DI rumah Dinas Wali Kota Palembang di Jalan Tasik terlihat ramai manusia di hari kedua Idul Fitri 1447 Hijriah
Suasana yang hangat, cair, dan nyaris tanpa jarak.
Ribuan warga datang silih berganti, ada yang sekadar bersalaman, ada yang berbincang ringan, ada pula yang hanya ingin merasakan dekat dengan pemimpinnya.
Namun di antara ramainya tamu, satu momen mencuri perhatian.
Bukan karena gemerlap, bukan pula karena protokoler.
Melainkan karena makna yang tersirat di baliknya.
Kedatangan Dodi Reza Alex Noerdin, tokoh muda Sumatera Selatan, menjadi salah satu potret menarik dalam agenda open house tersebut. Ia hadir bersama sang istri, Thia Yufada, serta keluarga, termasuk Luri Elza Alex Noerdin.
Saat itu, tak ada sekat yang terasa.
Wali Kota Palembang, H. Ratu Dewa, didampingi Hj. Dewi Sastrani, menyambut langsung kedatangan mereka.
Jabatan tangan terjadi, senyum saling dilempar, dan percakapan mengalir begitu saja ringan, akrab, seperti kawan lama yang lama tak berjumpa.
Di momen seperti inilah, Lebaran menemukan maknanya yang paling jujur.
Bukan soal siapa datang dari kubu mana.
Bukan tentang posisi atau jabatan.
Melainkan tentang ruang untuk kembali menyambung yang mungkin sempat renggang.
Warga yang menyaksikan pun seolah ikut merasakan pesan yang sama.
Beberapa tampak mengabadikan momen, sebagian lainnya hanya memperhatikan sambil tersenyum.
Ada rasa bahwa apa yang terjadi di depan mereka bukan sekadar seremoni tahunan.
Ini adalah simbol.
Simbol bahwa komunikasi tetap bisa terjalin, bahkan di tengah dinamika politik yang kerap memanas di luar sana.
Open house pun berubah makna.
Ia bukan lagi hanya agenda formal, melainkan ruang temu—tempat di mana batas-batas itu perlahan menghilang.
Kehadiran keluarga besar Alex Noerdin menambah nuansa kekeluargaan yang kental. Percakapan yang terjalin di area utama rumah dinas terasa ringan, jauh dari kesan kaku atau formalitas berlebihan.
Semua tampak lebih manusiawi.
Lebih dekat.
Lebih nyata.
Dalam kesempatan itu, Ratu Dewa menyampaikan rasa terima kasihnya kepada seluruh tamu yang hadir.
Menurutnya, Idul Fitri adalah momentum yang tepat untuk mempererat kembali hubungan antarsesama, tanpa melihat latar belakang apa pun.
“Semangat Idul Fitri adalah untuk mempererat tali persaudaraan antar seluruh elemen bangsa, tanpa memandang latar belakang politik maupun jabatan,” ujarnya.
Pernyataan itu seolah menjadi penegas dari apa yang sudah terlihat sejak pagi.
Bahwa di hari kemenangan ini, yang menang bukan hanya mereka yang berhasil menahan lapar dan dahaga selama Ramadan.
Tapi juga mereka yang mampu membuka hati, menyambung silaturahmi, dan menurunkan ego—meski hanya untuk satu hari.
Dan mungkin, dari momen sederhana seperti inilah, harapan tentang kebersamaan itu pelan-pelan tumbuh kembali.
Di tengah riuhnya kota, di halaman sebuah rumah dinas, Palembang pagi itu memberi satu pelajaran kecil:
Bahwa kadang, yang dibutuhkan bukan panggung besar untuk menyatukan.
Cukup ruang, senyum, dan niat untuk saling mendekat.(***)