Minggu, 16 Agu 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Olahraga & Otomotif » Padel Sedang Naik Daun, Tapi Akankah Bertahan?

Padel Sedang Naik Daun, Tapi Akankah Bertahan?

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month 39 menit yang lalu
  • visibility 5
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

SUMSELTERKINI.CO.ID – Coba ingat lagi olahraga apa yang paling sering dimainkan anak muda sekitar lima atau sepuluh tahun lalu.

Jawabannya mungkin futsal, sebab ada masa ketika mencari lapangan futsal pada malam hari tidak selalu mudah, jadwal selepas jam kerja atau kuliah cepat penuh. Teman-teman membuat grup khusus untuk menentukan siapa yang ikut bermain. Bisnis lapangan futsal pun ikut tumbuh karena permintaannya memang sedang tinggi, bahkan trennya kemudian berubah.

Lari menjadi kegiatan yang semakin populer, bersepeda juga sempat mengalami masa ketika hampir setiap akhir pekan jalanan dipenuhi rombongan pesepeda. Ada yang bertahan, ada pula yang kembali ke aktivitas sebelumnya setelah euforianya mereda.

Sekarang olahraga yang sedang mendapat giliran adalah padel, di Indonesia, olahraga ini berkembang cukup cepat. Lapangan bermunculan, komunitas mulai terbentuk dan pertandingan mulai digelar di sejumlah daerah.

Palembang pun mulai masuk dalam perkembangan tersebut. Salah satu tandanya adalah dibukanya Hello Padel X Kopi Suway di Jalan Talang Kepuh, Kelurahan Gandus, Sabtu (15/8/2026).

Tapi,  kalau bicara padel, menariknya bukan cuma soal bertambahnya lapangan, ada pertanyaan yang lebih panjang, yaitu apakah padel akan benar-benar menjadi olahraga yang biasa dimainkan masyarakat, atau nantinya hanya dikenang sebagai olahraga yang pernah booming?

Bukan hanya ikut-ikutan

Pertumbuhan padel di Indonesia memang sulit dianggap kecil. Data Core & Court yang dirangkum Databoks menunjukkan jumlah klub padel di Indonesia bertambah dari tiga klub pada 2021 menjadi 293 klub pada 2025. Jumlah lapangannya dalam periode yang sama naik dari 15 menjadi 947.

Pertumbuhan sebesar itu tentu tidak terjadi hanya karena satu-dua orang penasaran. Ada pemain yang terus bertambah, selain itu ada pengelola yang melihat pasar, bahkan ada komunitas yang mulai rutin bermain dan ada pula pertandingan yang membuat olahraga ini semakin dikenal. Padel sendiri bukan olahraga yang sepenuhnya asing. Dasarnya masih berkaitan dengan olahraga raket seperti tenis, tetapi lapangan dan cara bermainnya berbeda.

Permainan biasanya dilakukan berpasangan. Bagi sebagian pemain baru, format ini terasa lebih ringan karena tidak membutuhkan lapangan sebesar tenis dan permainan bisa berlangsung dalam jarak yang relatif dekat. Tetapi mungkin bukan itu saja yang membuatnya cepat diterima.

Padel punya unsur kumpul-kumpul yang kuat, empat orang bisa bermain bersama. Setelah selesai, mereka bisa duduk, berbincang atau membuat janji untuk bermain lagi di lain waktu.

Bagi masyarakat perkotaan yang waktunya terbatas, olahraga seperti ini punya daya tarik tersendiri.

Datang untuk olahraga, tetapi pulangnya membawa cerita lain.

Teman bisa menjadi pintu masuk

Banyak orang mengenal olahraga bukan dari penjelasan panjang tentang manfaat kesehatan.

Mereka mengenalnya dari teman.

“Main padel, yuk.”

Sesederhana itu.

Setelah mencoba sekali, seseorang bisa saja merasa cocok. Lalu minggu berikutnya bermain lagi. Dari situ mengenal pemain lain, masuk grup, ikut pertandingan kecil dan akhirnya memiliki jadwal rutin.

Pola seperti ini sebenarnya sudah lama terjadi dalam olahraga.

Futsal tumbuh lewat kelompok pertemanan. Komunitas lari berkembang melalui pertemuan rutin. Begitu juga dengan bersepeda.

Bedanya sekarang, media sosial membuat prosesnya jauh lebih cepat.

Orang bisa melihat permainan padel dari unggahan teman, figur publik atau komunitas. Rasa penasaran kemudian muncul. Setelah itu tinggal mencari tempat bermain.

Sebuah olahraga yang sebelumnya tidak dikenal bisa tiba-tiba menjadi bahan pembicaraan dalam waktu singkat.

Padel sedang mengalami fase tersebut.

Dari tren menjadi kebiasaan

Masalahnya, tidak semua orang yang mencoba olahraga baru akan terus bermain.

Ini yang sering luput ketika membicarakan sebuah tren.

Ketika sesuatu sedang ramai, jumlah orang yang mencoba memang tinggi. Tetapi setelah beberapa waktu, rasa penasaran biasanya turun.

Di situlah olahraga tersebut diuji.

Pemain yang datang karena ingin ikut-ikutan mungkin berhenti. Yang tetap datang biasanya adalah mereka yang sudah menemukan alasan pribadi untuk bermain.

Bisa karena ingin menjaga kebugaran.

Bisa karena sudah punya teman bermain.

Bisa karena menikmati kompetisinya.

Atau memang karena suka dengan permainannya.

Kalau kelompok kedua ini terus bertambah, sebuah tren punya peluang berubah menjadi kebiasaan.

Fasilitas mulai mengikuti minat

Salah satu tanda pertumbuhan padel terlihat dari semakin banyaknya fasilitas yang dibangun.

Jakarta menjadi salah satu pusat perkembangan paling cepat. Setelah itu, lapangan mulai muncul di kota-kota lain.

Pertumbuhan tempat bermain kemudian berjalan beriringan dengan kegiatan komunitas dan kompetisi.

Ini penting.

Sebab olahraga akan lebih sulit bertahan kalau hanya mengandalkan orang yang datang untuk bermain santai.

Ketika sudah ada turnamen, pemain memiliki tujuan lain. Mereka mulai ingin memperbaiki permainan, mencari lawan yang lebih kuat atau sekadar ingin mengukur kemampuan.

Di Indonesia, padel juga mulai diarahkan ke jalur prestasi.

Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir pada akhir 2025 meminta pengurus Padel Indonesia menyusun peta jalan menuju SEA Games, Asian Games hingga Olimpiade.

Artinya, pembicaraan soal padel mulai bergeser.

Bukan lagi cuma tentang lapangan baru atau olahraga yang sedang populer, tetapi juga bagaimana pemainnya bisa berkembang.

Palembang mulai merasakan

Di Palembang, perkembangan itu masih tergolong baru.

Hello Padel X Kopi Suway menjadi salah satu fasilitas yang hadir ketika minat terhadap olahraga tersebut mulai tumbuh.

Owner Hello Padel, Hj. Samantha Tivani, mengatakan keputusan membuka fasilitas itu tidak lepas dari perkembangan minat masyarakat Palembang terhadap padel.

Di sinilah menarik melihat perkembangan selanjutnya.

Sebuah lapangan bisa saja ramai ketika baru dibuka. Tetapi apakah keramaiannya bertahan?

Jawabannya baru bisa terlihat setelah beberapa bulan berjalan.

Kalau pemain mulai membentuk kelompok tetap, jadwal bermain rutin, dan pertandingan semakin sering digelar, berarti ada sesuatu yang lebih kuat daripada sekadar tren.

Sebaliknya, kalau pemain datang hanya karena penasaran kemudian perlahan berkurang, maka siklusnya akan sama seperti banyak olahraga yang pernah mengalami masa ramai.

Wakil Gubernur Sumatera Selatan H. Cik Ujang yang hadir dalam pembukaan Hello Padel mengatakan padel saat ini memang sedang berkembang.

“Padel saat ini sangat booming dan ini merupakan salah satu sarana padel terbaik,” kata Cik Ujang.

Ia juga menyebut Piala Gubernur akan digelar pada 6 September mendatang.

Kompetisi seperti itu bisa menjadi salah satu cara melihat perkembangan komunitas padel di Sumatera Selatan. Setidaknya, pemain tidak hanya punya tempat untuk bermain, tetapi juga kesempatan untuk bertanding.

Futsal memberi pelajaran

Kisah futsal bisa menjadi gambaran sederhana.

Olahraga itu tidak pernah benar-benar hilang.

Sampai sekarang masih banyak orang bermain futsal. Lapangan masih beroperasi. Turnamen juga tetap ada.

Hanya saja, futsal sudah tidak lagi menjadi sesuatu yang baru.

Dulu, orang bermain karena hampir semua teman bermain futsal.

Sekarang, orang punya lebih banyak pilihan.

Ada gym, lari, tenis, badminton, basket, bersepeda, pickleball, padel dan berbagai aktivitas lainnya.

Itulah yang kemungkinan akan dihadapi padel nanti.

Ketika olahraga baru datang, apakah pemain padel akan ikut berpindah?

Atau mereka sudah telanjur menemukan olahraga yang benar-benar disukai?

Tidak ada yang bisa menjawabnya sekarang.

Harga dan akses juga akan menentukan

Ada satu hal lain yang sering menentukan umur sebuah tren olahraga: akses.

Semakin mudah seseorang menemukan lapangan dan semakin banyak komunitas yang bisa diikuti, semakin besar peluang olahraga tersebut berkembang.

Sebaliknya, kalau olahraga hanya bisa dijangkau kelompok tertentu, pertumbuhannya bisa lebih terbatas.

Karena itu, perkembangan padel ke kota-kota di luar pusat pertumbuhan menjadi penting.

Palembang adalah salah satunya.

Bukan karena satu lapangan otomatis menunjukkan olahraga itu sudah besar, tetapi karena dari tempat-tempat baru semacam inilah komunitas lokal bisa terbentuk.

Kalau pemain di Palembang mulai rutin bermain, turnamen lokal semakin banyak dan anak-anak muda mulai mengenalnya, padel punya kesempatan untuk tumbuh lebih jauh.

Yang bertahan bukan selalu yang paling ramai

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan padel bukan seberapa sering namanya muncul di media sosial.

Bukan pula berapa banyak orang yang mencoba dalam satu bulan.

Ukuran sebenarnya sederhana, berapa banyak yang tetap bermain ketika padel sudah tidak lagi menjadi sesuatu yang baru.

Futsal pernah melewati fase itu.

Lari juga.

Bersepeda pun demikian.

Ada yang kehilangan sebagian peminat, tetapi tetap hidup karena sudah memiliki komunitas. Ada yang kembali menjadi olahraga biasa setelah sebelumnya sangat ramai.

Padel sekarang masih menikmati masa ketika banyak orang ingin mencoba.

Itu modal yang bagus.

Tetapi perjalanan dari olahraga yang sedang tren menjadi olahraga yang bertahan cukup panjang.

Di Palembang, ceritanya bahkan baru dimulai.

Lapangan boleh bertambah. Turnamen boleh semakin sering. Komunitas boleh tumbuh.

Namun beberapa tahun lagi, ketika mungkin sudah ada olahraga baru yang sedang ramai dibicarakan, jawabannya akan terlihat.

Apakah orang masih mencari teman untuk bermain padel?

Kalau masih, berarti padel sudah melewati fase tren.

Ia sudah menjadi kebiasaan.

Dan mungkin, di situlah sebuah olahraga benar-benar menang. (***)

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • jhonny g plate

    Menkominfo : Bulog Berikan Beras Berkualitas untuk Bantuan PPKM, Jika Tidak Sesuai akan Segera Diganti

    • calendar_month Sabtu, 14 Agt 2021
    • account_circle Bono
    • visibility 899
    • 0Komentar

    Guna membantu ketersediaan kebutuhan pokok bagi rakyat selama perpanjangan penerapan PPKM, pemerintah kembali menyalurkan Bantuan Sosial Beras Tahap II.

  • Hari Pertama Kampanye, Begini Kata Akhor

    Hari Pertama Kampanye, Begini Kata Akhor

    • calendar_month Kamis, 15 Feb 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 931
    • 0Komentar

    ”Banyak keluhan dari masyarakat dan pedagang, tentunya dapat menjadi bahan bagi kami untuk mencarikan solusinya,”

  • Sambil Menangis, Puluhan Bidan di Muba Ngadu, diterima langsung Sekda Apriyadi

    Sambil Menangis, Puluhan Bidan di Muba Ngadu, diterima langsung Sekda Apriyadi

    • calendar_month Selasa, 28 Mei 2024
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.175
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id,- Puluhan bidan dari berbagai Kecamatan di Kabupaten Musi Banyuasin mendatangi kantor Pemkab Muba, Senin (27/5/2024) pagi. Kedatangan puluhan bidan dengan haru tersebut diterima langsung Sekda Muba Apriyadi Mahmud. Puluhan bidan itu tampak haru dan beberapa ada yang sambil menangis saat menemui Sekda Apriyadi. Mereka kecewa lantaran pihak BKN dan Kementerian Kesehatan belum ada kejelasan […]

  • Pakai Gambo Muba, Apriza Raih Ini Di Ajang Pesona Batik Nusantara

    Pakai Gambo Muba, Apriza Raih Ini Di Ajang Pesona Batik Nusantara

    • calendar_month Selasa, 10 Mar 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.586
    • 0Komentar

    MUHAMMAD Apriza putra perwakilan asal Kabupaten Musi Banyuasin [Muba] berhasil mengharumkan nama Kabupaten. Dengan menggunakan batik jumputan Gambo Muba produk unggulan khas Kabupaten Musi Banyuasin, Muhammad Apriza berhasil meraih Perfomance 2 dan Favorite SMS 2 di ajang pesona batik Nusantara yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata Indonesia, Minggu (8/3/2020) di Jakarta. Keberhasilan ini, tentunya menjadi kebanggaan […]

  • Muba Raih Penghargaan Daya Saing Daerah Berkelanjutan Award di Regional Summit 2020

    Muba Raih Penghargaan Daya Saing Daerah Berkelanjutan Award di Regional Summit 2020

    • calendar_month Jumat, 6 Nov 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.630
    • 0Komentar

    KABUPATEN Musibanyuasin [Muba] memperoleh penghargaan Daya Saing Daerah Berkelanjutan Award, Katadata Regional Summit 2020 dari Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD), Kinara Indonesia, dan Katadata Insight Center. “Inovasi berbasis prinsip keberlanjutan harus menjadi prioritas daerah, terutama bagi daerah yang mengandalkan Sumber Daya Alam sebagai fondasi perekonomian daerah saat ini dan di masa depan. Untuk daerah […]

  • Analisa Gempa Magnitudo M5,8 Kota Bitung Kemarin,  BNPB Fenomena Gempa Bumi Nggak Bisa Diprediksi, Di Imbau Tetap Siap Siaga

    Analisa Gempa Magnitudo M5,8 Kota Bitung Kemarin,  BNPB Fenomena Gempa Bumi Nggak Bisa Diprediksi, Di Imbau Tetap Siap Siaga

    • calendar_month Selasa, 12 Okt 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.115
    • 0Komentar

    GEMPA  bumi magnitudo (M)5,8 memicu guncangan dengan tingkat sedang yang dirasakan warga Kota Bitung, Provinsi Sulawesi Utara. Peristiwa ini terjadi pada Senin malam (11/10), pukul 19.34 WIB. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bitung melaporkan warganya merasakan guncangan selama 2 – 4 detik. Guncangan yang dirasakan tersebut sempat membuat warga setempat panik hingga keluar rumah. […]

expand_less
WordPress Archive Cryptoking – Bitcoin & ICO Theme Cryptokit – Blockchain Cryptocurrency Elementor Template Kit Cryptopia – NFT Crypto Sales Elementor Template Kit Cryptoxo – Cryptocurrency Blockchain & Bitcoin Elementor Template Kit Cryptoz | ICO And Crypto WordPress Theme Cryptrex | Cryptocurrency & Mining WordPress Theme Cryptro - Cryptocurrency, Blockchain , Bitcoin & Financial Technology Cryptum – Luxurious Cryptocurrency Material Design Admin Dashboard CrystalSkull – Gaming Magazine WordPress Theme CSS Contact Form