Olahraga & Otomotif

Atlet Bulutangkis Putri Juara Tunggal Putri Devisi II

Foto : nover

KEJURNAS Bulutangkis  di
Kota Palembang sukses menjadi penyelenggara kejuaraan nasional (kejurnas) bulutangkis Piala Gubernur Sumsel 2019 belum lama ini. Bahkan tuan rumah bukan hanya sukses menjadi penyelenggara.

Salah satu atletnya, Mia Mawarti Utami sukses menjuarai nomor tunggal putri divisi II setelah dalam final berhasil mengalahkan Nurul Shasabilah dari Riau dengan skore 21-10 dan 21-13.
Boyongan satu gelar yang dipersembahkan pemain tunggal putri tuan rumah Mia Mawarti Utami ini, menjadi moment kebangkitan olahraga bulutangkis di Sumsel, setelah sebelumnya dalam beberapa kali penyelenggaraan Sumsel selalu gagal menempatkan atlet bulutangkisnya menjadi yang terbaik.
Kehadiran pemain dan legenda bulutangkis di tanah air ke Palembang, seperti Muhammad Ahsan, Hendra Setiawan, Kevin Sanjaya, Marcus Gedion, Antoni Ginting, Jhonatan Cristine, Susi Susanti, Alan Budi Kusuma, Yuni Kartika, Hastomo Arbi dan Liliana Nasir. Mampu menggairahkan dan mendorong motivasi pretasi untuk atlet-atlet mudah di Sumsel.
Sumsel sebenarnya punya modal besar untuk mengembangkan melahirkan atlet-atlet bulutangkis tingkat nasional muapun internasional, dimana Sumsel memiliki fasilitas olahraga bulutangkis yang berstadar internasional yaitu GOR Dempo di kawasan Jakabaring Sport City Palembang.
Apalagi animo masyarakat untuk menggairahkan dan mendorong olahraga bulutangkis ini cukup besar terbukti pada kejuaraan berlevel nasional lalu GOR Dempo yang berkapsitas 3000 tempat duduk penuh dengan kehadiran atlet dan pencinta bulutangkis dari berbagai Kota Kabupaten di Sumsel.
Dalam catatan sejarah yang ditulis Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonenesia (PBSI), kehadiran olahraga bulutangkis di Sumsel sudah ada sejak tahun 1927. Bahkan Sumsel pernah mempunyai beberapa nama pemain yang cukup dikenal seperti Tan Joe Hong, Menon, Oei Kim Fud, Tjek Mamat dan Liem Djie Soei. Bahkan Tjek Mamat ini telah menjadi atlet bulutangkis Sumsel yang terkenal karena hampir tidak pernah kalah dalam setiap turnamen.

Pada era penjajahan Jepang sekitar tahun 1945 kegiatan bulutangkis Sumsel menurun dan kembali bergairah pada tahun 1948. Dan kemudian muncul beberapa klub kecil seperti HCLCS yang kemudian berganti nama menjadi PB Dharma Jaya, PB Sinar Bulan dan Forward, Blue Bird dan masih banyak lagi.

Era bulutangkis modern beberapa nama atlet kelahiran Palembang pernah masuk pemusatan latihan nasional, diantaranya ada pemain tunggal putri Tike Arieda Ningrum yang sempat menjuarai Sirnas di Bali 1989 dan Runner up Sirnas 2009 di Jawa Timur. Tetapi sayang nama Tike kemudian menghilang karena sering mengalami cidera.
Ada lagi pemain ganda campuran kelahiran Palembang, Debby Susanto. Bersama Praveen Jordan sebagai pasangannya, Debby pernah menjuari All England (2016) dan Korea Terbuka (2017). Tetapi sayang Debby kemudian harus mundur dari pelatnas ditengah prestasi sedang berada dipuncak karena menikah.
Salah satu pemain bulutangkis kelahiran Palembang yang cukup membanggakan adalah Muhammad Ahsan, yang sekarang berada diperingkat ke II dunia bersama Hendra Setiawan. Bahkan Ahsan sendiri pernah meraih gelar juara dunia bulutangkis ganda putra.

Tetapi sayangnya dari ketiga atlet bulutangkis kelahiran Palembang ini, pada Pekan Olahraga Nasional (PON) tidak pernah mencatatkan dirinya sebagai atlet Sumsel. Tike Arieda Ningrung misalnya yang merupakan atlet jebolan PB Surya Naga Surabaya ini membawa nama Jawa Timur pada PON ke XVIII di Riau. Begitu juga dengan Ahsan dan Debby kedua mewakili Jawa Tengah.

Ketua Umum Pengprov PBSI Sumsel, berharap dengan adanya kejurnas bulutangkis 2019 ini diharapkan dapat memotivasi atlet untuk bisa lebih berprestasi lebih tinggi lagi, sehingga bisa bersaing dengan atlet dari provinsi lain. Serta menumbuh gairah pembinaan bagi atlet bulutangkis di Sumsel.

Hasil kejurnas ini menjadi tolak ukur untuk atlet bisa lebih berprestasi lebih tinggi lagi, apalagi Sumsel mempunya fasilitas yang cukup memadai. (**)

Penulis : Nov

Comments

Terpopuler

To Top