Kapur Tulis dan Era AI, Begini Transformasi Pendidikan Matematika Unsri
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 8
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : ist
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Dunia pendidikan terus berubah, jika dahulu papan tulis dan kapur menjadi bagian utama kegiatan belajar mengajar, kini teknologi digital hingga kecerdasan buatan (AI) mulai membuka cara baru dalam menyampaikan ilmu pengetahuan.
Perubahan itu juga menjadi bagian dari perjalanan Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sriwijaya (FKIP Unsri).
Memasuki momenDies Natalis ke-65 FKIP Unsri, program studi ini memiliki cerita panjang tentang perkembangan pendidikan, capaian akademik, hingga tantangan yang harus dijawab pada masa mendatang.
Perjalanan tersebut bukan semata-mata soal pergantian alat belajar. Ada tuntutan yang lebih besar, yakni bagaimana menjaga kualitas pendidikan hingga menyiapkan calon pendidik yang mampu mengikuti perkembangan zaman.
Pada masa awal, pembelajaran matematika identik dengan papan tulis, kapur, buku-buku cetak, serta latihan soal di ruang kelas. Akses terhadap sumber belajar belum semudah sekarang. Dosen dan mahasiswa harus mengandalkan fasilitas yang tersedia untuk menjalankan kegiatan akademik.
Namun, keterbatasan itu tidak menghentikan proses pendidikan, dari lingkungan akademik tersebut, lahir alumni yang kemudian menempuh berbagai jalur pengabdian, mulai dari menjadi guru, kepala sekolah, pejabat di bidang pendidikan, hingga akademisi.
Jejak para alumni menjadi bagian dari kontribusi Pendidikan Matematika FKIP Unsri dalam mendukung perkembangan pendidikan, khususnya di Sumatera Selatan (Sumsel). Pengalaman masa lalu tersebut bisa menjadi bekal untuk menghadapi perubahan yang semakin cepat.
Kini, tantangan pendidikan tidak lagi sama sebab, perkembangan teknologi menuntut perguruan tinggi untuk terus meningkatkan kualitas pembelajaran, tata kelola, serta kompetensi sumber daya manusia.
Di lingkungan Prodi Pendidikan Matematika FKIP Unsri, upaya tersebut tercermin melalui sejumlah capaian sivitas akademika.
Prof. Dr. Hapizah, S.Pd., M.T.,Koordinator Program Studi, meraih penghargaan Korprodi Terbaik II di lingkungan FKIP Unsri. Sementara itu, Annisa Oktavia Lestari, S.Pd., M.Pd., berhasil meraih Peringkat 2 Terbaik pada Pelatihan Dasar (Latsar) CPNS Angkatan XXXIV.
Capaian tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kualitas sumber daya manusia di lingkungan program studi. Peran pimpinan dan dosen menjadi penting dalam menjaga mutu akademik sekaligus mendorong lahirnya lingkungan belajar yang terus berkembang.
Sementara pada akreditasi, Prodi Pendidikan Matematika FKIP Unsri juga telah mengantongi akreditasi internasional ASIIN dan predikat Unggul dari LAMDIK.
Pengakuan ini menjadi modal penting untuk menjaga kualitas pendidikan dan memperkuat kepercayaan terhadap penyelenggaraan pembelajaran. Bahkan berbagai informasi mengenai capaian tersebut turut dipublikasikan melalui situs resmi FKIP Unsri.
Ada hal lain yang ikut memperlihatkan perkembangan pendidikan matematika di Unsri. Mahasiswa tidak hanya dituntut memahami teori, rumus, dan perhitungan, tetapi juga didorong mengembangkan potensi melalui berbagai kegiatan dan prestasi.
Yunni Artha, alumni Magister Pendidikan Matematika Unsri, serta Ridho Rahman, mahasiswa Magister Pendidikan Matematika yang meraih juara III mahasiswa berprestasi, menjadi bagian dari capaian yang mewarnai perjalanan akademik program studi ini.
Di bidang kewirausahaan, sebanyak 12 tim mahasiswa juga berhasil lolos dalam Program Mahasiswa Wirausaha (PMW).
Keikutsertaan tersebut memperlihatkan mahasiswa matematika memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuan di luar bidang akademik. Kemampuan menganalisis persoalan, menyusun strategi, dan berpikir sistematis dapat menjadi bekal untuk merintis usaha maupun membaca peluang di dunia kerja.
Dengan demikian, pembelajaran matematika tidak berhenti pada kemampuan mencari jawaban yang benar. Prosesnya juga berkaitan dengan cara berpikir, mengambil keputusan, dan menyelesaikan persoalan secara terukur.
Tantangan baru di tengah perkembangan AI
Jika masa lalu diwarnai keterbatasan fasilitas, masa depan justru menghadirkan tantangan yang berbeda. Kecerdasan buatan, ilmu data atau data science, serta perkembangan teknologi digital mulai memengaruhi cara manusia belajar dan bekerja.
Situasi ini membuat peran calon guru matematika semakin luas. Mereka tidak cukup hanya menguasai materi pelajaran, tetapi juga perlu memahami teknologi, mengembangkan kemampuan berpikir kritis, dan mampu membimbing siswa menghadapi persoalan yang semakin kompleks.
Kehadiran AI, misalnya, dapat membantu proses belajar melalui penyediaan informasi dan penjelasan materi. Namun, siswa tetap perlu memahami konsep, memeriksa kebenaran jawaban, serta mengetahui bagaimana sebuah kesimpulan diperoleh.
Di sinilah kemampuan bernalar matematis dan computational thinking menjadi relevan. Matematika bukan sekadar menghitung angka, melainkan juga melatih seseorang mengenali pola, menyusun langkah penyelesaian, dan mengambil keputusan berdasarkan penalaran.
Untuk Pendidikan Matematika FKIP Unsri, perkembangan tersebut menjadi peluang untuk terus memperkuat inovasi pembelajaran. Teknologi perlu dimanfaatkan secara tepat tanpa mengesampingkan kemampuan pedagogis dan pendekatan humanis yang menjadi bagian penting dari profesi pendidik.
Sebab, secanggih apa pun teknologi yang digunakan, proses pendidikan tetap membutuhkan guru yang mampu memahami kebutuhan siswa, membangun komunikasi, dan menumbuhkan semangat belajar.
Jadi, Peringatan Dies Natalis ke-65 FKIP Unsri menjadi momen untuk melihat kembali perjalanan yang telah dilalui sekaligus menyiapkan langkah berikutnya.
Bagi Prodi Pendidikan Matematika, pengalaman panjang, prestasi sivitas akademika, serta capaian akreditasi menjadi modal untuk terus berkembang. Tantangannya adalah bagaimana seluruh capaian tersebut dapat diterjemahkan menjadi pembelajaran yang semakin berkualitas dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Perubahan dari kapur tulis menuju teknologi digital menunjukkan, dunia pendidikan tidak pernah berhenti bergerak. Metode belajar dapat berubah, perangkat pembelajaran dapat berkembang, dan kebutuhan kompetensi dapat semakin luas.
Namun, tujuan utamanya tetap sama, yakni membentuk manusia yang mampu berpikir, memahami persoalan, dan memberikan kontribusi bagi lingkungan sekitarnya.
Di usia ke-65 FKIP Unsri, perjalanan Pendidikan Matematika menjadi pengingat bahwa masa depan pendidikan tidak cukup hanya mengikuti perkembangan teknologi. Perguruan tinggi juga perlu menyiapkan pendidik yang mampu memanfaatkan perubahan tersebut untuk menciptakan pembelajaran yang bermakna.
Kapur tulis mungkin menjadi bagian dari cerita masa lalu. AI kini hadir sebagai salah satu alat pembelajaran masa depan. Di antara keduanya, kualitas pendidik dan kemampuan berpikir kritis tetap menjadi bagian penting yang menentukan arah pendidikan selanjutnya. (***)
Penulis : Ayu Ilmiati Rasyid &Mia Saputri.
- Penulis: Irwan Wahyudi
