MASA depan Palembang itu tidak dibangun dengan cara serba instan, masa depan tidak muncul karena ramainya tepuk tangan, apalagi karena viral semalam lalu dilupakan.
Melainkan masa depan itu dirawat dengan cara pelan-pelan, seperti menanam pohon, hari ini disiram, besok dicek, lusa dibersihkan dari rumput liar. Oleh sebab itu Festival Generasi Islami Kreatif (FGIK) 2026 yang digelar itu berada di jalur tidak gegap gempita, tapi serius.
Apalagi di era sekarang, ukuran sukses sering kali aneh. Acara ramai kamera dianggap berhasil, acara sunyi dicap gagal. Padahal, tidak semua yang ramai itu penting, dan tidak semua yang penting itu ramai. FGIK paham betul soal ini.
FGIK tidak sibuk mengejar sorotan, tapi fokus mengurus hal yang sering luput dari perhatian membentuk manusia yang utuh, bukan sekadar tampil rapi di foto.
Wali Kota Palembang Ratu Dewa hadir membuka festival ini dengan pesan yang terdengar sederhana, tapi maknanya panjang. Kota tidak cukup dibangun dengan beton dan aspal. Jalan mulus percuma kalau manusianya gampang tergelincir.
Gedung tinggi sia-sia kalau akhlaknya pendek. Maka pendidikan karakter kembali ditekankan, bukan sebagai slogan, tapi kebutuhan. Santri hari ini hidup di dua dunia. Satu kaki di pesantren, satu jari di layar ponsel. Notifikasi datang lebih cepat dari bel masuk.
Apalagi algoritma itu kadang lebih didengar daripada nasihat orang tua. Di tengah situasi seperti ini, pesantren sering disalahpahami seolah tertinggal zaman.
Padahal, justru di sanalah rem moral masih dipasang dengan benar, bahkan FGIK menjadi ruang latihan yang menarik. Santri bukan cuma diminta pintar, tapi juga berani. Bukan hanya hafal, tapi paham. Mereka tampil, berkreasi, lomba, kalah, menang, lalu belajar lagi.
Oleh karena itu, ini bukan sekadar festival, tapi simulasi kehidupan. Karena di dunia ini nyata, tidak semua usaha berakhir dengan piala, terkadang hanya dengan pelajaran.
Soal literasi digital, Ratu Dewa tidak bicara dengan nada takut-takut. Teknologi juga tidak diposisikan sebagai musuh.
AI dikenalkan, media sosial dirangkul. Santri didorong untuk tidak sekadar jadi penonton yang pasrah digiring algoritma, tapi pemain yang sadar arah. Bukan cuma ikut tren, tapi tahu batas.
Oleh karena itu, literasi digital tanpa karakter itu berbahaya. Ibarat mobil kencang tanpa rem jalannya seru, berhentinya bikin panik. Sebaliknya, karakter tanpa literasi bikin niat baik sering salah jalan. Maka pesantren ditantang untuk menyeimbangkan keduanya, akhlak kuat, dan wawasan luas.
Santri juga diajak menjadi kreator konten kebaikan. Dakwah tidak harus selalu tegang dan menggurui.
Pesan baik bisa disampaikan dengan cara yang ramah, santun, bahkan lucu asal tidak kehilangan nilai, karena senyum sering lebih masuk daripada bentakan, dan contoh hidup lebih ampuh daripada ceramah panjang.
Tak kehilangan arah
Soal buta aksara Al-Qur’an, ini bagian yang terasa menampar halus. Kita hidup di era di mana password dihafal di luar kepala, tapi ayat pendek sering terbata.
Jari rajin scroll berjam-jam, tapi membuka mushaf terasa berat. HP makin pintar, tapi hati sering kelelahan. Pesantren mengingatkan jangan sampai teknologi membuat kita jauh dari sumber nilai.
Peresmian TK di lingkungan pesantren juga bukan sekadar pelengkap acara, sebab sebagai pesan penting, karakter tidak dibentuk dadakan. Karakter ditanam sejak kecil, sejak anak belajar disiplin, berbagi, dan menghormati. Sejak usia belum kenal filter kamera, tapi sudah diajari filter perilaku.
FGIK sejatinya bukan tentang hari ini, tapi tentang Palembang 10–20 tahun ke depan. Tentang generasi yang tidak gagap teknologi, tapi juga tidak kehilangan arah.
Generasi yang cakap digital, tapi tetap berpijak pada nilai. Generasi yang tahu cara bicara di ruang publik, tapi juga tahu kapan harus diam dan merenung.
Pesantren lewat festival ini sedang menunjukkan satu hal penting mereka tidak tertinggal zaman.
Mereka hanya memilih berjalan dengan tujuan. Tidak terburu-buru, tidak silau, tapi konsisten. Di tengah dunia yang berlomba jadi tercepat, pesantren mengingatkan yang terpenting bukan siapa yang duluan, tapi siapa yang sampai dengan selamat.
Jadi, Festival Generasi Islami Kreatif bukan sekadar agenda tahunan atau daftar lomba. Ia adalah ikhtiar panjang membangun manusia sebelum membangun segalanya. Setoran kecil hari ini, hasil besar di masa depan.
Kata pepatah “Ilmu tanpa adab ibarat cahaya tanpa arah terang, tapi membutakan.” Oleh sebab itu lewat FGIK, Palembang sedang belajar menyalakan cahaya itu dengan bijak cukup terang, cukup hangat, dan tidak menyilaukan. (***)