Rabu, 7 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Pendidikan » “Mbak Jawa di Makassar, Dari Nada Tinggi ke Matematika Seru”

“Mbak Jawa di Makassar, Dari Nada Tinggi ke Matematika Seru”

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Minggu, 26 Okt 2025
  • visibility 3.052
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

KIKI Novita Sari, 24 tahun, baru pertama kali merantau jauh dari tanah kelahirannya di Kendal, Jawa Tengah, ketika diterima sebagai guru matematika di SRMA 26 Makassar. Bayangkan, seorang anak Jawa yang terbiasa berbicara lembut harus berhadapan dengan nada tinggi ala orang Makassar. “Kadang saya refleksi, tadi saya salah apa enggak?” ujarnya sambil tersenyum, mengenang hari-hari awalnya di asrama.

Julukan “Mbak Jawa” pun lahir dari kebingungan murid dan guru lain melihatnya, seperti pepatah Jawa mengatakan, “Adat di bumi sendiri tidak sekeras adat di tanah orang”, Kiki pun belajar dari awal bagaimana menyesuaikan diri dengan budaya dan bahasa baru.

Ketika pertama kali menginjakkan kaki di SRMA 26 Makassar, Kiki mengaku shok kecil tapi lucu, nada bicara murid terlalu tinggi, bahasa Makassar tercepat, dan makanan pedas yang bikin mata menetes.

“Kalau di Jawa, orang bicara keras itu artinya marah. Di sini, kadang itu cuma gaya ngobrol,” ujarnya sambil terkekeh mengutip laman resmi kemensos.go.id, coba pikirkan, seorang guru dari Jawa harus belajar membaca ekspresi murid sambil menahan lidah yang sensitif terhadap sambal pedas Makassar.

Hari pertama mengajar ibaratnya adalah episode drama komedi tanpa sutradara, hehehe…yang jelas Kiki harus meminta murid berbicara lebih lambat supaya ia paham maksud mereka.

Bahkan kadang, satu kata bisa terdengar, seperti kode rahasia yang membingungkan. Tapi murid-murid cepat menyesuaikan diri “Oh, Bu Kiki dari Jawa, kita harus bicara lebih lembut”, kata salah satu murid.

Kiki tersenyum “seperti pepatah mengatakan, ‘air tenang menghanyutkan’, walaupun saya lembut, murid tetap bisa mengikuti alur belajar kalau kita sabar’.

Selain drama nada bicara, tantangan lain adalah membuat matematika menarik bagi murid. Di fase awal, Kiki mengecek kemampuan dasar matematika, di mulai dari penjumlahan hingga pengurangan. “Kalau pondasinya goyah, rumahnya roboh juga ya..,” ujarnya sambil melempar senyum.

Akhirnya Kiki menciptakan jurus baru alias metode belajar 50 persen materi, 50 persen games, misal, penjumlahan bersusun dijadikan kompetisi kecil.

Hasilnya ? Anak-anak bukan hanya belajar, tapi senang, tertawa, dan saling tantang. Kadang, tantangannya sederhana, yaitu siapa tercepat menyelesaikan soal. Tapi hasilnya, semua murid ikut aktif dan tak ada yang keluar-masuk kelas.

Tak hanya matematika, Kiki juga fokus pada pendidikan karakter dan kedisiplinan, coba bayangkan saja seorang guru harus menelusuri kamar murid satu per satu supaya mereka tidak telat masuk kelas. Kadang ia bikin candaan ke muridnya. “Kalau guru enggak turun tangan, murid bisa telat seperti jam karet”.

Usaha ini membuahkan hasil, dua bulan berlalu, murid mulai tepat waktu dan bisa mengatur jadwal harian mereka. Pendidikan harus membebaskan. Dan begitulah yang coba saya lakukan di kelas -membebaskan murid dari ketakutan terhadap angka dan rumus”, – Paulo Freire, Pedagogy of the Oppressed.

Selain kelas, Kiki juga belajar hidup di Makassar. Pedasnya makanan lokal sempat membuatnya berkeringat dan mengerang, tapi lambat laun ia menyesuaikan diri. Bahkan ia ikut makan bareng teman-teman guru meski mulut masih panas, sambil bilang, “Sedikit demi sedikit, kita masuk ke dunianya mereka”.

Bahkan Humor muncul ketika Kiki mencoba memesan makanan pedas ekstra dan salah menyebutkan levelnya. “Mungkin ini karma karena saya baru pertama kali merantau,” katanya sambil tertawa ngakak. Murid-muridnya pun ikut tertawa mendengar cerita itu, dan humor ini jadi jembatan komunikasi antara guru dan murid.

Kisah Kiki bukan hanya soal guru merantau, tapi juga tentang ketekunan, adaptasi, dan kreativitas. Dari nada tinggi, sambal pedas, hingga strategi belajar matematika, ia menunjukkan bahwa mengajar bukan sekadar mentransfer ilmu, tapi menginspirasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Kiki Novita Sari adalah contoh guru muda yang berani merantau, beradaptasi, dan menciptakan inovasi dalam pendidikan. Ceritanya mengajarkan kita, meski menghadapi budaya, bahasa, atau tantangan berbeda, kesabaran, kreativitas, dan humor bisa menaklukkan semua hambatan.

Kalau ada pepatah Jawa bilang, “Sopo nandur bakal ngunduh”, maka Kiki adalah bukti nyata tanam usaha, tanam kesabaran, tanam humor, pasti akan menuai hasil manis, meski awalnya terasa pedas seperti sambal Makassar.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Agar UMKM Tahan Banting Hadapi Pandemi Covid-19, 3 Kata Kunci Ini Yang Perlu Dilakukan Versi Gubernur

    Agar UMKM Tahan Banting Hadapi Pandemi Covid-19, 3 Kata Kunci Ini Yang Perlu Dilakukan Versi Gubernur

    • calendar_month Senin, 22 Jun 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.153
    • 0Komentar

    AGAR pelaku UMKM tahan banting menghadapi pandemi saat ini, Gubernur Sumsel menyebutkan ada 3 yang harus dilakukan pelaku UMKM. “Kuncinya tiga. Konsisten, konsekuen dan speed dan jangan lupakan usaha basic. Karena banyak yang justru gagal disana,” jelasnya, kemarin. Ia mencontohkan, seperti misalnya pengusaha warung nasi kaki lima. Karena sudah ramai pembeli, kemudian bisa bangun gedung […]

  • Arab Saudi Komit  Jalin Kerjasama Produk Halal dengan BPJPH

    Arab Saudi Komit  Jalin Kerjasama Produk Halal dengan BPJPH

    • calendar_month Selasa, 23 Mar 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.107
    • 0Komentar

    ARAB Saudi berkomitmen untuk dapat menjalin kerja sama Jaminan Produk Halal dengan BPJPH. Hal itu terungkap Pertemuan dilaksanakan secara virtual, kemarin, dengan melibatkan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kementerian Agama, SFDA, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), serta Dewan Halal Nasional (DHN) Majelis Ulama Indonesia (MUI). Inisiatif kerja sama tersebut disampaikan oleh Direktur Halal Center […]

  • Perusahaan Sepakat Perbaiki Jalan Yang Rusak, Pemkab Muba Respon Begini

    Perusahaan Sepakat Perbaiki Jalan Yang Rusak, Pemkab Muba Respon Begini

    • calendar_month Sabtu, 13 Feb 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.265
    • 0Komentar

    KERUSAKAN ruas jalan yang terjadi di beberapa titik Kecamatan yang merupakan wilayah kerja (wilker) perusahaan akan diperbaiki dalam waktu dekat. Ini setelah dalam hasil kesepakatan yang dilakukan masing – masing pihak yakni dari perusahaan, pemerintah Desa dan Pemerintah Kecamatan. Camat Batang Hari Leko, Tazarni Haitami SSTP MSi menegaskan terkait kerusakan jalan di Desa Sako Suban, […]

  • Gubernur Minta Komisioner KPAD Sumsel Juga Lakukan Pencegahan Preventif

    Gubernur Minta Komisioner KPAD Sumsel Juga Lakukan Pencegahan Preventif

    • calendar_month Senin, 20 Jan 2020
    • account_circle Yosep Indra Praja
    • visibility 899
    • 0Komentar

    PASCA dilantik di Auditorium Bina Praja Pemprov oleh Gubernur Sumsel H.Herman Deru Senin (21/1) pagi, lima pengurus Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Sumsel Periode 2020 diminta segera action di lapangan dan bergerak. Menurut Gubernur Herman Deru, pelantikan ini sifatnya hanya formalitas saja namun yang paling penting adalah kepedulian para pengurus itu sendiri. Ia berharap KPAD […]

  • Jalan Kaki, Apriyadi Sambangi Warga Terdampak Banjir di Sekayu

    Jalan Kaki, Apriyadi Sambangi Warga Terdampak Banjir di Sekayu

    • calendar_month Senin, 22 Jan 2024
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 856
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, – Masyarakat yang terdampak banjir di wilayah Muba menjadi perhatian serius Pj Bupati Apriyadi Mahmud. Sabtu (20/1/2024) sore meski hari libur mantan Kadinsos Pemprov Sumsel itu memanfaatkan waktu dengan mengunjungi sejumlah warga di Sekayu yang terkena banjir. Mengenakan kaos oblong, orang nomor wahid di Bumi Serasan Sekate itu berjalan kaki menyambangi satu persatu kediaman […]

  • Cita-cita Reformasi : Amanat untuk Presiden Terpilih

    Cita-cita Reformasi : Amanat untuk Presiden Terpilih

    • calendar_month Senin, 24 Jun 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.219
    • 0Komentar

    21 TAHUN sudah reformasi ditempuh oleh bangsa Indonesia. Akan tetapi sebagian masyarakat mengalami kelupaan apa yang dikatakan sebagai reformasi. Reformasi yang kita kenal sebagai bangkitnya perlawanan ‘rakyat’Indonesia terhadap penguasa politik Orde Baru yang otoriter. Dalam kurun waktu 32 tahun rakyat dipinggirkan dan dilupakan, dan kini terlupakan. Bagaimana hak-hak dasar rakyat untuk turut menentukan pengelolaan kekayaan alam dan […]

expand_less
WordPress Archive Galaxy Funder – WooCommerce Crowdfunding System Galicia – Restaurant WordPress Theme Galleria Storefront WooCommerce Theme Gallery Plugins Bundle Gallery Studio – WordPress Image & Video Gallery Gameleon – WordPress Arcade Theme & News Magazine Gameleon – WordPress Gaming & Magazine Theme Gameon – Metaverse Project Launchpad WordPress Theme Gameplan – Event and Gym Fitness WordPress Theme Gamezone | Video Gaming Blog & Esports Store WordPress Theme