Sabtu, 19 Sep 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Perbankan & Keuangan » “Digitalisasi Bank Daerah, Jangan Sampai Aplikasi Canggih, Tapi Masyarakat Masih Nabung di Celengan Ayam”

“Digitalisasi Bank Daerah, Jangan Sampai Aplikasi Canggih, Tapi Masyarakat Masih Nabung di Celengan Ayam”

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Jumat, 20 Jun 2025
  • visibility 792
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sumselterkini.co.id, -Jakabaring mungkin adem-adem panas akibat suhu bumi meningkat tajam, tapi suasana Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Bank Sumsel Babel cukup adem, maklum, AC sentral dan  minuman yang bikin tak kering tenggorakan, apalagi kopi panas gratisan bikin mata tak ngantuk, kepala pun ikut dingin, meski isi laporan keuangan bikin mumet otak dengan suguhan angka.

Hadir di tengah kemilau layar proyektor dan jargon “transformasi digital”, Bupati Musi Banyuasin, Pak H. M. Toha, terlihat semangat menatap masa depan. Tapi, mari kita luruskan sedikit jangan sampai  terlalu semangat menuju masa depan digital, tapi dompet rakyat tetap tinggal di masa lalu.

Digitalisasi bank daerah salah satu dibahas sangat menarik,  itu ibarat ngajarin nenek bikin TikTok, niatnya bagus, tapi jangan sampai lupa ngajarin cara buka aplikasinya dulu sesuai tema RUPS tahun ini “Peningkatan Perekonomian Daerah melalui Transformasi Digital”.

Tema itu terdengar ciamik seolah-olah kalau kita cukup banyak menekan tombol digitalisasi, ekonomi bisa langsung berubah bahkan melesat kayak saldo e-wallet pas baru gajian. Namun perlu diingat, tidak semua rakyat Muba (apalagi yang tinggal di Dusun Pangkalan Nyirih atau perbatasan Bayung Lencir) kenal dengan kata QRIS, apalagi tahu bedanya dengan krisis.

Bupati Toha bilang bahwa Bank Sumsel Babel perlu menjangkau masyarakat desa, betul itu, pak,… benar itu pak…mari tepuk tangan dulu….!,  sebab kalau cuma canggih di kota tapi lelet di desa, itu bukan transformasi digital, tapi transformasi pepesan kosong berteknologi tinggi. “Jangan sampai bank-nya seperti mall besar tapi parkirannya sempit dari jauh mewah, tapi rakyat ogah masuk”.

Lihat contoh Bank Jago di Indonesia branding-nya anak muda, aplikasinya luwes, walau nggak ada kantor cabang di pelosok, tapi bisa kasih pinjaman dengan dua kali klik dan verifikasi wajah, bahkan  di luar negeri? KakaoBank dari Korea Selatan sukses merangkul generasi rebahan dengan layanan full digital, bedanya dengan beberapa bank daerah kita?. KakaoBank tahu cara merayu hati rakyat pakai fitur, bukan cuma baliho dan brosur.

Nah, ini contoh menarik bapaknya semua bank pedesaan!. Didirikan Prof. Muhammad Yunus (yang kemudian dapet Nobel Perdamaian), Grameen Bank fokus memberi pinjaman mikro tanpa agunan ke masyarakat miskin dan pedesaan, terutama ibu-ibu rumah tangga di desa. Logikanya sederhana kalau ibu-ibu bisa pinjam buat beli ayam atau bahan usaha kecil, nanti bisa mandiri dan melawan kemiskinan. Perumpamaannya “Kalau Grameen Bank itu kayak warung kopi keliling yang ngerti selera warga, bukan cafe mahal yang jualan latte susah dibaca”.

NAB Agribusiness Australia, bagian dari National Australia Bank (NAB), unit Agribusiness Banking ini fokus ke petani, peternak, dan komunitas desa. Mereka paham bahwa petani itu penghasilannya musiman. Jadi, sistem pembiayaannya nggak dipukul rata kayak cicilan mobil di kota. Mereka bikin model pembayaran berbasis musim panen atau produksi ternak.Perumpamaan “Kalau NAB ini kayak saudara jauh yang ngerti kamu cuma punya uang pas musim panen jagung, dia nggak maksa kamu bayar saat tanaman baru tumbuh”.

Balik lagi ke Indonesia, Bank Rakyat Indonesia (BRI), layak ditiru juga, di skala global BRI disebut-sebut sebagai contoh terbaik “rural banking” di dunia oleh banyak lembaga keuangan internasional. Mereka punya unit mikro hingga pelosok desa, bahkan ada program BRILink yang bikin warung tetangga bisa jadi agen bank. Ibaratnya “kalau BRI itu bukan sekadar bank, tapi kayak simpan pinjam RT yang diangkat jadi BUMN.”

Bank of Agriculture di Nigeria, bank itu fokus ke petani, peternak, dan pelaku agribisnis di pedalaman Nigeria. Mereka nggak cuma kasih kredit, tapi juga pelatihan dan pendampingan. Umpanya “Kayak kamu dikasih motor, sekalian diajarin cara nyetir dan dikasih helm, bukan cuma dikasih utang lalu ditinggal nikah sama orang lain”.

 RaboBank di Belanda, asalnya dari koperasi petani, RaboBank dulunya adalah “co-op” kecil milik petani-petani susu di desa Belanda, sekarang memang sudah jadi raksasa global, tapi sampai sekarang mereka masih punya program khusus untuk pembiayaan pertanian kecil dan desa. Umpanya “RaboBank itu kayak mantan petani yang sekarang jadi konglomerat, tapi masih inget rasanya jadi buruh nyabit rumput di pagi buta”.

Jadi kalau Bank Sumsel Babel ingin tetap bersinar di tengah kompetisi, bukan hanya soal rapat tahunan, tapi bagaimana menyentuh kebutuhan sehari-hari masyarakat, nelayan yang ingin nyicil kapal pakai aplikasi, petani karet yang bisa tarik tunai tanpa perlu antre di kantor unit yang bukanya jam 9 tutup jam 11.

Ingat pepatah orang tua “Kalau mau berdagang di pasar, jangan cuma lihat langitnya terang, tapi pastikan lapakmu nggak bocor”. Begitu pula dengan perbankan digital, jangan cuma bangga dengan server dan sistem, tapi lupa koneksi internet warga kampung masih putus-sambung kayak hubungan mantan.

Dan soal ekspansi manajemen dan struktur permodalan? Wah, itu bahasa dewa-dewa langit, he..he, rakyat cuma mau tahu bisa pinjam nggak?, bunga berapa?, bayarnya jangan bikin makan mie rebus 21 hari.

Kalau digitalisasi perbankan ini ibarat perjalanan naik sepeda, maka jangan cuma sepeda listrik-nya yang kinclong, tapi pastikan juga ada jalan aspalnya. Jangan sampai rakyat disuruh naik sepeda digital di jalan berlubang sinyal, itu bukan transformasi, itu jebakan batman!.

Jadi, terus maju, Bank Sumsel Babel, namun majunya jangan pakai lari sprint elite Jakarta, yang jaraknya cuma dari WiFi ke ruangan meeting, majulah pelan-pelan tapi pasti, sambil ngajak emak-emak tani dan anak muda desa ikut serta, karena kalau tidak, ya percuma kita punya aplikasi secanggih langit, tapi saldo rakyat tetap nyangkut di kolong kasur. Digital boleh, tapi jangan sampai jadi “dagang online tapi nyimpennya di celengan ayam”.

Kalau bicara digitalisasi bank daerah, kadang-kadang itu mirip kayak kita beliin HP canggih buat Pak RT, tapi gak ajarin cara buka WhatsApp. Akhirnya HP-nya cuma dipakai buat center cari kunci pagar. Teknologi tanpa pendampingan itu ya jadi pajangan kayak punya kulkas dua pintu, tapi listriknya belum nyambung.

Bank Sumsel Babel harus hati-hati jangan sampai cuma sibuk ikut seminar fintech, tapi lupa bahwa di desa, ada simpan pinjam emak-emak arisan yang lebih laku dari ATM. Jangan cuma bangga dengan aplikasi pakai fingerprint kalau sidik jari petani kita masih belepotan lumpur habis nanam padi.

Lihatlah Grameen Bank yang ngasih pinjaman ke ibu-ibu tanpa agunan, atau RaboBank yang lahir dari petani, bukan dari kantor ber-AC. Bahkan Nigeria pun bikin bank buat petani, padahal kita sering nyepelein Nigeria kecuali pas nonton Piala Dunia.

Maka dari itu, mari kita akhiri dengan satu wejangan dari kakek saya, yang dulu pernah jadi bendahara kelompok tani meski cuma lulusan SD.  Semoga Bank Sumsel Babel dan pemegang sahamnya bisa mendengarkan suara dari ladang, bukan hanya dari layar LCD, sebab, ekonomi itu bukan cuma soal angka dan bunga, tapi soal kepercayaan, kemudahan, dan kemampuan rakyat nyambung ke masa depantanpa kehilangan sendalnya di tengah jalan.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mobil Pertama Karl Benz: Kendaraan Kecil Membuka Jalan Besar

    Mobil Pertama Karl Benz: Kendaraan Kecil Membuka Jalan Besar

    • calendar_month Kamis, 30 Jul 2026
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 31
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.CO.ID – Bentuknya sederhana. Rodanya hanya tiga. Kecepatannya rendah jika dibandingkan dengan kendaraan masa kini. Tidak ada kabin nyaman, sistem digital, atau berbagai teknologi keselamatan modern. Namun, kendaraan kecil itu mencatat sebuah langkah penting dalam sejarah transportasi. Namanya Benz Patent-Motorwagen, kendaraan bermesin karya insinyur asal Jerman, Karl Benz, menjadi salah satu tonggak awal perkembangan mobil modern. […]

  • THR: Dari Ketulusan, Bukan Paksaan

    THR: Dari Ketulusan, Bukan Paksaan

    • calendar_month Kamis, 27 Mar 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 838
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id,- Lebaran tuh emang spesial! Gak cuma soal ketupat, opor ayam, atau tradisi mudik yang bikin jalanan kaya lautan manusia. Ada satu hal yang gak pernah absen tiap Idulfitri, yakni bagi-bagi THR! Nah, Wakil Menteri Agama (Wamenag) Romo HR Muhammad Syafii juga setuju banget nih. Menurut beliau, berbagi THR itu tradisi yang indah dan udah […]

  • Kuda Bernama Jethro & Flash Jordan Bawa ‘Dua Srikandi’ Daftar ke KPU Kota Palembang

    Kuda Bernama Jethro & Flash Jordan Bawa ‘Dua Srikandi’ Daftar ke KPU Kota Palembang

    • calendar_month Rabu, 28 Agt 2024
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.091
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, – Pasangan calon (paslon) wali kota dan wakil wali kota Fitrianti Agustinda-Nandriani Octarina naik kuda saat mendaftarkan diri ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Palembang, Rabu (28/8/2024). Duo Srikandi  tersebut tiba di kantor KPU Palembang sekitar pukul 13.00 WIB, yang dikawal ratusan orang pendukungnya. Fitri-Nandri langsung menunggangi kuda yang masing-masing bernama Jethro dan Flash […]

  • Geger, Mayat Mister X Ditemukan Warga Pancawarna

    Geger, Mayat Mister X Ditemukan Warga Pancawarna

    • calendar_month Sabtu, 23 Nov 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.978
    • 0Komentar

    WARGA Desa Pancawarna, Kecamatan Pedamaran Timur, Kabupaten Ogan Komering Olir (OKI) digegerkan dengan temuan mayat laki-laki mister X [tanpa identitas] yang tergeletak di kebun karet milik warga setempat, Sabtu (23/11/19) pagi. Jasad pria pertama kali ditemukan oleh Ari Susanto (28) asal Desa Pancawarna, sekitar Pukul 06.30 WIB, pada saat sedang menyadap karet di kebun miliknya, dengan ciri […]

  • 5 Kata Ini yang Jadi Fokus Pembicaraan Antara Komjen India dan Sekda Palembang

    5 Kata Ini yang Jadi Fokus Pembicaraan Antara Komjen India dan Sekda Palembang

    • calendar_month Senin, 9 Sep 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.046
    • 0Komentar

    SEKRETARIS Daerah (Sekda) Kota Palembang, Ratu Dewa menerima kunjungan Konsul Jenderal (Konjen) India, Raghu Gururaj di Rumah Dinas Walikota Palembang, Senin (9/9/2019). Ratu Dewa menyampaikan kepada Raghu Gururaj bahwa Kota Palembang menjadi salah satu dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Indonesia. Ia juga menambahkan Kota Palembang merupakan kota layak huni, kota budaya dan pariwisata. “Palembang juga merupakan […]

  • Cara Pertamina Siapkan Skenario Hadapi Tantangan Energi

    Cara Pertamina Siapkan Skenario Hadapi Tantangan Energi

    • calendar_month Kamis, 29 Jun 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.805
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id,- PT Sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di sektor energi, PT Pertamina (Persero) semakin gencar mengembangkan inisiatif program transisi energi. Langkah tersebut menjadi prioritas Pertamina dalam rangka mewujudkan ketahanan energi nasional, aksesibilitas, keterjangkauan, akseptabilitas dan keberlanjutan. Dalam forum Leadership Dialogue Energi Asia di Kuala Lumpur Malaysia (Rabu 28/6), Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Nicke […]

expand_less
WordPress Archive Mimit – Ultimate News & Magazine WordPress Theme Mindary – Psychology & Counseling Elementor Template Kit MindCare – Psychology and Counseling WordPress Theme Mindity – Psychologist Teraphist Elementor Template Kit Mindly – Psychology, Therapy & Counseling Elementor Template Kit Mindtech – IT Solutions & Services Company Elementor Template Kit Mindwellness – Psychology and Counseling WordPress Theme Mine Flipbook WordPress Plugin Minera - Minimalist WooCommerce WordPress Theme Minera Skincare & Dermatology Elementor Template Kit