SUMSELGLOBAL

“Serius di Podium, Santai di Meja Kopi”

ist

PAGI itu Rumah Dinas Wali Kota Palembang berubah suasana, biasanya cuma terdengar suara burung dan deru sapu, tapi kali ini penuh manusia berpenampilan necis, ada yang pakai jas kinclong, ada yang celananya masih bau setrika, dan ada juga yang kayaknya buru-buru datang biar kebagian kursi depan.

Udara belum terlalu panas, memang beberapa hari ini langit Palembang terlihat mendung,  tapi semangatnya lebih membara dari api… sudah seperti wajan lempok, mendidih. Di situlah Wali Kota Palembang, Ratu Dewa, hadir dalam acara pelantikan sekaligus pengukuhan Gerakan Masyarakat Sumatera Selatan Peduli Keadilan (GMS2PK) untuk masa bakti 2025–2030.

Temanya panjang –nian  seperti niat baik “Satukan Sinergi, Bangun Kepengurusan Berintegritas Untuk Peradaban Menuju Pembangunan Kota Palembang yang Berkeadilan”. wow komplit seperti roti bakar, tapi memang keren…..
Bahkan, bacanya saja bisa bikin lidah keseleo, tapi maknanya dalam kayak kopi hitam tanpa gula, pahit tapi mantap bikin mata terang dan nggak bikn ngantuk!.

Ratu Dewa tampil dengan gaya tenang di podium, wajahnya memancarkan wibawa khas pejabat yang sudah hafal kapan harus senyum dan kapan harus serius, dengan suara datar tapi penuh makna, ia pun memberi wejangan penuh makna.”Semoga GMS2PK mampu memberi kontribusi nyata bagi masyarakat dan bersinergi dengan Pemerintah Kota Palembang. Organisasi ini bukan hanya tempat kumpul, tapi wadah untuk berbuat nyata”.

Ucapan itu langsung disambut tepuk tangan panjang, walau beberapa tamu tampak masih sibuk menakar kadar gula di kopi masing-masing.

Di tengah suasana formal itu, seorang tamu berbisik ke sebelahnya, “Kalau sinerginya kayak kopi sama gorengan, pasti mantap nian”
Yang lain langsung nahan tawa.

Giliran berikutnya, Ketua Umum GMS2PK Safrizal melangkah ke depan. Langkahnya mantap, gayanya tegas, tapi senyumnya seperti habis nonton lawakan Srimulat serius tapi pengen ketawa.

“Kami akan membangun organisasi yang berintegritas, menegakkan keadilan, dan bertanggung jawab dalam menjalankan tugas,” ucapnya lantang.

Kalimatnya berapi-api, sampai kipas angin di pojok ruangan ikut berputar lebih cepat.

Safrizal menambahkan. “Terima kasih atas kepercayaan yang diberikan. Mohon dukungan dari semua pihak agar GMS2PK dapat bekerja dengan sebaik mungkin”.

Tepuk tangan menggema. Di barisan belakang, ada yang nyeletuk pelan. “Kalau butuh dukungan moral, siap, namun jika dukungan modal, nanti dulu”
Gelak tawa kecil pun pecah, menembus keseriusan acara.

Usai sambutan, suasana jadi lebih cair. Panitia membagikan kotak nasi dan kopi panas. Di sinilah momen paling hidup, obrolan ringan bertebaran seperti gorengan di piring.

“Organisasi ini berat, Bang,” kata seorang anggota muda sambil meniup kopi.
Safrizal tersenyum santai, “Berat kalau dipikul sendiri. Tapi kalau bareng-bareng, ringan… apalagi sambil ngopi”
“Ngopi sambil nunggu keadilan datang, ya, Bang?”
“Betul. Kadang keadilan datangnya setelah kopi kedua”

Satu meja langsung terguncang tawa, rupanya semangat GMS2PK ini bukan cuma soal idealisme, tapi juga rasa kekeluargaan yang kental dan tentu, kemampuan melawak di tengah tekanan.

Di sisi lain, Ratu Dewa tampak berbincang dengan beberapa tokoh masyarakat. Sambil tersenyum, ia berkata “Organisasi seperti ini sangat dibutuhkan. Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Kalau semua bisa bersinergi, pembangunan akan lebih cepat”

Kalimat itu terdengar seperti slogan resmi, tapi maknanya memang benar. Palembang butuh lebih banyak orang yang mau turun tangan, bukan cuma turun status di media sosial.

Pepatah lama bilang, “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”.  Namun  di dunia ormas, pepatahnya bisa diperbarui jadi, “Kritik sama dibahas, solusi sama dicari”, pasalnya tanpa itu, organisasi cuma jadi papan nama dan kop surat.

Waktu sesi foto bersama, panitia sibuk menyusun barisan.
“Geser dikit, geser dikit. Logo jangan ketutupan,” teriak seorang ibu panitia sambil ngatur posisi peserta.
Semua nurut, tapi satu bapak di tengah justru bercanda. “Kalau mukaku ketutupan logo, tandanya keadilan belum tegak, Bu”
Suasana pun kembali pecah dengan tawa.

Di sela-sela foto, ada yang nyeletuk, “Acara kayak gini enak, serius iya, lucu pun dapat”
Seseorang menjawab, “Namanya juga Palembang, semua urusan bisa dibumbui humor. Kalau nggak, nanti rasanya hambar”

Menjelang siang, acara ditutup dengan penuh harapan. GMS2PK resmi berdiri dengan semangat baru, membangun keadilan dari hal kecil, mulai dari cara berbicara, bersikap, sampai menata rasa lucu di tengah keseriusan.

Orang bijak pernah bilang. “Keadilan tanpa tawa kering, tawa tanpa keadilan garing”
Dan hari itu, di Rumah Dinas Wali Kota, dua-duanya hadir dalam satu cangkir kopi.

Ratu Dewa menutup sambutannya dengan kalimat sederhana tapi berisi, “Selamat kepada seluruh pengurus GMS2PK. Semoga membawa manfaat bagi masyarakat Palembang”

Dalam dunia yang penuh drama dan keseriusan, sedikit tawa bisa jadi jembatan menuju keadilan. Sebab orang yang bisa tertawa bersama, biasanya lebih mudah bekerja bersama.

Dan di Palembang, keadilan itu kini diseduh pelan-pelan dalam gelas kopi yang aromanya masih tercium sampai ke hati.[***]

Terpopuler

To Top