukan yang paling cepat proses klaimnya, tapi yang paling dipercaya nasabahnya.

Oleh karena itu, jangan biarkan AI jadi lebih bijak dari manusia yang menciptakannya. Kalau mesin bisa belajar menghormati data, masa manusia malah abai?. Kalau itu sampai terjadi, ya siap-siap aja kita dengar berita kocak tapi miris “AI makin pintar, manusia makin ceroboh”.

Jadi, ketawa boleh, tapi sambil sadar, menjaga data pribadi itu bukan lelucon. Karena kalau bocor, yang ketawa terakhir biasanya bukan kita, tapi hacker-nya.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • ASN Baru, Harapan Baru, Jangan Cuma Ganti Seragam, Tapi Juga Ganti Semangat

    ASN Baru, Harapan Baru, Jangan Cuma Ganti Seragam, Tapi Juga Ganti Semangat

    • calendar_month Senin, 9 Jun 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.065
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, – “Jangan tanya apa yang bisa negara berikan padamu, tapi tanyakan sudah setor absen belum pagi ini?” – modifikasi dari kata-kata John F. Kennedy, edisi ASN rasa lokal. Belum lama ini, di Halaman Griya Bumi Serasan Sekate lebih mirip panggung konser daripada pelantikan pegawai, ribuan wajah sumringah, dari yang masih semangat 45 sampai yang […]

  • Laporan Peak Plastics dari Back to Blue

    Laporan Peak Plastics dari Back to Blue

    • calendar_month Senin, 27 Feb 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 586
    • 0Komentar

    LONDON, Inggris – Media OutReach – 27 Februari 2023 – Konsumsi plastik berada di jalur yang hampir dua kali lipat di G20 pada tahun 2050 kecuali jika Perserikatan Bangsa-Bangsa menyetujui serangkaian kebijakan global baru, termasuk larangan di seluruh dunia pada beberapa produk plastik sekali pakai, diperpanjang skema tanggung jawab produsen dan pajak atas produksi plastik […]

  • Warga Diharapkan Saksikan Sumpah & Jani Kades Terpilih

    Warga Diharapkan Saksikan Sumpah & Jani Kades Terpilih

    • calendar_month Jumat, 24 Jan 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.038
    • 0Komentar

    PELANTIKAN  kepala desa terpilih hasil pilkades serentak 2019 di Ogan Komering Ilir (OKI) yang dilaksanakan di desa-desa merupakan keinginan para kepala desa terpilih tersebut agar sumpah janji yang mereka ucap disaksikan langsung oleh warga nya. “Kami dipilih oleh masyarakat dan masyarakat ingin menyaksikan kadesnya mengungkap ikrar janji” ungkap Kepala Desa Pantai Kecamatan Sirah Pulau Padang […]

  • Salut, Meski Kalah, Garuda Mampu Sulitkan Juara Dunia & Ranking 1 FIFA, STY : Bekal Kualifikasi Piala Dunia 2026 & Putaran Final Piala Asia 2023

    Salut, Meski Kalah, Garuda Mampu Sulitkan Juara Dunia & Ranking 1 FIFA, STY : Bekal Kualifikasi Piala Dunia 2026 & Putaran Final Piala Asia 2023

    • calendar_month Selasa, 20 Jun 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 3.808
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, Jakarta – Garuda memang kalah kelas , ibarat langit dan bumi melawan ranking 1 FIFA dan Juara Piala Dunia 2022, namun Timnas menunjukan permainan terbaiknya, terutama secara fisik dan mental. Hanya kalah 0-2 di laga FIFA Matchday melawan Albiceleste membuat ribuan penonton di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta,Senin malam (19/6) sangat puas dengan performa ditunjukan anak […]

  • OKI kirim 5 pengrajin batik ke Yogyakarta

    OKI kirim 5 pengrajin batik ke Yogyakarta

    • calendar_month Selasa, 21 Mei 2024
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.032
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, -Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) bersama Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) mengirimkan lima pengrajin batik ke Daerah Istimewa Yogyakarta untuk mengikuti pelatihan membatik. Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan para pengrajin di OKI untuk membatik, khususnya batik motif perahu kajang. Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten OKI Suhami AP M.Si mengatakan, ada lima […]

  • Komisi X DPR RI Pastikan Persiapan Asian Games di Sumsel Capai 100 %

    Komisi X DPR RI Pastikan Persiapan Asian Games di Sumsel Capai 100%

    • calendar_month Kamis, 12 Jul 2018
    • account_circle Bono
    • visibility 969
    • 0Komentar

    Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) Alex Noerdin menerima Tim Kunjungan kerja Spesifik bidang olahraga Komisi X DPR RI, di Griya Agung (12/07). Kunjungan dari Komisi X DPR RI ini guna memastikan persiapan Provinsi Sumsel menjadi tuan rumah Asian Games Agustus mendatang.

expand_less
WordPress Archive The Outset – MultiPurpose WordPress Theme for Saas & Startup The Plus – Addon for Elementor Page Builder WordPress Plugin The Reporter – Newspaper Editorial WordPress Theme The Restaurant – Restauranteur and Catering One Page Theme The Retailer – Premium WooCommerce Theme The Shop – PWA eCommerce CMS The Spice Lounge – Restaurant / Cafe HTML5 Template The Team Pro – Team Showcase WordPress Plugin The Trial – Law WordPress Theme The Wall – Media Gallery – jQuery Powered