EMPAT bocah jenius dari Indonesia bikin dunia akademik tepok jidat!, di ajang International Chemistry Olympiad (IChO) ke-57 yang digelar di Dubai, Uni Emirat Arab, tim Indonesia pulang dengan kepala tegak dua medali Perak direbut Muhammad Clerisyad Atthahirzi (SMA Al Wafi IBS Bogor) dan Sultan El Shirazy (SMA Negeri 17 Palembang), serta dua medali Perunggu dibawa pulang Darren Mikael Chauhari (SMAS 1 Kristen BPK Penabur Jakarta) dan Bramantyo Abimanyu (SMA Labschool Kebayoran).
Empat orang siswa, empat medali, satu kebanggaan Nasional, kalau otak mereka diukur suhunya, mungkin udah lebih panas dari reaksi eksoterm!,he..he..salut dech!.bikin bangga juga orang tua dan keluarga…
Coba kita bengong dan merenung sejenak, dengan prestasi hebat empat anak SMA itu, rambut belum ubanan, tapi otaknya sudah kayak tabung reaksi penuh logika dan rumus molekul.
Mereka bukan cuma pinter ngitung mol atau hapal tabel periodik, tapi bisa bikin laboratorium Internasional bergetar.
Satu dari Palembang, tiga dari kota besar lainnya, tapi semangat mereka satu, bawa harum nama Indonesia. Ya, bukan cuma harum kayak rendang, tapi harum secara ilmiah.
Ajang IChO itu semacam Piala Dunia-nya anak kimia, diikuti 90 negara, total 354 siswa, dan yang bikin bangga anak-anak kita pulang bawa medali kayak pulang dari pasar bawa belanjaan diskon.
Namun bukan diskonan biasa ala kadarnya bro, mereka hasil tempaan, latihan tiga tahap pembinaan intensif dari Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas). Gak ada jurus instan di sini, semua hasil kerja keras, keringat, dan mungkin sedikit air mata (plus kopi tanpa gula).
Kata Maria Veronica Irene Herdjiono, Kepala Puspresnas, ini adalah tim pertama yang dikirim ke ajang Internasional tahun ini. “Selamat kepada adik-adik atas torehan dua medali Perak dan dua medali Perunggu,” katanya, dan kami jawab dalam hati selamat juga Bu, anak didikan Ibu bikin dunia ngelirik kita lagi, bukan karena drama, tapi karena prestasi!.
Kalau prestasi mereka ber empat diibaratkan reaksi kimia, maka ini adalah reaksi kombinasi antara kecerdasan, ketekunan, dan semangat juang ala anak muda, kalau diramu jadi rumus Cerdas + Giat + Dibina Puspresnas = Medali Internasional. Wow keren!
Sultan El Shirazy, si anak Palembang yang tahun lalu juga berprestasi, sudah nyabet perunggu, kini naik level jadi perak. Itu kayak naik kasta dari prajurit jadi pendekar. Ia bilang, “Saya mengincar emas, tapi Alhamdulillah dapat perak,”, ini pernyataan yang bikin motivator insecure. Mental juara gitu loh. Kalah dikit, tapi tetap waras dan bersyukur.
Tim ini didampingi pembina dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Deana Wahyuningrum, Fainan Failamani, dan Rindia Maharani Putri, kata Bu Deana, “Persaingannya ketat, tapi anak-anak bisa bersaing dengan tim dari seluruh dunia”.
Nah, ini bukan sekadar lomba kimia, tapi juga adu mental baja, kalau soal hanya susah, bisa dipecahkan. Tapi kalau mental ciut, jangankan ion, hati pun bisa pecah.
Seperti pesan yang sering dikaitkan dengan Ki Hajar Dewantara, “Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah” (lihat: Pemikiran, Konsepsi, Keteladanan, dan Sikap Hidup Ki Hadjar Dewantara, Kemdikbud, 2013).
Empat bocah ini sudah jadi guru buat kita semua guru dalam semangat, guru dalam gigih belajar, dan guru dalam diam-diam menjaga nama baik negeri ini di panggung dunia.
Sama halnya ucapan legendaris Nelson Mandela, saat berpidato di Boston tahun 1990, “Education is the most powerful weapon which you can use to change the world”, katanya senjata mereka bukan peluru, tapi rumus dan eksperimen yang meledakkan kagum dunia, jadi maknanya reaksi kimia positif yang bikin nama Indonesia makin harum di laboratorium global.
Ledakan reaksi
Jadi, empat bocah ini tidak cuma membawa senjata itu ke ajang Olimpiade Kimia Internasional, mereka sudah meledakkan reaksi perubahan positif yang menggema sampai ke ruang-ruang rapat dunia.
Mereka bukan sekadar peserta lomba, mereka adalah simbol, simbol di balik ruang-ruang kelas yang kadang bocor atapnya, di balik laboratorium sederhana yang sering kekurangan bahan praktikum, masih ada cahaya terang dari kecerdasan, kerja keras, dan semangat tak menyerah.
Mereka menunjukkan pada kita semua, pendidikan bukan cuma soal ijazah, tapi tentang keberanian menyalakan api pengetahuan di tengah keterbatasan.
Empat anak ini mungkin tidak viral di TikTok, tidak trending di Twitter, tidak mendadak selebgram, namun aksi mereka adalah bentuk influencer paling sejati, memengaruhi dunia lewat kerja nyata, bukan cuma konten 15 detik. Mereka memberi kita pelajaran diam-diam bahwa revolusi tak selalu butuh mikrofon, kadang cukup satu rumus yang benar, satu eksperimen yang berhasil, satu tim kecil yang kompak.
Kini, setelah dua perak dan dua perunggu berhasil mereka bawa pulang ke Indonesia, pertanyaannya bukan lagi “Hebat ya anak-anak ini”, Tapi apakah yang sudah kita lakukan sebagai bangsa untuk membesarkan mereka lebih banyak lagi?.
Jawabnya jangan sampai anak-anak jenius ini pulang, lalu menghadapi kenyataan bahwa Tanah Airnya sendiri belum siap memberi panggung lanjutan.