(Bilingual Article / Artikel Dua Bahasa: 🇮🇩 Indonesia – 🇬🇧 English Summary Below)
SEANDAINYA kalau sawah dan desa bisa ngomong, mungkin mereka udah ngetik status di WA “Lagi nunggu Sultan Muda, yang dulu janji nggak cuma nyari sinyal, tapi juga nanam harapan”.
Nah, memang benar, ternyata program Sultan Muda Digination Fest Piala Gubernur Sumsel 2025 ini datang di saat yang pas. Apalagi anak muda hari ini terlalu sering diadu cepat buka aplikasi, tapi jarang diajak buka ladang, padahal, ladang itu sekarang bukan sekadar urusan cangkul dan keringat, udah zamannya drone terbang, sensor tanah, dan aplikasi panen otomatis.
Gubernur H. Herman Deru udah  nyiapkan 100 ribu Sultan Muda, tapi kalau bisa tidak hanya diarahkan ke e-sport, poster digital, atau lomba lari biar keringetan dikit, ayo sekalian lari ke ladang!, karena masa depan bukan cuma soal viral, tapi soal vital kita makan apa kalau petani tinggal nama?.
Sumsel memiliki potensi cukup dan penghasil beras masuk 5 besar malah kabarnya naik jadi nomor 3 secara Nasional, bahkan bisa disebut Lumbung, bukan Lumpang!.
Kalau generasi mudanya lebih milih jualan skincare online daripada nanam cabai, bisa-bisa lima tahun lagi kita impor seledri dari Singapura.
Harusnya, Sultan Muda itu bukan cuma calon wirausaha kuliner kekinian, tapi harus lebih difokuskan CEO sawah digital, komisaris kebun hortikultura, dan direktur desa wisata agro!, itu porsinya harus lebih dbanding usaha lain, sebab desa di Sumsel menaruh harapan dengan sultan-sultan muda itu.
“Kalau anak muda bisa ngoding website, kenapa nggak sekalian ngoding irigasi?”
Sumsel bisa mencontoh negeri lain, sebut saja Jepang, rata-rata petani pegang tablet lebih sering daripada cangkul. Mereka pake AI buat atur pupuk, sensor kelembaban, bahkan cuaca!. Di Belanda, pertanian hidroponik dalam kontainer bisa panen tomat tanpa nunggu musim.
Di Korea Selatan, ladang stroberi bisa jadi tempat wisata selfie + tempat edukasi + tempat panen digital — 3-in-1 kayak kopi saset!.
Program Sultan Muda udah keren, tapi jangan kebanyakan gayanya, harus ada arah ke desa, dan perencanaan yang kuat, harus ada Sultan Ladang, bukan cuma Sultan Slide presentasi. Harus bikin subprogram “Sultan Ladang Digital” khusus petani muda berbasis teknologi.
Gandeng kampus pertanian, pesantren agrotech, dan komunitas agropreneur, libatkan Kementerian Pertanian + BUMDes dan koperasi anak muda, alokasikan dana insentif buat desa yang berhasil munculkan petani milenial., kembangkan desa sebagai “Kampus Agro Digital”, bukan cuma tempat mudik!.
Untuk anak muda harus sadar, seperti anak-anak muda di negara yang condong kembali terlibat dalam pembangunan desa, umpanya “jangan jadi anak muda yang lebih paham algoritma TikTok daripada sistem irigasi”.
“Kalau bisa nanam like di Instagram, harusnya bisa juga nanam tomat di pekarangan”
“Sultan sejati bukan yang naik Alphard, tapi yang bisa bikin hasil panen jadi bahan ekspor”.
“Kalau Pak Prabowo bisa jadi Presiden dari desa, kenapa kamu nggak bisa jadi pengusaha dari ladang sendiri?”
“Jadilah generasi yang panen ide dari tanah, bukan cuma scroll konten tiap malam”
Sumsel punya potensi luar biasa, tapi tanpa anak muda yang mau turun tangan (atau setidaknya remote drone), semua itu cuma angan-angan.
Desa dan sawah sedang menunggu, tapi bukan sekadar menunggu cuaca cerah, mereka menunggu Sultan Muda yang mau jadi Raja Panen Digital.[****]
———————————————————————————————————————–
“While Fields and Villages Wait for Young Sultans, Who Will Be the King of Digital Harvest?”
If rice fields could post on social media, they’d write “Still waiting for young sultans not just to search for a signal, but to sow real hope.”
The Sultan Muda Digination Fest 2025 arrives at just the right time. Too many youth race to launch apps, but not enough are being trained to launch harvests. Yet today, farming is no longer about sweat and soil it’s about drones, AI, and automated agriculture.
South Sumatra is already Indonesia’s 3rd largest rice producer, but that title is under threat. If young people keep choosing online selling over planting, soon we’ll import lemongrass from Taiwan!
Gubernur Herman Deru’s 100,000 Young Sultans must include:
-
Agri-entrepreneurs,
-
Farm-tech innovators,
-
Village tourism developers.
Because farming is now future-facing, tech-driven, and highly profitable  if done right.
-
Japan’s farmers are armed with tablets.
-
The Netherlands grows lettuce in shipping containers with AI.
-
Korea turns strawberry farms into tourism + learning + e-commerce hubs.
Friendly Critique, Serious Advice The Digination Fest needs less gaming, more growing.
Don’t let young minds stop at digital posters—let them plant digital farms!
Recommendations:
-
Launch “Digital Field Sultan” program
-
Collaborate with universities, agri-schools, and youth co-ops
-
Build a real agri-tech ecosystem in villages
-
Support youth-run agri-startups with national funding
-
Create digital farming internships
From the village, national leaders were born.
Now it’s time for the fields to raise future kings of harvest.
Not with capes or crowns but with smart apps, soil sensors, and sustainable dreams.