Olahraga & Otomotif

Dari Rice Cooker ke Roda Listrik [Ketika Polytron Gak Mau Cuma Jadi Colokan di Rumah Sendiri]

ist

Sumselterkini.co.id, – Dulu, Polytron itu identik dengan televisi tabung yang kalau dipukul bisa sembuh, kulkas dua pintu yang bisa simpan duren tanpa bikin serumah mabok, dan rice cooker yang jadi saksi bisu gagal move on.

Tapi sekarang? Wussssh! Polytron masuk jalur cepat bikin mobil listrik sendiri, kayak tetangga yang dulu tukang layangan, sekarang tiba-tiba jualan saham dan nyuruh kita nabung emas. Kaget, tapi salut. Dan yang lebih bikin ngelus dada (bukan karena sesak, tapi haru), peluncuran mobil listrik Polytron Q3 ini dihadiri langsung  Menteri Perindustrian, Pak Agus Gumiwang Kartasasmita, di Jakarta, 6 Mei 2025. Wah, ini bukan main-main, Bung.

Kata Menperin, ini langkah besar. Dan kita sepakat. Soalnya, di negeri yang suka bangun tol tapi lupa trotoar, bikin mobil listrik merek nasional itu ibarat nanam durian di rooftop mustahil, tapi bisa kalau niat. Apalagi, pemerintah sering kayak orang pacaran LDR bilang mendukung industri lokal, tapi belanja komponen tetap ke luar negeri.

Oleh sebab itu,  ketika Polytron maju dengan Q3-nya, ini kayak lihat anak sendiri bisa jalan tanpa perlu gandengan tangan. Ada haru, ada bangga, meski kita belum bisa beli juga. Ya maklum, harga masih bikin dompet meriang.

Mari kita bicara serius dikit (walau masih nyengir). Mobil listrik bukan sekadar gaya hidup, tapi masa depan. Negara seperti Vietnam dengan VinFast-nya sudah ngeluarin EV yang ekspor ke Eropa. Thailand udah jadi basis pabrik mobil listrik Asia.

Kalau Indonesia masih sibuk debat plat nomor ganjil-genap dan ngecas HP aja rebutan colokan, ya kita cuma jadi pasar, bukan pemain. Untung ada Polytron yang nekad nyemplung. Pepatah bilang, “Lebih baik jadi kepala semut daripada ekor naga.” Tapi kalau bisa jadi kepala naga lokal, kenapa enggak?

Tapi jangan senang dulu. Tantangannya bukan cuma soal teknologi. Infrastruktur kita belum siap sepenuhnya. Stasiun pengisian baterai masih bisa dihitung pakai jari anak TK. Kebijakan insentif juga masih tarik-ulur, kadang seperti drama sinetron episode 978 bikin penonton bingung, tapi aktornya tetap senyum. Di sinilah pemerintah harus lebih dari sekadar datang meresmikan. Jangan cuma hadir buat gunting pita, tapi juga ngebor jalan buat perkembangan industri dalam negeri.

Polytron juga perlu dijaga. Jangan sampai setelah launching gegap gempita, jadi kayak band indie lokal viral sebentar, hilang selamanya. Kita butuh ekosistem yang sehat, bukan cuma pencitraan. Kalau perlu, para pejabat pakai Q3 buat dinas, biar rakyat tahu mobil ini bukan cuma buat pajangan showroom. Gak usah malu, justru bangga! Karena selama ini kita kebanyakan beli mobil luar negeri sambil bilang “bangga produk dalam negeri” dengan tangan satunya pegang remote TV Korea.

Mobil listrik bukan lagi barang aneh. Di Norwegia, 80% mobil baru udah listrik semua. Di sana, mobil bensin kayak kaset pita ada, tapi dianggap antik. Kita? Masih debat SPBU buka 24 jam tapi colokan EV tutup jam 6 sore. Tapi semua bisa berubah, asal serius. Polytron udah ambil risiko. Tinggal kita pemerintah, pelaku industri, dan konsumen kompak kayak grup dangdut kampung waktu acara 17-an. Gak usah tunggu viral dulu baru dukung.

Dalam dunia yang bergerak cepat ini, kita tak bisa terus jadi penonton di stadion teknologi. Seperti kata Elon Musk (yang mobilnya bisa nerbang ke luar angkasa), “Kalau kamu bangun setiap pagi tanpa semangat membuat sesuatu yang berbeda, kamu mungkin salah tempat kerja,”

Nah, Polytron udah buktikan, mereka gak salah jalur. Sekarang giliran kita. Dukung, beli, kritik, dan terus dorong industri lokal jadi tuan rumah di garasi sendiri. Kalau kita terus kompak, siapa tahu 2028 nanti kita punya mobil listrik nasional yang bisa ngasih sinyal WiFi gratis sambil nyeduh kopi. “Inovasi itu seperti bersepeda, kalau berhenti ya jatuh.” – Albert Einstein (dan juga mantan pacar yang suka nyindir waktu kita mandeg skripsi)[***]

Terpopuler

To Top