SABTU akhir pekan ini, Gedung Dome Serbaguna Poltekpar Medan kayak pasar kaget versi akademik, ratusan wisudawan berbaris rapi, wajah sumringah tapi mata merah, mungkin karena skripsi atau kebiasaan begadang.
Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa hadir langsung, tatapannya serius tapi ramah, seolah bilang, “Anak-anak, perjuangan kalian nggak sia-sia, tapi dunia nyata lebih kejam daripada dosen pembimbing”.
Wisuda memang selalu dramatis, ada yang nangis karena senang, ada yang nangis, karena sadar hutang kuliah nyata, ada juga yang nangis karena takut kerja pertama lebih kejam daripada skripsi. Tapi inti momen ini jelas wisuda bukan sekadar toga dan foto Instagramable, tapi tanda kalian siap masuk gelanggang nyata, siap ngacak pariwisata Indonesia.
Pidato Wamenpar bikin kita mikir “Indonesia bangkit, bro…. wisatawan mancanegara 2024 sudah 13,9 juta orang, tahun ini 10 juta lebih. Kalau kalian lulus, siap jadi motor penggerak, bukan sekadar tukang selfie di Pantai Kuta”.
Beliau membagikan empat pesan emas, jangan berhenti belajar, bangun jejaring, jaga integritas, ingat akar budaya. Bayangkan, jika lupa akar budaya, bisa-bisa promosi wisata malah bilang, “Datanglah ke Medan, kami punya rendang… eh salah, rendang itu Minang, bukan Medan”.
Direktur Poltekpar Medan Ngatemin menambahkan fakta bikin tepuk tangan sendiri 82% lulusan langsung dapat pekerjaan kurang dari enam bulan, 50% sudah bekerja sebelum wisuda.
Artinya, kampus ini kayak pabrik superhero, kelulusan berarti kalian bukan cuma sarjana, tapi punya “sertifikat kerja” dunia nyata. Tinggal pasang jubah toga, terbang, hajar dunia pariwisata.
Kisah wisudawan paling lucu datang dari komentar spontan, ada yang bilang, “Semester akhir itu roller coaster, skripsi bikin muntah, magang bikin pusing, tiba-tiba wisuda datang seperti lumba-lumba ngajak selam ke laut kesuksesan”.
Ada juga yang lebih dramatis “Belajar tiga tahun, magang lima tempat, baru sadar nyetir karier nggak semudah nyetir GoCar di Medan”
Kalau tarik benang merah, wisuda ini ibarat pepatah lama “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian”, selama kuliah, wisudawan berjuang, magang larut malam, skripsi bikin mata panda, sekarang saatnya panen peluang di sektor pariwisata yang sedang mekar.
Dari seminar, training, praktik di hotel dan destinasi wisata, lulusan dibekali ilmu praktis dan profesional, jadi jika ada yang bilang lulusan politeknik cuma bisa bikin laporan, mereka bisa balas sambil nyengir, “Coba tanya wisatawan mancanegara yang baru pulang Danau Toba, mereka pasti hafal nama saya karena pelayanan saya kece badai”.
Moment ini juga bikin refleksi, sebab dunia pariwisata bukan sekadar destinasi, tapi pengalaman, keberlanjutan, kesejahteraan masyarakat lokal.
Artinya, lulusan baru bukan sekadar guide atau resepsionis, tapi agen perubahan, dari tangan kalian paket wisata Indonesia bukan cuma bikin senang, tapi bikin masyarakat lokal tersenyum lebar.
Di balik semua kocaknya, wisuda menyisipkan pesan moral serius, yakni hidup bukan soal cepat lulus, tapi bagaimana ilmu dan pengalaman dipakai untuk manfaat orang banyak. Kalau cuma mikirin gaji pertama atau foto Instagram, sama saja kayak masak rendang tapi lupa santan rasanya hambar.
Jadi, ibaratnya hidup itu mirip seperti magang terakhir, penuh drama, kadang bikin stres, namun jika dijalani dengan senyum, kreatifitas, banyolan, kalian sampai garis finish sambil ketawa sendiri.
Wisudawan Poltekpar Medan, pakai toga, pasang senyum lebar, ingat hidup boleh serius, hati harus tetap kocak, supaya sakit perut karena ketawa, bukan karena utang kuliah.[***]