Sabtu, 10 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Pendidikan » SELAMAT HARI PENDIDIKAN NASIONAL 2025 : “Belajar Jangan Cuma Upacara”

SELAMAT HARI PENDIDIKAN NASIONAL 2025 : “Belajar Jangan Cuma Upacara”

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Jumat, 2 Mei 2025
  • visibility 703
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sumselterkini.co.id,- Setiap tanggal 2 Mei, bangsa ini seolah mengenakan jas kenangan mengingat sosok Ki Hadjar Dewantara, sambil berdiri rapi di bawah terik matahari. Lagu “Hymne Guru” dilantunkan dengan lirih, pidato dibacakan dengan penuh semangat, dan peserta upacara sibuk menahan gatal di betis sambil menanti kata pamungkas “Upacara selesai.” Lalu bubar, seperti mimpi siang bolong, semangatnya seringkali hanya bertahan sampai makan siang tiba.

Peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun 2025 ini pun tak jauh beda, di halaman Kantor Gubernur Sumatera Selatan, Sekda Edward Candra berdiri tegap membacakan amanat Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti. Temanya keren “Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua.” Tapi jangan sampai temanya jadi seperti stiker di pintu kelas tempelan belaka.

Pendidikan, sejatinya, bukan hanya soal datang pagi, pulang siang, dan mengisi LKS yang kadang salah jawabannya. Pendidikan adalah perjuangan panjang, yang dulu diperjuangkan bukan dengan zoom meeting dan Google Classroom, tapi dengan pena yang diselundupkan, kelas di kolong rumah, dan guru yang harus sembunyi-sembunyi dari penjajah.

Ki Hadjar Dewantara, sang pelopor, mendirikan Taman Siswa bukan demi tampil di baliho atau pencitraan Musrenbang. Ia melawan sistem pendidikan kolonial yang hanya berpihak pada yang berduit. Coba bayangkan, di masa penjajahan, sekolah adalah kemewahan yang hanya dimiliki segelintir. Anak pribumi? Paling banter disuruh belajar “menghormat” sambil menyapu halaman.

Hari ini, ironisnya, sekolah sudah ada, tapi semangatnya sering hilang. Murid datang karena takut dicoret dari absen, bukan karena ingin mencari ilmu. Mahasiswa masuk kelas sambil scrolling TikTok, sambil berharap dosennya lupa kasih tugas. Padahal, kalau kata Ki Hadjar. “Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah,”.
Sekarang, guru dituntut bikin konten, rumah malah jadi tempat rebahan sambil main Mobile Legends.

Presiden Prabowo dalam Asta Cita ke-empatnya sudah menetapkan pendidikan sebagai prioritas, ada program penguatan SDM, pembelajaran digital, bahkan kurikulum AI. Tapi jangan sampai anak bisa bikin chatbot, sementara gurunya masih bingung pakai mouse. Sekolah keren tak akan berarti kalau gurunya dimiskinkan secara sistematis. Gedung ber-AC tak berguna kalau muridnya masih datang dengan sandal jepit dan perut keroncongan, “Pendidikan bukan soal ranking di papan tulis, tapi soal bekal agar tak jadi penonton di panggung peradaban.”

Menteri Abdul Mu’ti sudah menegaskan bahwa pendidikan adalah jalan keluar dari kemiskinan struktural, tapi ingat, jalan itu harus diratakan, bukan dibiarkan berlubang karena ego birokrasi. Kalau guru masih ribet urus SK, murid pun makin sering belajar dari konten selebgram ketimbang buku paket.

Kini, kementerian membawa misi besar Tes Kemampuan Akademik (TKA), Pembelajaran Mendalam, sampai Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, semua itu bagus, tapi seperti nasi goreng, sedapnya baru terasa kalau benar-benar diaduk rata, bukan cuma hiasan di brosur dinas. Mengutip pernyataan  Nelson Mandela. “Education is the most powerful weapon you can use to change the world,” artinya “Pendidikan adalah senjata paling ampuh yang bisa kamu gunakan untuk mengubah dunia,”.

Bisa diartikan pendidikan bukan cuma soal sekolah atau gelar, tapi kekuatan besar yang bisa membentuk cara berpikir, membuka peluang, memperbaiki nasib, dan membawa perubahan nyata baik untuk individu maupun bangsa. Sayangnya, di negeri ini, senjatanya sering tak diasah, bahkan disimpan di gudang bersama data Dapodik yang tak pernah sinkron.

Siswa dan mahasiswa perlu diingatkan jangan jadi penikmat seremoni, kalau cuma datang upacara dan foto-foto, itu bukan belajar, tapi resepsi. Lihat sejarah. Pejuang pendidikan dulu berdarah-darah demi bisa baca dan menulis. Masa kita yang sudah enak tinggal klik, malah enggan membaca karena “caption-nya kepanjangan”?

Pendidikan itu bukan soal angka di raport, tapi tentang menyalakan lilin di ruang gelap, kalau bangsa ini ingin maju, jangan cuma rayakan Hardiknas pakai kue dan puisi. Rayakan dengan aksi nyata anggarkan pendidikan dengan benar, hargai guru seperti menghargai influencer, dan tanamkan semangat belajar di dada anak-anak, bukan hanya di dinding sekolah. Karena pendidikan yang sejati bukan yang sekadar dikhotbahkan dalam upacara, tapi yang diperjuangkan di ruang kelas, di kolong rumah, dan di dalam hati setiap anak bangsa.

Dan pendidikan itu juga bukan kado tahunan yang hanya dibuka saat 2 Mei lalu disimpan lagi di lemari program kerja. Ia adalah proses seumur hidup yang harus dipelihara, seperti tanaman anggur yang dirawat tiap hari, disiram dengan kebijakan yang adil, dan dijauhkan dari ulat birokrasi. Jangan sampai semangat belajar kita cuma muncul saat kamera wartawan menyala, atau jadi kepentingan politik.

Para siswa, mahasiswa, dan seluruh anak bangsa jangan sampai kalian cuma jadi penonton dalam kelas kehidupan, belajarlah bukan hanya untuk nilai, tapi untuk memahami dunia. Jangan cuma jago bikin resume, tapi nggak paham sejarah bangsa sendiri. Dulu, para pejuang rela sekolah diam-diam di tengah ancaman penjajah, sekarang, kita cuma disuruh duduk manis di kelas ber-AC, tapi malah sibuk mikirin konten medsos.

Pepatah bilang”Belajar bukan hanya soal membaca buku, tapi juga membaca hidup dan memperbaiki masa depan.”

Oleh sebab itu jadikan Hardiknas ini bukan sekadar seremoni, tapi momentum untuk menyingsingkan lengan baju baik di meja guru, di ruang kelas, di kantor dinas, maupun di rumah. Hargai para guru bukan karena mereka punya spidol warna-warni, tapi karena mereka menyalakan obor di tengah gelapnya zaman. Dan jadilah murid yang tak hanya paham teori, tapi juga paham mengucapkan terima kasih kepada mereka yang berjasa. Selamat Hari Pendidikan Nasional 2025 untuk semua pejuang ilmu, dari yang mengajar di gunung sampai yang mengajar di Google Meet, teruslah jadi cahaya di lorong gelap masa depan bangsa.[***]

[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pingin Tahu Aksi Ronaldinho Menggocek Si Kulit Bundar, Nonton Yuk, Alex Noerdin Cup All Star, Catat !!

    Pingin Tahu Aksi Ronaldinho Menggocek Si Kulit Bundar, Nonton Yuk, Alex Noerdin Cup All Star, Catat !!

    • calendar_month Jumat, 23 Nov 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 862
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.CO.ID, PALEMBANG  – Turnamen Alex Noerdin Cup bakal digulirkan Januari sampai Maret 2019 nanti. Tim yang berhasil keluar sebagai juara turnamen bakal mengikuti coaching clinic bersama bintang sepakbola Ronaldinho di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring Palembang, pada 31 Maret 2019. Ketua Umum Badan Sepakbola Rakyat Indonesia (Basri) Eddy Sofyan di Hotel Grand Inna Daira, Jumat (23/11/2018), […]

  • Menengok Aktivitas Warga Tangguh Tangkal Kelola Pangan Mandiri Sendiri Saat Pandemi

    Menengok Aktivitas Warga Tangguh Tangkal Kelola Pangan Mandiri Sendiri Saat Pandemi

    • calendar_month Rabu, 3 Jun 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.424
    • 0Komentar

    LAHAN seluas 1,5 hektar terhampar luas di Perumnas Kelurahan Balai Agung Kecamatan Sekayu. Tanaman pangan lokal diantaranya Jagung, Cabai, Labu Manis, Pepaya, Bayam, Katu dan lainnya menghijau di lahan tersebut. Di lahan tersebut rupanya kompak dikelola warga setempat sebagai upaya terbebas Covid-19. Benar saja, Selasa (2/6/2020) daerah tersebut dilaunching menjadi Desa/kelurahan  Tangguh yang Terbebas Covid-19 […]

  • Menkumham RI  : Ini  ‘Legacy’ Terbaik Gubernur Sumsel, Apa Aja ?

    Menkumham RI  : Ini  ‘Legacy’ Terbaik Gubernur Sumsel, Apa Aja ?

    • calendar_month Rabu, 18 Apr 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 877
    • 0Komentar

    Mulai dari Ligh Rail Transit (LRT) yang sudah mendahului Jakarta dan pembangunan rumah sakit berkelas international. 

  • Soal LRT dan Karet, Ini Komen Gubernur

    Soal LRT dan Karet, Ini Komen Gubernur

    • calendar_month Kamis, 14 Feb 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.223
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, Palembang – Gubernur Sumsel Herman Deru melakukan on air bersama Radio ELSHINTA dalam program “Gubernur di Radio” di ruang tamu gubernur. Sekitar setengah jam, orang nomor satu di Sumsel itu bukan-bukaan soal LRT dan harga karet Di frekuensi 96,7 FM, Gubernur Sumsel on air dipandu oleh penyiar ELSHINTA Radio Anggun Primasari. Di sesi awal on air, […]

  • “Muba Mendunia, Dari Sawah, Ikan Patin, ke Panggung ASEAN”

    “Muba Mendunia, Dari Sawah, Ikan Patin, ke Panggung ASEAN”

    • calendar_month Sabtu, 16 Agt 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 786
    • 0Komentar

    SIAPA bilang kabupaten kecil cuma bisa jadi latar foto Instagram? Sekayu, Muba, membuktikan kalau daerah yang dulu lebih terkenal karena sawahnya seluas lapangan sepak bola plus Sungai Musi penuh patin, bisa nongol di Forum Internasional. Bahkan bukan sekadar nongol, tapi duduk manis di ASEAN Governors and Mayors Forum (AGMF) 2025 di Kuala Lumpur, Malaysia, sambil […]

  • Salat Idul Adha di Mesjid SMB Hanya untuk Warga Sekitar

    Salat Idul Adha di Mesjid SMB Hanya untuk Warga Sekitar

    • calendar_month Selasa, 20 Jul 2021
    • account_circle Nasir Nasir
    • visibility 952
    • 0Komentar

    Masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro di Palembang membuat pelaksanaan salat Ied dipercepat, mematuhi protokol kesehatan, dan dilakukan pemeriksaan suhu tubuh sebelum jemaah masuk ke mesjid. Pemantauan, salat Ied dilaksanaan lebih awal dari waktu biasanya. Sekitar pukul 06.00 WIB ibadah salat sudah dimulai. Jemaah yang mau salat juga diwajibkan mengenakan masker, mencuci tangan sebelum […]

expand_less
WordPress Archive Logo Showcase for Elementor WordPress Plugin Logo Showcase – Logo Addons for WPBakery Page Builder for WordPress Logo Showcase – Responsive WordPress Plugin Logos Showcase | Multi-Use Responsive WP Plugin Logos Showcase Pro – Addon for WPBakery Page Builder Loobek – Elementor Multipurpose WooCommerce Theme Look: Minimal Magazine and Blog WordPress Theme Look – Responsive Multi-Purpose WooCommerce WordPress Theme Loquet – Museum & History Theme Lottie Animations Addon for WPBakery Page Builder