Religi

Reset Hati dan Mental Sebelum Ramadan Lewat Ibadah Kolektif

ist

MENJELANG Ramadan, sebagian besar orang sibuk memikirkan menu sahur, jadwal tarawih, atau belanja kebutuhan puasa. Tapi bagi beberapa warga Palembang, persiapan puasa dimulai dari hati dan pikiran, bukan sekadar tubuh. Salat Sunnah Tasbih menjadi cara mereka untuk “reset mental” menenangkan hati, dan menyelaraskan diri sebelum memasuki bulan suci.

Ibadah kolektif ini menawarkan pengalaman yang berbeda dibanding salat sendirian. Peserta merasakan ketenangan lebih dalam saat bacaan dan gerakan salat diselaraskan dengan energi orang lain di sekitarnya. Rasa kebersamaan muncul alami, membawa efek positif pada suasana hati dan fokus spiritual.

Seorang peserta menceritakan “Saat salat bersama, hati terasa ringan. Dzikir menjadi lebih khusyuk, dan saya bisa introspeksi tanpa terganggu pikiran sehari-hari. Rasanya seperti memberi ruang bagi diri sendiri sebelum Ramadan.”

Momen ini bukan hanya soal ibadah pribadi. Banyak yang menyadari  beribadah secara kolektif memberi dampak sosial. Solidaritas antarwarga meningkat, komunikasi lebih hangat, dan rasa kepedulian tumbuh lebih natural. Praktik sederhana seperti ini menekankan bahwa spiritualitas dan kehidupan sosial saling berkaitan, bukan dua hal yang terpisah.

Selain manfaat sosial, Salat Tasbih juga memberi pelajaran mental mengelola stres, menyelaraskan emosi, dan menegaskan niat baik. Aktivitas ini menjadi semacam “starter kit” untuk menghadapi Ramadan: peserta belajar memprioritaskan ikhlas dan ketenangan batin, bukan hanya rutinitas ritual.

Secara edukatif, pengalaman ini memberi insight bahwa ibadah bisa menjadi alat pengembangan diri. Bukan hanya menguatkan iman, tapi juga meningkatkan kesadaran diri, membangun disiplin mental, dan memperkuat empati terhadap lingkungan.

Dengan kata lain, ibadah kolektif bisa menjadi sarana self-care spiritual yang relevan untuk siapa saja.

Bagi mereka yang baru pertama kali ikut, sensasinya menyegarkan hati lebih ringan, pikiran lebih jernih, dan motivasi menjalani Ramadan terasa lebih tulus. Aktivitas seperti ini menunjukkan bahwa ibadah bukan sekadar kewajiban, tetapi proses refleksi dan perbaikan diri yang berdampak panjang.

Di penutup, Ketua TP PKK Kota Palembang, Dewi Sastrani Ratu Dewa, menegaskan “Salat Tasbih ini bukan hanya ritual, tapi wadah introspeksi. Kita membersihkan hati dan memperkuat ikatan sosial di masyarakat. Dengan niat ikhlas, kita mempersiapkan Ramadan lebih bermakna dan memberi teladan positif bagi lingkungan sekitar.”

Sementara Ustadz Dedi Rianto, imam Salat Tasbih, menambahkan “Keutamaan Salat Tasbih terletak pada keikhlasan dan fokus hati.”

Saat niat hanya untuk Allah, dosa diampuni, hati terasa ringan, dan persiapan menyambut Ramadan menjadi lebih bermakna. Salat bersama memberi energi spiritual yang sulit dirasakan sendirian. (***)

To Top