Sabtu, 19 Sep 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Pojok Fisip UIN Raden Fatah » Jangan Lupa Bahagia

Jangan Lupa Bahagia

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Sabtu, 24 Jun 2023
  • visibility 1.804
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

“Fajar Sadboy lagi, Fajar Sadboy lagi,” gumam saya sembari menyisir varian informasi arus utama yang menyertakan Fajar Sadboy di dalamnya. Sadboy dan Sadgirl adalah istilah populer di budaya media sosial kita guna menamai orang-orang yang mudah sedih. Apakah ini glorifikasi kesedihan dalam jiwa anak muda yang kategori umurnya kerap dicap labil? Mungkinkah sekaligus ajang refleksi umat manusia yang kadar kelelahan mentalnya sudah berkutat di stadium tiga dan empat?  Atau hanya viralitas semu yang menjadi kendaraan media untuk mencari penonton dadakan? Entahlah.

Mencari ujung kesedihan bin kegalauan sama halnya seperti ungkapan lirik lagu almarhum Glen Fredly Sedih Tak Berujung. Tapi ngomong-ngomong, apakah kita sudah benar-benar bahagia? Atau jangan-jangan manusia berlabel Sadboy dan Sadgirl adalah kita?

Bicara bahagia, saya tidak ingin membahasnya dari sisi golongan rentang usia; gen X,Y,Z, baby boomer atau alpha. Sudah terlalu banyak perdebatan lahir di media sosial perkara saling menyalahkan antar kelompok usia ini. Bagaimana kalau kita melihatnya dari data global saja? Walaupun bahagia adalah sebuah perasaan yang sifatnya subjektif, temporer dan terjadi karena multifaktor, bahagia ternyata rutin diukur oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak 2013 melalui riset berjudul World Happiness Report. PBB pun menetapkan tanggal 20 Maret adalah Hari Bahagia Sedunia (International Happiness Day). Riset ini dilakukan terhadap kurang lebih 150 negara dan memiliki 6 indikator pengukuran negara bahagia; pendapatan domestik per kapita, dukungan sosial, harapan hidup sehat, kebebasan menentukan pilihan hidup, kedermawanan dan persepsi terhadap korupsi. Posisi 1 penduduk terbahagia sedunia sampai saat ini masih teguh tersemat ke negara Finlandia sebagai jawara bahagia tak tergoyahkan selama 5 tahun  berturut-turut.

Di mana posisi Indonesia? Tampaknya kita, warga sipil Indonesia, harus cukup berbesar hati dengan posisi ke 87 dari 146 negara. Lumayan. Setidaknya tidak berada di kumpulan 10 besar terakhir. Menilik angkanya, kondisi bahagia Indonesia masuk ke kategori angka ‘menengah ke bawah’, hampir serupa dengan dominasi kelas sosial ekonomi masyarakat Indonesia yang kerap disebut masyarakat kelas menengah alias middle class society.

 

Aspiring Middle Class

Bank Dunia (World Bank) melalui laporannya yang berjudul Aspiring Indonesia-Expanding The Middle Class (2019) memaparkan 5 jenis kelas sosial di Indonesia; miskin (poor), rentan (vulnerable), menuju kelas menengah (aspiring middle class), kelas menengah (middle class) dan kelas atas (upper class). Ternyata, porsi paling besar itu bukan didominasi oleh middle class (20% populasi) yang hanya sejumlah 53,6 juta penduduk melainkan oleh aspiring middle class (44% populasi) atau sejumlah 114, 7 juta penduduk. Kelompok aspiring middle class ini umumnya berada di wilayah perkotaan dengan jumlah tertinggi berada di ibukota Jakarta. Capaian pendidikan umumnya lulusan SMP dan SMA dan dominasi terbesar pekerjaan adalah karyawan upah rendah dan usaha pribadi.

Marilah kita fokus pada kategori terbesar ini yakni mereka yang angka konsumsi bulanannya berkisar antara Rp 532.000 sampai dengan Rp 1.200.000 per orang per bulan. Sementara, berdasarkan informasi pendapatan rata-rata orang Indonesia yang dilansir dari Kumparan (2019) menyatakan angkanya adalah Rp 4,6 juta/bulan. Artinya, kelompok terbesar ini taraf hidupnya masih jauh sekali di bawah rata-rata nasional. Maka tak heran jika masyarakat Indonesia masih mudah dan marak dijajah pinjaman online (pinjol).

Pendapatan rendah dan kemampuan kognitif masyarakat yang juga rendah adalah paket sempurna untuk menjadi korban pinjol. Korban pinjol yang bertumbangan secara sukarela, suka sengaja atau suka abai tak jadi soal. Namun faktanya, OJK mencatat aduan terhadap fintech peer-to-peer (P2P) lending resmi maupun pinjol ilegal mencapai 19.711 kasus selama kurun waktu 2019-2021. Adapun tiga alasan tertinggi para korban pinjol menurut riset No Limit Indonesia (2021) antara lain untuk membayar hutang, karena berasal dari golongan menengah ke bawah yang butuh uang dan karena dana cair lebih cepat. Sementara, dari sisi demografi, 42% korban jeratan pinjol adalah mereka yang berstatus guru, 21% korban PHK dan 18% ibu rumah tangga.

Jika kemampuan pemenuhan kebutuhan hidup yang pokok saja masih kembang kempis, kalang kabut dan gali lubang tutup lubang, bagaimana bisa  dikatakan hidup sejahtera? Apalagi bahagia? Pendapatan per orang jelas memiliki efek domino dalam siklus hidup. Pertama, efek instan dari pendapatan rendah adalah daya beli rendah. Jika daya beli rendah, maka pasokan produksi barang dan jasa akan mengalami penurunan permintaan dimana imbasnya ke lapangan kerja yang menyusut sehingga rentan terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK). Kedua, ketiadaan pekerjaan dan pendapatan adalah pemantik meluasnya kemiskinan. Ketiga, ancaman meningkatnya kriminalitas. Polri melaporkan kejahatan terjadi sebanyak 276.507 kasus di 2022. Angka kriminalitas ini naik  7,3% dibandingkan tahun 2021.

Bicara pendapatan per orang sejatinya baru bicara turunan dari satu indikator negara bahagia sebagaimana yang dirumuskan PBB. Apa kabar 5 indikator yang lain? Misalnya persepsi terhadap korupsi. Data dari Indonesian Corruption Watch (ICW) per Juni 2022 menunjukkan bahwa potensi kerugian negara akibat kasus korupsi mengalami peningkatan. Tercatat ada 1.387 kasus korupsi di tingkat penyidikan namun aparat penegak hukum baru bisa merealisasikan 18 persen dari keseluruhan kasus tersebut. Tak tanggung-tanggung, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) juga berhasil menyeret 34 kepala daerah, hakim agung sampai seorang rektor universitas negeri ke pengadilan tipikor sepanjang 2022.

Menulis ini pun membuat saya ingin menenggak parasetamol karena mengernyitkan kening tak sudah-sudah. Betapa situasi negeri ternyata turut mempengaruhi pikiran para warga sipil seperti saya.

 

Cara Pindah Kuadran

Pekerjaan rumah kita pada dasarnya bukan hanya perkara menaikkan ranking negara bahagia dari peringkat 87 menuju 50 besar. Namun, bagaimana agar kelompok aspiring middle class yang sejumlah 114,7 juta penduduk tadi benar-benar bisa berpindah kuadran ke middle class? Melihat kenyataannya, titel aspiring middle class ini bak garnis dalam piring hidangan yang membuat kelompok ‘menuju kelas menengah’ ini terlihat menyerupai dan akan segera mencapai ‘kelas menengah’ yang ideal karena dilabeli kemampuan finansial yang aman. Nyatanya, tidak sesederhana itu.

Masalah seputar ekonomi dan pendidikan dari perspektif makro nan majemuk ini memang tidak bisa diselesaikan sendirian oleh pemerintah. Namun, kebijakan pemerintah yang tepat sasar terkait kesejahteraan guru, dosen, pegawai dan buruh di Indonesia juga bisa menjadi batu pijakan menuju Indonesia Emas 2045. Pendidikan dulu, sekarang dan nanti akan tetap menjadi tulang punggung suatu negara yang maju, berdaya dan berkarakter. Saya jadi ingat kata dokter Ryu Hasan, “Pendidikan yang tinggi memang tidak menjamin seseorang itu akan kaya raya, tapi setidaknya akan ‘memperbesar peluang’ seseorang untuk menjadi kaya.”

Lifting aspiring Indonesians into the middle class means having more of them finishing high school & ideally going further”, demikian bunyi salah satu simpulan dari laporan Bank Dunia ini terhadap kelompok aspiring middle class.  Membacanya seolah dejavu dengan petuah bijak populer orang tua dari jaman dulu, ”Nak, kamu sekolah yang rajin dan setinggi mungkin yah.”

 Sebagai individu yang sudah mengenyam pendidikan formal di berbagai institusi, saya pun merasa ‘bahagia’ juga tidak serta merta linier dengan tingginya pendidikan. Rating bahagia bergantung pada banyak angka variabel dalam rumus kehidupan seseorang.  Kita tidak bisa menjaga angkanya harus terus naik dan meroket, karena menjaganya tetap seimbang saja sudah sebuah prestasi.  Seiring bertambah umur, maka kemampuan saya mengatur stres, sedih, kecewa dan setumpuk emosi negatif itu juga makin mahir.  Makin mahir pula dalam kemampuan terlihat bahagia di situasi yang sebenarnya tidak bahagia-bahagia amat. Kesimpulan subjektif saya; bahagia itu sesungguhnya relatif dan situasional. Satu lagi, bisa kita kontrol juga kok, asal tahu caranya.

Sebuah tagar populer di media sosial yang telah dipakai lebih dari 3,7 juta kiriman sepertinya cocok untuk kita yang kadang juga menjadi Sadboy dan Sadgirl saat mengalami kegamangan temporer. #janganlupabahagia yah!

 

Oleh : Sari Bayurini Samudra, S.Sn., M.M.

Dosen Ilmu Komunikasi UIN Raden Fatah Palembang

 

 

–End–

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Konsisten Dukung Penerapan ISPO

    Konsisten Dukung Penerapan ISPO

    • calendar_month Jumat, 28 Mei 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 716
    • 0Komentar

    PEREMAJAAN kelapa sawit hingga pengelolaan kelapa sawit menjadi bensin sawit di Indonesia, Pemerintah Kabupaten Muba dibawah kepemimpinan Bupati Dr H Dodi Reza Alex Noerdin Lic Econ MBA sekaligus sebagai Ketua Umum Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) terus mendukung Program Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) hingga kancah  dunia. Totalitas ini yang membuat banyak pihak tertarik mengadirkan […]

  • Gencar Lindungi Perempuan dan Anak, Pemkab Muba Peroleh Hibah Mobil dari Kemen-PPPA

    Gencar Lindungi Perempuan dan Anak, Pemkab Muba Peroleh Hibah Mobil dari Kemen-PPPA

    • calendar_month Kamis, 20 Des 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 930
    • 0Komentar

    Sekayu-Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen-PPPA) akan menghibahkan Mobil Perlindungan Perempuan dan Anak (MOLIN) dan Motor Perlindungan Perempuan dan Anak (TORLIN) untuk Dinas Pemberdayaan Perempuandan Perlindungan Anak di 114 Kabupaten/Kota di Indonesia, dan salah satunya daerah yang terpiilih yakni Kabupaten Musi Banyuasin. Pemberian Molin dan Torlin tersebut merujuk pada Surat Keputusan Menteri Pemberdayaan Perempuan […]

  • Angin Kencang Akibatkan 20 Rumah Rusak dan Satu Warga Kota Lubuklinggau Luka Berat

    Angin Kencang Akibatkan 20 Rumah Rusak dan Satu Warga Kota Lubuklinggau Luka Berat

    • calendar_month Senin, 11 Apr 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.196
    • 0Komentar

    ANGIN kencang yang terjadi pada Minggu petang (10/4), pukul 17.30 WIB, di Kota Lubuklinggau, Provinsi Sumatera Selatan, berdampak pada kerusakan rumah dan korban luka. Kejadian tersebut berlangsung saat hujan lebat mengguyur wilayah kota tersebut. Kelurahan terdampak berada di RT06, Kelurahan Eka Marga, Kecamatan Lubuklinggau Selatan II, Kota Lubuklinggau. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat melaporkan […]

  • BumDes Mart Sidorejo Raih Omzet Rp 209 Juta Per bulan

    BumDes Mart Sidorejo Raih Omzet Rp 209 Juta Per bulan

    • calendar_month Kamis, 13 Sep 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.209
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.CO.ID, KELUANG – Kinerja Badan Usaha Milik Desa (BumDes) Mart Sidorejo, Kecamatan Keluang, Kabupaten Musi Banyuasin [MUBA] sangat positif meski pun baru seumur jagung, namun sudah meraih omzet Rp209 Juta per bulan. “BumDes Mart Sidorejo dibangun  dengan menggunakan Dana Desa. Badan Usaha Milik Desa (BumDes) Mart Sidorejo Kecamatan Keluang Kabupaten Musi Banyuasin juga menjual hasil […]

  • Jembatan Kandis ‘Masuk UGD’, Bupati Turun Tangan Sebelum Kritis!

    Jembatan Kandis ‘Masuk UGD’, Bupati Turun Tangan Sebelum Kritis!

    • calendar_month Rabu, 19 Mar 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.000
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id,- Pagi-pagi buta, saat sebagian warga masih menikmati kopi dan gorengan, Bupati Ogan Komering Ilir (OKI), H. Muchendi, sudah tancap gas menuju Desa Kandis. Bukan buat piknik, apalagi inspeksi dadakan ala sinetron, tapi buat ngecek langsung jembatan yang lagi ‘sakit parah’ gara-gara opritnya ambruk dihajar arus sungai. Keadaan genting ini nggak bisa ditunda, soalnya jembatan […]

  • Upacara Pembukaan Asuransi ProCap, Grand Opening Ceremony cum Gala Dinner ProCap Insurance: Pelanggan dan Stakeholder Berpartisipasi Penuh Semangat dalam Grand Opening Ceremony

    Upacara Pembukaan Asuransi ProCap, Grand Opening Ceremony cum Gala Dinner ProCap Insurance: Pelanggan dan Stakeholder Berpartisipasi Penuh Semangat dalam Grand Opening Ceremony

    • calendar_month Sabtu, 17 Jun 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 4.285
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, LONDON,  (GLOBE NEWSWIRE) – Lebih dari 300 mitra dan rekanan dari lebih dari 12 negara dan wilayah berkumpul di Newport City Resort World Manila untuk menyemarakkan Upacara Pembukaan Akbar ProCap Insurance sekaligus gala dinner . Acara tersebut bukan hanya selebrasi, tetapi juga puncak dari pertukaran lintas budaya. Pada hari istimewa ini, para peserta benar-benar […]

expand_less
WordPress Archive Crossway – Startup Landing Page Template Crowdngo – Fundraising Charity WordPress Theme CROX Esports & Gaming Elementor Template Kit CROX | Esports & Gaming WordPress Theme Crptiam – Cryptocurrency WordPress Theme Crust – Multipurpose WordPress Theme Crux – A modern and lightweight WooCommerce theme Cryptcio – Innovative WordPress Theme Cryptcon | ICO, NFT And Crypto WordPress Theme Cryptech – ICO and Cryptocurrency WordPress Theme