Selasa, 18 Agu 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Pendidikan » SELAMAT HARI PENDIDIKAN NASIONAL 2025 : “Belajar Jangan Cuma Upacara”

SELAMAT HARI PENDIDIKAN NASIONAL 2025 : “Belajar Jangan Cuma Upacara”

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Jumat, 2 Mei 2025
  • visibility 696
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sumselterkini.co.id,- Setiap tanggal 2 Mei, bangsa ini seolah mengenakan jas kenangan mengingat sosok Ki Hadjar Dewantara, sambil berdiri rapi di bawah terik matahari. Lagu “Hymne Guru” dilantunkan dengan lirih, pidato dibacakan dengan penuh semangat, dan peserta upacara sibuk menahan gatal di betis sambil menanti kata pamungkas “Upacara selesai.” Lalu bubar, seperti mimpi siang bolong, semangatnya seringkali hanya bertahan sampai makan siang tiba.

Peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun 2025 ini pun tak jauh beda, di halaman Kantor Gubernur Sumatera Selatan, Sekda Edward Candra berdiri tegap membacakan amanat Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti. Temanya keren “Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua.” Tapi jangan sampai temanya jadi seperti stiker di pintu kelas tempelan belaka.

Pendidikan, sejatinya, bukan hanya soal datang pagi, pulang siang, dan mengisi LKS yang kadang salah jawabannya. Pendidikan adalah perjuangan panjang, yang dulu diperjuangkan bukan dengan zoom meeting dan Google Classroom, tapi dengan pena yang diselundupkan, kelas di kolong rumah, dan guru yang harus sembunyi-sembunyi dari penjajah.

Ki Hadjar Dewantara, sang pelopor, mendirikan Taman Siswa bukan demi tampil di baliho atau pencitraan Musrenbang. Ia melawan sistem pendidikan kolonial yang hanya berpihak pada yang berduit. Coba bayangkan, di masa penjajahan, sekolah adalah kemewahan yang hanya dimiliki segelintir. Anak pribumi? Paling banter disuruh belajar “menghormat” sambil menyapu halaman.

Hari ini, ironisnya, sekolah sudah ada, tapi semangatnya sering hilang. Murid datang karena takut dicoret dari absen, bukan karena ingin mencari ilmu. Mahasiswa masuk kelas sambil scrolling TikTok, sambil berharap dosennya lupa kasih tugas. Padahal, kalau kata Ki Hadjar. “Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah,”.
Sekarang, guru dituntut bikin konten, rumah malah jadi tempat rebahan sambil main Mobile Legends.

Presiden Prabowo dalam Asta Cita ke-empatnya sudah menetapkan pendidikan sebagai prioritas, ada program penguatan SDM, pembelajaran digital, bahkan kurikulum AI. Tapi jangan sampai anak bisa bikin chatbot, sementara gurunya masih bingung pakai mouse. Sekolah keren tak akan berarti kalau gurunya dimiskinkan secara sistematis. Gedung ber-AC tak berguna kalau muridnya masih datang dengan sandal jepit dan perut keroncongan, “Pendidikan bukan soal ranking di papan tulis, tapi soal bekal agar tak jadi penonton di panggung peradaban.”

Menteri Abdul Mu’ti sudah menegaskan bahwa pendidikan adalah jalan keluar dari kemiskinan struktural, tapi ingat, jalan itu harus diratakan, bukan dibiarkan berlubang karena ego birokrasi. Kalau guru masih ribet urus SK, murid pun makin sering belajar dari konten selebgram ketimbang buku paket.

Kini, kementerian membawa misi besar Tes Kemampuan Akademik (TKA), Pembelajaran Mendalam, sampai Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, semua itu bagus, tapi seperti nasi goreng, sedapnya baru terasa kalau benar-benar diaduk rata, bukan cuma hiasan di brosur dinas. Mengutip pernyataan  Nelson Mandela. “Education is the most powerful weapon you can use to change the world,” artinya “Pendidikan adalah senjata paling ampuh yang bisa kamu gunakan untuk mengubah dunia,”.

Bisa diartikan pendidikan bukan cuma soal sekolah atau gelar, tapi kekuatan besar yang bisa membentuk cara berpikir, membuka peluang, memperbaiki nasib, dan membawa perubahan nyata baik untuk individu maupun bangsa. Sayangnya, di negeri ini, senjatanya sering tak diasah, bahkan disimpan di gudang bersama data Dapodik yang tak pernah sinkron.

Siswa dan mahasiswa perlu diingatkan jangan jadi penikmat seremoni, kalau cuma datang upacara dan foto-foto, itu bukan belajar, tapi resepsi. Lihat sejarah. Pejuang pendidikan dulu berdarah-darah demi bisa baca dan menulis. Masa kita yang sudah enak tinggal klik, malah enggan membaca karena “caption-nya kepanjangan”?

Pendidikan itu bukan soal angka di raport, tapi tentang menyalakan lilin di ruang gelap, kalau bangsa ini ingin maju, jangan cuma rayakan Hardiknas pakai kue dan puisi. Rayakan dengan aksi nyata anggarkan pendidikan dengan benar, hargai guru seperti menghargai influencer, dan tanamkan semangat belajar di dada anak-anak, bukan hanya di dinding sekolah. Karena pendidikan yang sejati bukan yang sekadar dikhotbahkan dalam upacara, tapi yang diperjuangkan di ruang kelas, di kolong rumah, dan di dalam hati setiap anak bangsa.

Dan pendidikan itu juga bukan kado tahunan yang hanya dibuka saat 2 Mei lalu disimpan lagi di lemari program kerja. Ia adalah proses seumur hidup yang harus dipelihara, seperti tanaman anggur yang dirawat tiap hari, disiram dengan kebijakan yang adil, dan dijauhkan dari ulat birokrasi. Jangan sampai semangat belajar kita cuma muncul saat kamera wartawan menyala, atau jadi kepentingan politik.

Para siswa, mahasiswa, dan seluruh anak bangsa jangan sampai kalian cuma jadi penonton dalam kelas kehidupan, belajarlah bukan hanya untuk nilai, tapi untuk memahami dunia. Jangan cuma jago bikin resume, tapi nggak paham sejarah bangsa sendiri. Dulu, para pejuang rela sekolah diam-diam di tengah ancaman penjajah, sekarang, kita cuma disuruh duduk manis di kelas ber-AC, tapi malah sibuk mikirin konten medsos.

Pepatah bilang”Belajar bukan hanya soal membaca buku, tapi juga membaca hidup dan memperbaiki masa depan.”

Oleh sebab itu jadikan Hardiknas ini bukan sekadar seremoni, tapi momentum untuk menyingsingkan lengan baju baik di meja guru, di ruang kelas, di kantor dinas, maupun di rumah. Hargai para guru bukan karena mereka punya spidol warna-warni, tapi karena mereka menyalakan obor di tengah gelapnya zaman. Dan jadilah murid yang tak hanya paham teori, tapi juga paham mengucapkan terima kasih kepada mereka yang berjasa. Selamat Hari Pendidikan Nasional 2025 untuk semua pejuang ilmu, dari yang mengajar di gunung sampai yang mengajar di Google Meet, teruslah jadi cahaya di lorong gelap masa depan bangsa.[***]

[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Saya Sudah Divaksin, Tapi … Data di Kartu Vaksinasi Ada yang Salah? Belum Dapat Sertifikat?

    Saya Sudah Divaksin, Tapi … Data di Kartu Vaksinasi Ada yang Salah? Belum Dapat Sertifikat?

    • calendar_month Jumat, 13 Agt 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 736
    • 0Komentar

    SUDAH divaksin, tetapi belum mendapat sertifikat vaksin? Atau data di dalamnya masih salah? Sampaikan keluhan ini dengan mengirim e-mail ke sertifikat@pedulilindungi.id dengan melampirkan informasi Nama Lengkap, NIK / KTP, Tempat dan Tanggal Lahir, Nomor Handphone, Keluhan, serta lampirkan juga foto NIK / KTP dan Selfie, dan foto Kartu Vaksinasi yang sudah diterima. Terakhir, kita harus hati-hati menjaga kerahasiaan […]

  • Komit Tingkatkan Kualitas Pendidikan, Ini yang Dilakukan Pemkab Muba

    Komit Tingkatkan Kualitas Pendidikan, Ini yang Dilakukan Pemkab Muba

    • calendar_month Senin, 1 Mei 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 845
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, Muba -Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin berkomitmen meningkatkan kualitas sumber daya manusia terutama di bidang pendidikan yang merata dan berkualitas, mulai dari pendidikan usia dini hingga perguruan tinggi. Ini terefleksikan melalui peningkatan alokasi anggaran pendidikan sejak beberapa tahun terakhir. Dimana pada tahun 2022 mengalokasikan sebesar 24,2% dari total APBD, yang kemudian direalisasikan beberapa program, diantaranya […]

  • Fitrianti Agustinda wakil walikota palembang

    Wahh, Saat Sidak Wawako Palembang Berang Temukan Timbunan Tak Berizin di Padang Selasa

    • calendar_month Kamis, 21 Sep 2017
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.037
    • 0Komentar

    Wakil Walikota Palembang Fitrianti Agustinda (Fitri) sangat marah dan berang saat sidak menemukan timbunan tak berizin. Timbunan tersebut menyebabkan banjir di seputaran jalan Padang Selasa RT 21 RW 7 Kelurahan Bukit Lama Kecamatan Ilir Barat (IB) I.

  • Wah..!! Dollar Amerika Naik, Kekayaan Sandiaga Makin ‘Tajir’

    Wah..!! Dollar Amerika Naik, Kekayaan Sandiaga Makin ‘Tajir’

    • calendar_month Selasa, 14 Agt 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 673
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.CO.ID, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat saat ini mencapai Rp14.600, karenanya Mantan Menteri ESDM, Sudirman Said, menilai pasangan Prabowo yakni Sandiaga Uno bakal makin kaya. Said mengatakan, kenaikan harta pemilik Saratog itu juga dikarenakan naiknya harga saham. Namun dirinya tidak menyebut saham yang dimiliki cawapres tersebut secara menyeluruh. “Nanti, kalau anda […]

  • Inginkan Data Mikro Valid Kondisi Keluarga, OKI Kerahkan 1.489 Kader untuk Data 241 Ribu KK

    Inginkan Data Mikro Valid Kondisi Keluarga, OKI Kerahkan 1.489 Kader untuk Data 241 Ribu KK

    • calendar_month Kamis, 1 Apr 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 859
    • 0Komentar

    PENDATAAN Keluarga (PK) 2021 di Kabupaten OKI dimulai 01 April-31 Mei 2021. Agenda lima tahunan milik BKKBN ini diharapkan bisa mendapatkan data mikro yang valid tentang kondisi keluarga. Wakil Bupati OKI, H.M Dja’far Shodiq menjadi orang pertama dalam pendataan keluarga tahun 2021 di lingkungan Kabupaten Ogan Komering Ilir, Kamis (1/4/2021). Dua orang Petugas Kader Pendataan […]

  • “Ular, Biawak & Kantor Jadi Kandang: Ketika Satwa Dilindungi Dianggap Kos-Kosan”

    “Ular, Biawak & Kantor Jadi Kandang: Ketika Satwa Dilindungi Dianggap Kos-Kosan”

    • calendar_month Jumat, 8 Agt 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 812
    • 0Komentar

    DI sebuah rumah dua lantai yang juga merangkap kantor di Remu Utara, Kota Sorong, ternyata sedang berlangsung bisnis properti yang… tidak biasa, bukan rumah kost, bukan juga indekos pejabat, melainkan semacam “Airbnb” khusus bagi ular dan biawak dari yang hijau semlohai sampai yang eksotis dari pulau seberang. Namanya T (42), bukan singkatan dari “Tuan Tanah” […]

expand_less
WordPress Archive Logo Showcase for Elementor WordPress Plugin Logo Showcase – Logo Addons for WPBakery Page Builder for WordPress Logo Showcase – Responsive WordPress Plugin Logos Showcase | Multi-Use Responsive WP Plugin Logos Showcase Pro – Addon for WPBakery Page Builder Loobek – Elementor Multipurpose WooCommerce Theme Look: Minimal Magazine and Blog WordPress Theme Look – Responsive Multi-Purpose WooCommerce WordPress Theme Loquet – Museum & History Theme Lottie Animations Addon for WPBakery Page Builder