AI makin pintar, bahkan kini mampu meringkas berita lebih cepat dari wartawan yang masih muter-muter cari parkiran. Di sisi lain, wartawan justru dituntut untuk tetap dan semakin manusia.
Di era teknologi serba canggih ini, hampir semua pekerjaan bisa dipermudah mesin. Termasuk di dunia jurnalistik, di mana AI mampu menyajikan ringkasan berita rapi, judul seksi, dan paragraf pembuka yang menggoda bahkan sebelum wartawannya sempat membuka laptop.
Inilah yang perlu disadari para jurnalis hari ini. Saat AI makin pintar dan teknologi serba instan, pekerjaan memang boleh dibantu mesin, tapi rasa tetap tak bisa diunduh.
Hebatnya lagi, wartawan baru membuka ponsel atau laptop, eh malah AI sudah lebih dulu menyajikan ringkasan berita lengkap dengan judul yang menggoda rasa penasaran pembaca. Sekilas terlihat sempurna, tapi di situlah masalahnya AI sering sok tahu.
Yang ditampilkan AI kerap hanya kulit. Ia merangkum, tapi tak merasakan. Padahal, rasa itulah yang membuat sebuah peristiwa hidup. AI tak melihat kejadian secara langsung, tak mencium bau banjir, tak mendengar suara gemetar narasumber. Rasa masih sepenuhnya milik wartawan.
Karena itu, meski AI makin pintar, wartawan jangan ikut-ikutan jadi mesin.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria, dalam Retreat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) 2026 di Rumpin, Kabupaten Bogor, mengingatkan bahwa perkembangan kecerdasan artifisial telah mengubah lanskap jurnalisme global secara fundamental.
Setelah media bermigrasi dari cetak ke digital, datang gelombang disrupsi baru platform digital dan algoritma. Kini, nasib berita tak sepenuhnya ditentukan redaksi, tapi juga oleh mesin posisinya kadang terasa seperti redaktur bayangan.
Lebih canggih lagi, berita kini tak selalu dibaca dari media asalnya. Banyak orang cukup membaca ringkasan dari mesin pencari atau layanan AI. Merasa sudah lulus ujian wawasan harian, padahal baru baca dua paragraf. Fenomena ini dikenal sebagai zero click, klik nol, percaya diri seratus.
“Kita menghadapi fenomena zero click, di mana publik cukup membaca ringkasan berita dari AI tanpa mengunjungi sumber aslinya. Ini berdampak langsung pada trafik media dan keberlanjutan industri pers,” kata Nezar.
Begini seandainya wartawan liputan di tengah hujan, kamera basah, sandal nyaris hanyut terbawa arus. Semua itu menjadi pengalaman yang kelak hidup dalam tulisan. Sementara AI? Duduk manis, tinggal meringkas.
Pembaca membaca dua paragraf ringkasan lalu berkata, “Oh, aku sudah tahu ceritanya.” Padahal itu baru garis besarnya saja, belum ada kisah sandal hanyut dan kamera basah. Kulitnya ada, nyawanya belum tentu.
AI memang jago meringkas. Ia bisa menjawab apa yang terjadi, tapi tak selalu paham apa yang dirasakan. Mesin bisa menyebut angka korban, tapi tak mengerti mengapa suara seorang ibu tiba-tiba pecah saat bercerita.
Di situlah keunggulan wartawan sesuatu yang tak bisa diunduh. Saat AI makin pintar, wartawan unggul di empati. AI piawai mengolah data, wartawan bermain di nurani. AI bekerja dengan algoritma, wartawan bekerja dengan insting kadang salah, tapi sering jujur.
Nezar juga mengutip riset Reuters Institute dan University of Oxford yang menunjukkan penurunan optimisme pelaku media terhadap masa depan jurnalisme.
Trafik media digital dilaporkan turun lebih dari 40 persen seiring meningkatnya konsumsi informasi lewat platform dan AI.
Angka ini bikin media jantungan, terutama media kecil. Tapi sekaligus memberi peringatan berita cepat mungkin kalah, tapi cerita yang bernyawa justru makin dicari.
Masalahnya, konten jurnalistik kini kerap diperlakukan seperti gorengan gratis di meja rapat diambil satu, dua, tiga, tanpa tanya siapa yang beli minyaknya. Platform menikmati sajian, AI menyajikan ulang, sementara media menghitung biaya operasional sambil menarik napas panjang.
Karena itu, isu keberlanjutan media tak bisa lagi diselesaikan dengan kata ikhlas. Pemerintah pun turun tangan lewat Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2024 tentang Tanggung Jawab Perusahaan Platform Digital untuk mendukung Jurnalisme berkualitas (Publisher Rights).
Selain itu, pemerintah tengah menyusun peta jalan kecerdasan artifisial nasional.
Pesannya jelas AI boleh pintar, namun harus sopan. Boleh membantu, tapi jangan menyikut yang bekerja di lapangan.
Pada akhirnya, AI makin pintar bukan akhir cerita wartawan. Zero click bukan lonceng kematian. Anggap saja ini tes kepribadian massal siapa yang bertahan dengan kualitas, dan siapa yang menyerah pada ringkasan.
Wartawan tak harus mengalahkan AI, apalagi jadi budaknya. Otak manusia harus mengendalikan mesin. Lebih sabar mendengar, lebih rajin bertanya, lebih berani memberi konteks itulah yang membuat jurnalisme tetap hidup.
Dunia boleh serba cepat dan ringkas, tapi pembaca diam-diam masih mencari satu hal yang tak bisa ditiru mesin cerita yang bikin merasa ditemani.
Kalau AI bertanya, “Apa keunggulan wartawan?” jawabannya sederhana “mak kato wong kito, pendek bacoanyo, wartawan puny0 ras0.” (***)