Perbankan & Keuangan

Waduh, Rupiah Tertekan Lagi

Sesuai data JISDOR rupiah melemah menjadi 13.793 per dolar AS dari sebelumnya 13.707 per dolar AS.

foto : ilustrasi

SUMSELTERKINI.ID, Jakarta – Bank Indonesia (BI) memastikan telah hadir di pasar keuangan untuk melakukan intervensi terhadap pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS yang tertekan.

Bank sentral mengguyur pasar keuangan menggunakan cadangan devisanya agar ketersediaan dolar AS tetap terjamin di pasar keuangan. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Doddy Zulverdi mengatakan dengan adanya intervensi dari Bank Indonesia ini, pelemahan Rupiah bisa lebih terkontrol. Hari ini, sesuai data JISDOR rupiah melemah menjadi 13.793 per dolar AS dari sebelumnya 13.707 per dolar AS.

“BI ada di pasar. Tentu tidak di setiap titik, tidak setiap saat kita masuk. Hanya di saat pelemahan cepat sekali, jangan sampai kecepatan pelemahan berlebihan,” ujar dia di kantor pusat BI, Jakarta,melansir Warta Ekonomi.co.id, Kamis (1/3/2018).

Dia menjelaskan, ketika nilai tukar Rupiah menyentuh level Rp13.800 per dolar AS, BI sudah ada di pasar sejak pasar dibuka pagi tadi untuk melakukan intervensi.

“Sejak pasar valas di buka jam 08.00 pagi, kami sudah langsung siap. Semua data yang muncul di pasar AS, sudah antisipasi kayaknya jam 08.00 ada tekanan besar. Karena itu begitu market buka, kita sudah antisipasi. Karena kami terus konsisten jaga, kita lihat siang ini sudah mulai reda. Angkanya sudah agak sedikit turun walaupun sudah di atas Rp13.750.

Angka terakhir 13.755. Itu konsistensi BI untuk stabilisasi, untuk memastikan walaupun harus melemah, tapi yang penting pelemahan dijaga supaya tidak terlalu cepat,” jelas dia.

Hanya saja, Doddy tidak bisa memastikan berapa cadangan devisa yang telah diguyurkan ke pasar, mengingat itu adalah bagian dari strategi Bank Indonesia yang bersifat rahasia.

“Tapi, jangan diartikan kalau ada laporan cadev bulan ini, misalnya ada pengurangan US$10 miliar terus diartikan kita telah intervensi pasar dengan jumlah segitu, tidak bisa,” tegas Doddy.

Lebih jauh, dikatakannya, pelemahan ini lebih disebabkan karena faktor global terutama spekulasi pasar mengenai kenaikan suku bunga The FED dalam FOMC. Sentimen tersebut disinyalir menarik dana asing keluar negeri.

“Ini sebenarnya pengaruh global, terutama spekulasi pasar mengenai rencana kenaikan suku bunga oleh The Fed dalam FOMC bulan depan. Jadi, bukan karena faktor domestik,” kata Doddy.

Sentimen seperti saat ini, diperkirakan Doddy masih terus berlanjut hingga rapat FOMC usai dilaksanakan. Baru setelah itu, volatilitas Rupiah lebih stabil. Meski begitu, cadangan devisa Indonesia dipastikan masih aman dan mencukupi untuk menjaga volatilitas Rupiah tersebut.

Comments

Terpopuler

To Top