Senin, 19 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Pendidikan » Telurator, Si Hero Sampah Kampus Selamatkan Udara & Masa Depan Pendidikan

Telurator, Si Hero Sampah Kampus Selamatkan Udara & Masa Depan Pendidikan

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Rabu, 20 Agt 2025
  • visibility 926
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

KAMPUS itu dianggap sebagai taman bermain ilmu, Telkom University (Tel-U) baru saja memperkenalkan wahana baru bernama Telurator insinerator canggih karya tim dosen Teknik Fisika yang bisa mengubah sampah menjadi solusi praktis, tapi jangan salah, ini bukan sekadar mainan laboratorium yang seru untuk dicubit-cubit mahasiswa yang bosan skripsi. Telurator ini nyata, turun ke lapangan, dan… lumayan bikin tetangga senyum-senyum sambil menghirup udara yang masih aman (semoga begitu).

Dalam dunia pendidikan tinggi, sering kita dengar jargon “kampus harus berdampak”, “riset harus hilirisasinya”, dan “inovasi harus menyentuh masyarakat”. Kalau cuma sekadar cetak sertifikat, tentu bisa dibilang efeknya cuma, seperti kertas tisu di angin terbang, hilang, dan tidak ada yang basah.

Telurator menantang semua stereotip itu, coba misalnya dari lab berpendingin AC, asap riset ini langsung mendarat di TPS Desa Tarumajaya, Bandung, mengubah tumpukan sampah yang biasanya bikin monyong warga mengerut menjadi proses daur ulang yang… lumayan bikin ngakak.

Adegan ini misalnya juga lakonnya mahasiswa Tel-U, mengenakan jas lab putih serba rapi, memegang tombol besar berlabel “ON”, sementara bapak-bapak petugas TPS cuma menatap sambil menggaruk kepala. “Ini tombol untuk apa, Nak? Kalau salah pencet, kebakaran desa nggak, ya?” tanyanya dengan nada setengah serius setengah lucu. Inilah realitas di lapangan kampus berinovasi, masyarakat menunggu hasilnya, dan udara harus tetap aman.

Kuncinya ada pada lingkungan dan keberlanjutan, yang sering terlewat di berita mainstream. Telurator dirancang hemat bahan bakar, hanya 1 liter per jam. Sudah lolos uji emisi, artinya warga nggak perlu memakai masker ekstra tebal ketika nasi goreng terbakar di samping TPS. Tapi, seperti pepatah lama bilang “Biar bagai emas di tangan, kalau salah tempat tetap jadi abu”. Betul, teknologi sehebat apa pun tetap harus ditempatkan dengan bijak.

Di sinilah letak pencerahannya, pendidikan tinggi bukan hanya soal mengajarkan mahasiswa cara menghitung integral atau membuat robot yang bisa menari TikTok.

Lebih dari itu, kampus harus mendidik SDM yang gigih, pantang menyerah, dan peduli lingkungan. Telurator jadi guru tambahan mengajarkan bahwa inovasi harus membawa manfaat nyata, bukan cuma untuk eksis di media sosial kampus.

Kalau kita pakai perumpamaan, kampus itu seperti kebun, mahasiswa adalah bibitnya, dosen adalah tukang kebunnya, dan masyarakat adalah tanah tempat bibit itu tumbuh. Kalau bibit ditanam asal-asalan, jangan harap akan tumbuh pohon yang berbuah manis. Tapi kalau dirawat dengan riset dan praktik nyata, misalnya Telurator bibit ini bisa menghasilkan buah yang tidak hanya lezat di lidah, tapi juga bermanfaat bagi udara dan kesehatan sekitar.

Selain itu, Telurator juga mengajarkan satu hal yang kerap dilupakan humor dalam pendidikan, saat alat ini diuji coba, banyak momen lucu yang terjadi. Mahasiswa serius mencatat konsumsi bahan bakar, petugas TPS kaget melihat sampah “ngegas” sendiri, dan tetangga desa mengira ada pertunjukan sulap. Humor seperti ini bukan sekadar hiburan, tapi menjadi media pembelajaran. “Belajar itu nggak harus selalu serius. Kadang tertawa juga bagian dari pendidikan,” begitu kira-kira pesannya.

Pesan moral lainnya cukup sederhana tapi tajam, inovasi tanpa implementasi nyata sama saja dengan buku tebal yang berdebu di rak perpustakaan.

Di sinilah Tel-U dan Telurator memberi contoh riset turun ke masyarakat, memberi manfaat langsung, dan mendidik mahasiswa sekaligus mengedukasi warga. Diktisaintek Berdampak bukan sekadar slogan, tapi nyata, berasap tapi tetap ramah lingkungan, dan yang terpenting bisa bikin ngakak.

Jadi dari cerita di atas, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, pertama, pendidikan tinggi harus menghasilkan SDM kreatif yang berpikir luas, tapi tetap memikirkan bumi dan masyarakat, kedua, inovasi harus turun ke lapangan dan diuji realitasnya, bukan cuma eksis di jurnal ilmiah atau foto Instagram kampus, ketiga, humor dan storytelling bisa jadi alat edukasi yang powerful, karena manusia belajar paling cepat saat dia tertawa sambil memahami konteks nyata.

Telurator bukan cuma hero sampah, tapi simbol bagaimana pendidikan tinggi bisa mengubah teori menjadi praktik, laboratorium menjadi lapangan, dan riset menjadi solusi nyata.

Kampus yang hebat bukan cuma yang punya gedung megah atau laboratorium canggih, tapi yang menghasilkan dampak nyata untuk masyarakat, lingkungan, dan generasi masa depan.

Jadi, saat kita membaca berita formal tentang Menteri Brian Yuliarto yang memuji Tel-U dan Telurator, jangan cuma angguk-angguk. Bayangkan mahasiswa bercelana kotor, dosen serius memegang tombol, dan sampah yang perlahan-lahan berubah menjadi peluang.

Di situlah pencerahan edukatif sejati belajar itu nggak melulu serius, tapi manfaatnya bisa serius untuk bumi dan generasi berikutnya.

Oleh karena itu, tegakkan prinsip sederhana tapi penting, yakni “Ilmu tanpa praktik adalah hampa, dan praktik tanpa kepedulian adalah sia-sia”. Telurator, dengan segala humor, asap, dan teknologi cerdasnya, sudah membuktikan hal itu.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Xapo Bank Perluas Jalur Pembayaran Stablecoin,jadi Bank Berlisensi Pertama Yang Aktifkan Deposit & Penarikan USDC & USDT

    Xapo Bank Perluas Jalur Pembayaran Stablecoin,jadi Bank Berlisensi Pertama Yang Aktifkan Deposit & Penarikan USDC & USDT

    • calendar_month Kamis, 18 Mei 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.779
    • 0Komentar

      BANGKOK, THAILAND – Xapo Bank, bank swasta berlisensi penuh yang menggabungkan perbankan tradisional dengan akses ke Bitcoin dan stablecoin, telah menjadi bank pertama di dunia yang mengintegrasikan rel pembayaran Tether (USDT). Dimulai dengan peluncuran bertahap, jalur pembayaran akan tersedia sepenuhnya untuk semua anggota pada akhir Mei. Membangun rel USDC yang sudah ada yang diluncurkan […]

  • Turunkan Emisi, RI Apresiasi Dukungan Bank Dunia Terhadap Strategi Karbon Nasional

    Turunkan Emisi, RI Apresiasi Dukungan Bank Dunia Terhadap Strategi Karbon Nasional

    • calendar_month Sabtu, 7 Agt 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 700
    • 0Komentar

    PEMERINTAH Republik Indonesia (RI), melalui Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Menteri LHK) Siti Nurbaya, mengapresiasi dukungan Bank Dunia (World Bank) terhadap strategi nasional dalam mencapai netral karbon pada 2060. Menteri LHK berharap dukungan Bank Dunia bisa mewujudkan target penurunan emisi tersebut melalui sistem perdagangan karbon yang telah diterapkan di negara lain. “Belajar dari pengalaman negara […]

  • 2 PR untuk Warga di 2 Kecamatan

    2 PR untuk Warga di 2 Kecamatan

    • calendar_month Minggu, 18 Apr 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.298
    • 0Komentar

    WAKIL Walikota Palembang Fitrianti Agustinda memantau Jalan Rusak di dua titik Kecamatan, antara lain Kecamatan Ilir Barat I & Sematang Borang Palembang. Pantauan ini dilakukan guna  mengevaluasi hasil peninjauan beberapa pekan lalu. Dalam evaluasinya ia menilai kesadaran masyarakat dalam melakukan kegiatan gotong-royong bersama masih kurang. Hal ini dibenarkannya ketika melakukan peninjuan didua lokasi yang berbeda, […]

  • Nasib UMKM di Tengah Pandemi Covid-19 “ Menunggu Solusi Cerdas dari Pemerintah “

    Nasib UMKM di Tengah Pandemi Covid-19 “ Menunggu Solusi Cerdas dari Pemerintah “

    • calendar_month Selasa, 9 Jun 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.477
    • 0Komentar

    HIDUP segan mati tak mau, setidaknya itulah yang bisa diibaratkan kepada kondisi pelaku UMKM di tengah pandemi Covid-19 saat ini. Penularan virus corona yang demikian cepat dan masif telah memaksa pemerintah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), tetapi juga berdampak mematikan berbagai aktivitas bisnis pelaku UMKM. Jakarta sebagai kota jasa, mobilitas manusia/warga merupakan penggerak utama […]

  • Rumah Quran WKMM : Surga Kecil di Tengah Kota, Pak Wali Potong Pita

    Rumah Quran WKMM : Surga Kecil di Tengah Kota, Pak Wali Potong Pita

    • calendar_month Selasa, 18 Mar 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.244
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, -Di tengah hiruk-pikuk kota Palembang yang nggak pernah sepi, ada satu sudut kecil yang bikin hati adem. Jumat (14/3/2025), Wali Kota Palembang, Ratu Dewa, resmi meresmikan Rumah Quran Yayasan Wong Kito Mari Mengaji (WKMM) di Kelurahan 23 Ilir, Kecamatan Bukit Kecil. Rumah ini bukan sekadar bangunan biasa, melainkan tempat yang diharapkan bisa menanamkan cinta […]

  • Idul Adha, Silahkan Sholat Berjamaah di Masjid, Tapi….

    Idul Adha, Silahkan Sholat Berjamaah di Masjid, Tapi….

    • calendar_month Sabtu, 11 Jul 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 985
    • 0Komentar

    PEMERINTAH Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) memperbolehkan seluruh masyarakat untuk melaksanakan sholat id berjamaah dengan tetap mengikuti protokol kesehatan. Kita kan sudah menerima surat edaran dari Majelis Ulama Indonesia Kabupaten OKI, dan memperbolehkan kegiatan sholat id berjamaah di masing – masing Desa Yang akan diperingati pada 10 Zulhijah, maka pada tahun ini Idul Adha 1441 […]

expand_less
WordPress Archive WooCommerce Product Enquiry Form WooCommerce Product Enquiry & WooCommerce Request A Quote Plugin WooCommerce Product Featured Video Content Plugin WooCommerce Product Filter WooCommerce Product Finder WooCommerce Product Grid Builder WooCommerce Product Image Accordion Addon For Elementor WooCommerce Product Keyword Suggest WooCommerce Product Licenser- Elite Licenser Pro Addon WooCommerce Product List Advanced