DI Palembang, kota yang terkenal dengan pempek dan Sungai Musi yang tak pernah lelah mengalir, ada sebuah cerita segar yang tak kalah gurih dari lenjer goreng panas. Cerita ini datang bukan dari dapur wong kito, melainkan dari ruang kelas SMA Pusri, di sinilah Regina, seorang siswi yang masih duduk di bangku sekolah, nekat menjajal jalan yang sering bikin orang dewasa keringat dingin dunia wirausaha.
Sementara teman-temannya sibuk menghitung deret aritmatika atau menghafal tabel periodik, Regina justru sibuk memutar otak bagaimana caranya bikin buket cantik dari pipe cleaner. Ya, pipe cleaner, benda yang biasanya cuma jadi mainan prakarya, di tangannya bisa berubah jadi produk manis yang laku dijual. Kalau pepatah bilang, “emas tetaplah emas meski jatuh ke got.” Nah, di tangan Regina, pembersih pipa pun bisa jadi emas.
Ceritanya sederhana, Regina awalnya hanya iseng, seperti anak muda kebanyakan, ia butuh pelarian dari tumpukan PR dan ujian yang kadang lebih menakutkan daripada horor ala KKN Desa Penari. Ia lalu mengutak-atik pipe cleaner, merangkainya jadi buket. Eh…, teman-temannya kagum, dari kagum berubah jadi pesanan, dari pesanan berubah jadi peluang usaha.
Bukankah hidup memang suka begitu?, banyak hal besar lahir dari iseng, tengok saja Mark Zuckerberg, dulu bikin Facebook cuma untuk iseng nyari teman. Sekarang?, teman se-dunia, jadi jangan remehkan iseng, kalau ada jurus ninja dalam bisnis, ya itu berani memulai meski terlihat receh.
Regina tanpa sadar sedang belajar salah satu hukum bisnis value ada di mata orang lain, bagi sebagian orang, pipe cleaner cuma kawat berbulu, tapi di tangan Regina, ia jadi simbol kasih sayang, hadiah ulang tahun, bahkan ekspresi cinta.
Kisah Regina ini muncul dari panggung RBS Studentpreneur, program Rumah BUMN Sumsel dan PT Pusri Palembang. Tema acaranya manis “Jadi Pengusaha Sejak Sekolah” seakan ingin bilang, jangan tunggu ijazah di tangan baru berani dagang. Wong sekarang anak SMA pun bisa mulai usaha.
Acara ini bukan cuma soal teori, ada CEO dan CFO Muda Rumah BUMN Sumsel yang langsung turun tangan, jadi bukan senior-senior pakai jas, melainkan anak muda juga yang ngerti bahasa anak sekolah. Kayak kakak tingkat yang ngajarin cara nembak gebetan lebih nyambung, lebih kena.
Sesi talkshow pun seru, ada materi soal strategi media sosial, cara ngatur tim kecil, sampai tips dagang ala generasi Z. Pokoknya lebih asik dari sekadar catatan kuliah ekonomi yang sering bikin ngantuk.
Di balik suasana serius belajar bisnis, ada juga cerita-cerita ringan, bayangkan, anak SMA biasanya kalau kumpul di kantin ngomongin drama Korea atau harga skin ML (Mobile Legends). Tapi kali ini, mereka diskusi gimana cara bikin margin untung, gimana caranya biar modal gak tekor.
Kalau pepatah bilang, “tak ada rotan akar pun jadi”, di forum ini, pepatahnya berubah menjadi “tak ada modal, kreasi pun jadi”, ada yang cerita jualan stiker, ada yang jualan jajan homemade, bahkan ada yang baru niat buka usaha tapi modalnya masih berupa doa.
Regina sendiri menambahkan humor khasnya, katanya bikin buket dari pipe cleaner itu ibarat bikin relationship. Awalnya ruwet, lama-lama kalau sabar dirangkai, bisa jadi indah, dan kalau salah lilit sedikit, bisa buyar semua. Nah lho, siapa bilang wirausaha gak ada romantis-romantisnya?.
Oleh karena itu, dari cerita Regina dan teman-temannya, kita belajar satu hal entrepreneur itu soal mentalitas, bukan soal umur. Lahirnya entrepreneur muda di SMA Pusri ini bukti nyata.
Kalau menunggu “sudah siap” baru mulai, mungkin sampai ubanan pun tidak akan ada yang memulai. Regina tidak menunggu modal besar, tidak menunggu pengalaman bertahun-tahun, bahkan tidak menunggu ijazah SMA, ia cukup berani mencoba.
Inilah pelajaran penting yang sering kita lupakan, banyak orang dewasa sibuk menunggu “momentum sempurna”. Padahal momentum itu sering tercipta justru karena kita berani bergerak.
Ada satu banyolan yang muncul di acara ini “Kalau ujian sekolah bisa dibocorkan jawabannya, ujian hidup jawabannya harus dicari sendiri”.
Wadah strategis
Semua ketawa, tapi sebenarnya ada benarnya, ujian sekolah mungkin bikin pusing, tapi ujian hidup jauh lebih pelik. Untungnya, lewat program ini, siswa SMA Pusri tidak hanya disiapkan untuk ujian di kelas, tapi juga ujian di dunia nyata, yakni bagaimana bertahan hidup, bagaimana menciptakan pekerjaan, bagaimana jadi mandiri.
Di sela gelak tawa itu, ada suara yang terasa lebih dalam, yakni CEO Muda Rumah BUMN Sumsel, Awaluddin Alfarisi, tampil dengan gaya ringan khas anak muda. Ia tak sekadar bicara formal, tapi menekankan bahwa program ini adalah bentuk nyata dukungan untuk tumbuhnya wirausaha muda di Palembang.
“Anak-anak muda harus berani bermimpi dan mencoba sejak dini, dengan bimbingan yang tepat, siswa-siswi sekolah sudah bisa belajar mengelola usaha kecil bahkan sebelum lulus sekolah,” ujarnya.
Sementara itu, VP TJSL Pusri, Alde Dyanrini, ikut menambahkan bahwa RBS Studentpreneur ini adalah wadah strategis, ia percaya, jiwa entrepreneur yang ditanam sejak bangku sekolah adalah fondasi penting untuk keberlangsungan UMKM dan ekonomi lokal.
“Kami percaya bahwa menumbuhkan jiwa entrepreneur sejak sekolah akan menjadi fondasi penting bagi keberlangsungan UMKM dan ekonomi lokal. Melalui kolaborasi ini, Pusri berharap dapat melahirkan lebih banyak inovator muda di Sumatera Selatan,” jelas Alde.
Dan benar saja, bukti nyata ada di depan mata, Regina dengan buket pipe cleaner-nya yang disambut positif oleh lingkungan sekolah, hingga berpotensi jadi usaha kecil yang terus berkembang. Lebih dari 100 pelajar antusias mengikuti kegiatan ini, membuktikan bahwa semangat generasi muda Palembang untuk berinovasi dan berwirausaha sejak dini memang tidak main-main.
Kisah Regina adalah bukti hal kecil bisa berubah jadi langkah besar, dari sekadar iseng prakarya, jadi peluang bisnis, dan dari seorang siswi SMA, lahir inspirasi untuk generasi muda Palembang.
Program RBS Studentpreneur pun terbukti lebih dari sekadar seminar, ia adalah laboratorium hidup yang memberi kesempatan bagi siswa untuk mencoba, gagal, bangkit, lalu berhasil.
Jadi, apa yang bisa kita ambil?, bahwa wirausaha tidak mengenal umur, keberanian lebih penting daripada modal, dan setiap orang punya potensi, tinggal bagaimana kita mengasahnya.
Regina salah satu contohnya yang sudah memulai dari buket pipe cleaner, pertanyaannya besarnya, kapan giliran kamu?.
Kalau kata pepatah, “seribu langkah besar dimulai dari satu langkah kecil”, jadi, jangan remehkan langkah kecilmu hari ini, siapa tahu, besok ia jadi cerita besar.[***]