Properti

Rumah Idaman Wartawan, Dari Deadline ke Dinding Sendiri

ist

Sumselterkini.co.id, – Sudah terlalu lama wartawan hidup di bawah bayang-bayang berita orang lain. Hari ini meliput pejabat yang punya rumah mewah dengan tujuh kamar dan kolam renang berbentuk kepala naga. Besoknya wawancara artis yang baru beli vila di Puncak, lengkap dengan gazebo dan kucing Persia. Tapi begitu pulang kerja? Mereka tidur di kos-kosan selebar papan ketik, kamar mandi luar, dan jendela yang langsung menghadap… tembok tetangga.

Itu pun kalau nggak disuruh pindah karena kontrakan mau direnovasi, atau karena pemilik rumah tiba-tiba pengin “menempati sendiri”, istilah halus dari “udah capek kamu nunggak terus”.

Lalu datanglah kabar seperti oase di padang pasir yang panas -panas karena deadline dari Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria. Dalam sebuah acara yang judulnya panjang banget (kayak judul skripsi) Sosialisasi Program Akselerasi Kepemilikan Rumah bagi Karyawan Industri Media, Nezar datang membawa kabar baik Pemerintah lewat program FLPP, siap menyediakan 1.000 unit rumah buat para pekerja media. wartawan, editor, kameramen, penyiar, bahkan yang bagian jaga ruang editing juga boleh daftar. Asal kerja di media, masuk.

Kalau kamu pernah nulis berita, ngedit artikel, atau ngangkat tripod sambil dikejar deadline, selamat! Kamu masuk kategori manusia yang berhak dapat atap dan dinding sendiri.

Nezar tahu betul, di tengah kehidupan keras pekerja media yang tiap hari dicekokin isu korupsi, krisis ekonomi, sampai rebutan stasiun TV digital, mereka juga manusia. Mereka butuh rumah, bukan cuma ruang redaksi.

“Banyak dari mereka yang selama ini hidup di kos-kosan sempit, ngontrak dari gang ke gang. Mimpi punya rumah sendiri kayak mimpi mau wawancara presiden bisa, tapi perlu mukjizat,” ucap Nezar, dengan gaya blak-blakan tapi bersahaja.

Dan tentu saja, ada yang nyinyir. “Lho, ini rumah gratis buat wartawan? Wah, jangan-jangan ada udang di balik karpet!” Tuduhan pun berseliweran, seolah-olah rumah ini adalah strategi sunyi alias  cara halus [tanda kutip] untuk meredam “kritik dari insan media”.

Tapi Nezar langsung pasang badan. “Nggak ada itu cerita. Ini bukan rumah penghapus idealisme. Ini cuma rumah buat ngasih napas. Biar teman-teman media nggak lagi mikirin bayar kontrakan sambil nulis berita soal harga rumah yang makin absurd.”

Bayangkan pagi hari, seorang wartawan bangun dari ranjangnya yang bukan pinjaman. Bukan dari kasur busa empuk karena terpaksa (karena lantainya dingin banget). Tapi dari kasur sendiri, di rumah sendiri, di kamar sendiri. Ada meja kerja, ada rak buku (yang isinya belum tentu dibaca), dan dapur kecil buat bikin kopi sambil ngedit naskah.

Nggak perlu lagi sibuk mikirin, “Kalau bulan depan kontrakan naik, gue pindah ke mana?” atau “Kalau listrik mati, itu tanggung jawab siapa?” Kini ada kepastian. Rumah FLPP ini bikin para jurnalis bisa fokus ke liputan, bukan ngitung sisa uang sewa.

Dan jangan bayangkan rumahnya kayak rumah pinjaman zaman dulu. Ini rumah beneran. Bisa KPR, cicilan ringan, subsidi pemerintah. Udah gitu, kalau peminatnya banyak, bisa ditambah kuotanya. Tinggal minta ke Menteri Perumahan. Nggak perlu pakai demo atau tulis petisi.

Nezar juga mengajak asosiasi media, dari TV sampai radio, dari cetak sampai digital, buat bantu menyebarkan kabar baik ini. Bahkan, perusahaan media didorong supaya bisa masukkan ini jadi bagian dari program kesejahteraan karyawan. Jangan cuma kasih penghargaan jurnalis terbaik, kasih juga kesempatan punya rumah.

Bayangkan sebuah media yang bukan cuma punya rubrik properti, tapi juga bantu karyawannya punya properti. Indah, bukan?

Wartawan bukan cuma tukang ketik berita. Mereka penutur zaman, penyalur keresahan publik, dan kadang juga tempat curhat warga yang WA tengah malam soal jalan rusak. Tapi mereka juga manusia. Butuh ruang untuk rehat. Butuh dapur yang bukan kompor portable, kamar mandi yang nggak numpang, dan atap yang bisa dibilang, “Ini rumah gue.”

Program FLPP ini bukan hadiah. Tapi jalan. Jalan agar para pekerja media tak lagi jadi peliput kehidupan orang lain tanpa bisa membangun hidupnya sendiri. Jalan agar mereka bisa punya tempat pulang, setelah bertahun-tahun pulang ke tempat yang numpang.

Karena pada akhirnya, setiap orang berhak punya rumah. Termasuk mereka yang selama ini cuma punya tempat buat mengetik tapi belum punya tempat untuk istirahat.[***]

Terpopuler

To Top