Antrean Solar Mengular dari Pasar Lemabang ke RE Martadinata, Truk Halangi Jualan, Pedagang Terjepit
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 33 menit yang lalu
- visibility 10
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto ;one
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Antrean kendaraan berbahan bakar solar mengular di kawasan Lemabang, Palembang. Puluhan kendaraan, mulai dari truk angkutan tanah, truk peti kemas hingga kendaraan lainnya, memenuhi sisi kiri badan Jalan Yos Sudarso menuju Jalan RE Martadinata.
Antrean terlihat mulai dari depan Mie Ayam Kaki Lima Pasar Lemabang dan memanjang menuju kawasan SPBU di Jalan RE Martadinata, Kamis (1/10/2026) sekitar pukul 16.00 WIB.
Deretan kendaraan yang menunggu giliran mengisi solar membuat sebagian badan jalan ikut terpakai. Ruang gerak kendaraan lain pun menjadi semakin terbatas.
Kondisi itu paling terasa ketika kendaraan dari arah Pusri hendak melakukan putar balik. Pengendara harus memperlambat laju dan mencari celah di antara kendaraan yang melintas dan truk yang sedang mengantre sehingga arus lalu lintas tersendat.
Kepadatan semakin terasa menjelang sore, ketika arus kendaraan meningkat karena memasuki jam pulang kerja.
Namun, antrean panjang tersebut bukan hanya berdampak pada pengguna jalan.
Pedagang kaki lima di sepanjang kawasan Pasar Lemabang hingga Jalan RE Martadinata ikut terkena dampaknya.
Deretan kendaraan yang mengantre solar kerap menutup bagian depan lapak. Akibatnya, calon pembeli kesulitan mendekat atau bahkan tidak bisa melihat dagangan yang dijajakan pedagang.
Sejumlah pedagang bahkan memasang kotak bekas buah dan kotak telur di pinggir jalan.
Bukan untuk berjualan, melainkan untuk menghalangi kendaraan agar tidak mengambil posisi antre tepat di depan lapak mereka.
Seorang pedagang laki-laki setengah baya mengaku kondisi tersebut membuat pedagang kecil semakin sulit mendapatkan pembeli.
“Ini sama saja menutup rezeki orang berdagang karena dihalangi antrean mobil yang parkir. Banyak pembeli terhalang untuk membeli. Ibaratnya enak di mereka, kita ini dapat getahnya,” keluhnya.
Menurut dia, pemerintah daerah perlu segera mencari solusi agar antrean kendaraan tidak terus menggunakan badan jalan dan mengganggu aktivitas masyarakat.
Ia berharap persoalan tersebut tidak berhenti sebatas rapat atau pembahasan.
“Harapan kami ada solusi dari pemerintah daerah, baik gubernur maupun pemerintah kota. Jangan rapat terus, tapi hasilnya tidak berubah,” ujarnya.
Truk Angkutan Tanah hingga Peti Kemas Melintas
Pedagang tersebut juga menyoroti aktivitas kendaraan bertonase besar yang setiap hari melintas di kawasan tersebut.
Selain truk angkutan tanah, kendaraan pengangkut peti kemas juga menjadi bagian dari aktivitas lalu lintas di kawasan Yos Sudarso dan RE Martadinata.
Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena jalan yang baru diperbaiki kembali harus menanggung beban kendaraan berat.
“Jalan Yos Sudarso ini sudah bagus, sudah diaspal. Tapi mungkin mulusnya paling lima bulan, sudah itu hancur lagi akibat muatan dan tonase truk angkutan peti kemas dan lainnya,” katanya.
Ia berharap perbaikan jalan tidak hanya dilakukan ketika kerusakan sudah terjadi, tetapi juga diikuti pengaturan kendaraan bertonase besar yang melintas.
Antrean Solar Sudah Berulang Kali Dibahas
Persoalan antrean BBM bersubsidi di Sumsel sebelumnya sudah beberapa kali dibahas pemerintah bersama pihak terkait.
Pada 7 Juli 2026, Gubernur Sumsel Herman Deru memimpin rapat koordinasi penyelesaian antrean BBM bersubsidi. Rakor tersebut melibatkan pemerintah kabupaten dan kota, Pertamina, BPH Migas serta aparat terkait.
Rakor digelar sebagai respons terhadap antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU yang berdampak pada kemacetan serta kenyamanan masyarakat.
Dalam rapat tersebut, pemerintah juga membahas pengawasan distribusi Biosolar dan Pertalite agar penyalurannya tepat sasaran. Salah satu usulan yang dibahas adalah perincian pembagian kuota BBM subsidi hingga tingkat SPBU agar alokasi dapat menyesuaikan kebutuhan di lapangan.
Persoalan antrean kemudian kembali dibahas pada 8 September 2026 melalui rapat koordinasi di Griya Agung Palembang.
Dalam rapat itu, Pemprov Sumsel bersama Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel membahas pasokan dan distribusi Biosolar.
Pertamina menjelaskan bahwa sekitar 50 persen komponen Biosolar yang didistribusikan berasal dari FAME berbasis sawit. Gangguan pada ketersediaan bahan baku maupun distribusinya dapat berpengaruh terhadap pasokan Biosolar. Pemerintah pun mendorong adanya langkah yang lebih terukur dalam menangani persoalan antrean BBM bersubsidi.
Pedagang: Kami yang Dapat Getahnya
Kini, antrean kendaraan kembali terlihat di kawasan Lemabang. Bagi pedagang kaki lima, panjangnya antrean kendaraan berarti ruang berjualan mereka semakin terdesak.
Ketika truk berhenti di depan lapak, calon pembeli sulit mendekat. Pedagang pun harus mencari cara sendiri agar area di depan tempat mereka berjualan tidak dipenuhi kendaraan yang mengantre. Masalah lain yang ikut dirasakan adalah debu dari aktivitas kendaraan.
Terlebih ketika kondisi cuaca kurang baik, debu yang beterbangan disebut membuat pedagang dan warga di sekitar jalan semakin tidak nyaman. “Kalau cuaca buruk begini, debunya banyak. Ganggu pernapasan. Entah sampai kapan antrean seperti ini mau beres,” keluhnya.
Pedagang berharap pemerintah daerah segera mempertemukan kepentingan distribusi BBM, kelancaran lalu lintas, aktivitas kendaraan angkutan, dan keberlangsungan usaha kecil di sepanjang jalan tersebut.
Sebab, bagi pedagang, persoalannya bukan hanya soal truk yang mengantre solar, ada jalan yang semakin sempit, pembeli yang sulit masuk, debu yang mengganggu, serta kekhawatiran terhadap kondisi jalan akibat aktivitas kendaraan bertonase besar.(***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
