(Ketika Ilmu Bertemu Pempek, dan Ketek Jadi Terapi Jiwa)
DETAK jantung para dokter bakal berubah ritmenya akhir November nanti, bukan karena kelelahan kerja, tapi karena Sungai Musi siap menggetarkan mereka dengan caranya sendiri.
Bahkan Palembang, yang kalau pagi wangi pempeknya bisa bikin lupa diet, bakal kedatangan tamu istimewa, siapa lagi kalau bukan para dokter jantung dan otak dari seluruh Indonesia dalam Kongres Nasional IKKI.
Mereka datang bukan cuma buat bahas soal pembuluh darah dan tekanan darah yang suka naik turun kayak harga cabe, tapi juga buat nyegerin hati lewat tur wisata Sungai Musi.
Iya, bro… ini bukan sekadar jalan-jalan, namun ya..namanya terapi visual dan spiritual ala Palembang.
Wali Kota Ratu Dewa udah siap jadi tuan rumah yang nggak tanggung-tanggung, ia ingin tamunya bukan cuma pulang dengan sertifikat ilmiah, tapi juga dengan kenangan indah yang bisa bikin senyum tiap kali dengar kata Musi.
Katanya, “Palembang ini bukan cuma kota sejarah, tapi juga kota yang bisa bikin hati adem, kalau jantungnya tenang, kerja pun senang”.
Coba bayangin suasananya sore hari, cahaya oranye menimpa Jembatan Ampera, ketek melaju pelan di atas air, dokter-dokter itu duduk sambil menikmati pemandangan.
Mungkin, untuk pertama kalinya dalam seminggu, mereka bisa tarik napas tanpa mikirin tensi pasien.
Dan tentu aja ya.. Palembang nggak bakal biarin tamunya pulang dengan perut kosong, setelah sesi serius soal kesehatan jantung, giliran pempek yang ambil alih suasana.
Kata orang Palembang, “Nak sehat itu, jangan pulo makan sayur bae, tapi jugo bahagia pas ngunyah pempek lenjer”
Itulah filosofi lokal yang sederhana tapi dalam sebab kebahagiaan itu, juga bagian dari pengobatan.
Ratu Dewa sangat paham, setiap kegiatan Nasional itu kayak infus ekonomi buat kota. Ratusan tamu datang, hotel penuh, warung rame, ojek online senyum lagi. “Multiplier effect-nya besar, bukan cuma di pariwisata, tapi juga di UMKM lokal,” ujarnya akur…
Oleh karena itu, Pemkot Palembang langsung gerak bareng dengan Dinas Kesehatan, Dishub, Diskominfo, sampai BPKAD semua siap jadi tim pendukung.
Tujuannya tak lain hanya satu, bikin Palembang bukan cuma dikenal sebagai kota sejarah, tapi juga kota kongres nasional yang berkelas, tapi tetap bersahaja.
Sungai Musi itu mirip jantung manusia, terus mengalir, kadang deras, kadang tenang. Tapi kalau alirannya tersumbat, kota ini bisa kehilangan denyutnya. Begitu pula dengan hidup harus ada keseimbangan antara kerja keras dan ketenangan batin.
Itulah yang mau disampaikan Palembang lewat Kongres IKKI ini. Bahwa ilmu medis yang paling tinggi pun, tetap butuh sentuhan kemanusiaan, karena tubuh tanpa hati, kayak kota tanpa sungai: kering dan kehilangan arah.
Nah, nanti kalau para dokter itu pulang, mungkin mereka nggak cuma bawa ilmu baru tentang jantung dan otak. Mereka juga bawa pelajaran hidup dari Musi bahwa kadang, yang paling menyembuhkan itu bukan obat, tapi keindahan yang sederhana dan ketulusan orang-orangnya.
Dan Palembang, lewat senyum warganya, lewat aroma pempeknya, lewat tenangnya air Musi, sedang bilang pelan-pelan “Kami mungkin bukan kota yang sempurna, tapi kami tahu cara bikin hati berdetak lebih bahagia”.[***]