Menag Bawa Istilah Tak Biasa, Ada Pesan Serius di Balik Tobat Ekologis
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 11 menit yang lalu
- visibility 4
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kemenag.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKNI.CO.ID – Manusia bukan satu-satunya makhluk yang hidup di bumi. Namun, ketika alam terus dieksploitasi, hubungan manusia dengan lingkungan kerap diperlakukan seolah tidak memiliki batas.
Menteri Agama Nasaruddin Umar mengingatkan persoalan ini melalui sebuah istilah yang tidak banyak dikenal ukhuwwah makhluqiyyah.
Istilah tersebut berarti persaudaraan sesama makhluk Tuhan. Bagi Nasaruddin, konsep ini penting untuk mengubah cara manusia memandang alam, bukan sekadar sebagai sumber daya yang bisa dimanfaatkan, melainkan bagian dari kehidupan yang harus dijaga.
“Agama memperkenalkan ukhuwwah makhluqiyyah, persaudaraan sebagai sesama makhluk Tuhan. Selama kita menganggap alam semesta ini benda mati untuk dieksploitasi, kiamat akan datang lebih awal,” tegas Nasaruddin saat peluncuran Gerakan Tobat Ekologis Menuju Sekolah Adiwiyata di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, dalam rilis resmi dilaman kemenag, Senin (12/10/2026).
Menurut Menag, persoalan lingkungan tidak cukup diselesaikan melalui aturan dan pengawasan aparat. Kesadaran dari dalam diri manusia juga diperlukan agar perilaku menjaga alam tetap dijalankan, termasuk ketika tidak ada petugas yang mengawasi.
“Di dalam hutan belantara tidak ada polisi pun, orang tidak akan merusak alam. Karena ada bahasa agama yang mengawasi di mana pun orang itu berada,” ujarnya.
Nasaruddin menilai nilai agama dapat menjadi pengingat moral yang melekat dalam perilaku manusia. Oleh sebab itu, ia mendorong pendekatan keagamaan dalam pelestarian lingkungan agar tidak hanya diterapkan di Indonesia, tetapi juga diperkenalkan secara global.
Gagasan tersebut dibawa dalam gerakan yang melibatkan tiga kementerian, yakni Kementerian Agama, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), serta Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Menteri Lingkungan Hidup Muhammad Jumhur Hidayat menyatakan dukungannya terhadap konsep ukhuwwah makhluqiyyah.
Ia menilai gagasan tersebut dapat menjadi salah satu landasan keagamaan dalam menjaga keanekaragaman hayati dan membangun tanggung jawab terhadap sesama makhluk hidup.
Jumhur juga menyoroti kebiasaan membuang sampah plastik ke sungai yang berkontribusi terhadap pencemaran lingkungan. Sampah yang terbawa ke laut menambah persoalan, termasuk keberadaan mikroplastik pada ikan.
Menurut dia, tobat ekologis perlu diwujudkan melalui tiga prinsip, menyadari kesalahan masa lalu, tidak mengulangi tindakan yang merusak lingkungan, dan melakukan pemulihan secara nyata.
Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Atip Latipulhayat menekankan pentingnya membangun kepedulian terhadap lingkungan sejak di bangku sekolah. Pembiasaan menjaga kebersihan, ketertiban, dan kenyamanan lingkungan dinilai menjadi bagian penting dari pendidikan karakter.
Kementerian Agama menyatakan siap mendukung penanaman nilai-nilai pelestarian alam melalui lembaga pendidikan keagamaan. Sinergi ketiga kementerian ini diharapkan menghubungkan ajaran moral, pembiasaan di sekolah, dan tindakan nyata dalam menjaga lingkungan.
Ukhuwwah makhluqiyyah bukan hanya istilah keagamaan yang diperkenalkan dalam sebuah acara. Pesan yang dibawa adalah perubahan cara pandang, menjaga alam bukan semata-mata kewajiban ketika ada aturan atau pengawasan, melainkan tanggung jawab manusia terhadap sesama makhluk Tuhan. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
