Nasional

BMKG Berperan Mengedukasi Masyarakat dalam Kesiapsiagaan Menghadapi Cuaca Ekstrim

Foto : ilustrasi/BMKG

BENCANA memang tak pernah memilih waktu, bencana bisa datang kapan saja, ketika hujan turun tanpa jeda, sungai meluap perlahan, lalu tanah bergerak tanpa banyak suara. Namun di balik peristiwa alam tersebut, kesiapsiagaan sejatinya telah dibangun sejak jauh hari.

Delapan hari sebelum banjir bandang dan longsor melanda sejumlah wilayah di Sumatera, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah menyampaikan peringatan dini kepada pemerintah daerah. 

Informasi tersebut disampaikan melalui surat resmi yang memuat potensi peningkatan curah hujan, kenaikan muka air sungai, serta pergerakan tanah yang berisiko memicu bencana hidrometeorologi.

Peringatan dini itu tidak hanya ditujukan untuk wilayah Sumatera.

BMKG juga mengeluarkan peringatan serupa kepada sejumlah daerah lain di Indonesia.

Hal ini menandakan potensi cuaca ekstrem bersifat luas dan perlu disikapi secara menyeluruh, dengan kesiapsiagaan sebagai fondasi utama.

Ketika hujan turun dengan intensitas tinggi dan durasi yang lebih panjang dari biasanya, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan tanpa kepanikan. 

Memantau informasi resmi BMKG, memahami kondisi lingkungan sekitar, serta menyiapkan kebutuhan darurat menjadi langkah sederhana, namun penting dalam menghadapi potensi bencana.

Kepala BMKG, Teuku Faisal, baru-baru ini menjelaskan fenomena cuaca ekstrem, termasuk pembentukan Siklon Tropis Senyar, dapat diprediksi hingga delapan hari sebelum terbentuk. 

Untuk itu, wilayah kerja BMKG Wilayah I yang meliputi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatera Barat, peringatan dini telah dikeluarkan sejak delapan hari sebelum kejadian, diperbarui kembali empat hari menjelang peristiwa, dan ditegaskan ulang dua hari sebelum dampak dirasakan.

Informasi dini ini menunjukkan ilmu pengetahuan dan teknologi telah memberi ruang bagi pengurangan risiko bencana. 

Dengan waktu yang tersedia, pemerintah pusat dan daerah memiliki kesempatan untuk melakukan langkah antisipatif secara terencana dan terkoordinasi.

Dalam perkembangannya, banjir bandang dan longsor tercatat melanda tiga provinsi di Sumatera, yakni Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara, dengan dampak yang berbeda di sejumlah kabupaten dan kota. 

Berdasarkan laporan resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan BPBD setempat, peristiwa tersebut menyebabkan warga terdampak dan harus mengungsi, serta menimbulkan kerusakan pada permukiman, fasilitas umum, akses jalan, dan jembatan penghubung.

Pendataan korban dan kerusakan dilakukan secara bertahap seiring dengan penanganan darurat di lapangan. Aparat pemerintah daerah, unsur TNI dan Polri, relawan, serta masyarakat setempat bergerak bersama memastikan keselamatan warga dan membuka kembali akses wilayah yang sempat terisolasi.

BMKG bersama BNPB juga terus menguatkan pemetaan wilayah rawan melalui sistem InaRISK. Peta risiko berbasis data ini memberikan gambaran tingkat kerawanan suatu wilayah, dari risiko rendah hingga tinggi, sehingga menjadi dasar penting dalam meningkatkan kesiapsiagaan di tingkat lokal.

Koordinasi lintas instansi juga diperkuat, BNPB mengirimkan briefing resmi kepada pemerintah provinsi serta kabupaten dan kota terkait potensi banjir dan longsor. 

Dalam surat tersebut ditegaskan berdasarkan prakiraan BMKG yang bekerja sama dengan Kementerian PUPR, Badan Informasi Geospasial, serta Badan Geologi Kementerian ESDM, diperlukan langkah kesiapsiagaan untuk meminimalkan dampak bencana pada puncak musim hujan.

Sementara sejumlah daerah diminta juga meningkatkan kewaspadaan, antara lain Bangka Belitung, Banten, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan, Maluku, serta Papua Tengah. 

Pemerintah daerah didorong memanfaatkan data InaRISK BNPB sebagai dasar pengambilan kebijakan di tingkat lokal.

Langkah preventif lintas sektor turut dilakukan, misalnya Kementerian Kehutanan menghentikansementara aktivitas penebangan kayu di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara sebagai bagian dari upaya menjaga kestabilan lingkungan dan mengurangi risiko longsor lanjutan. Patroli kawasan rawan diperketat untuk memastikan aliran air tidak terhambat.

 

Pasca kejadian

Pemerintah pusat dan daerah bergerak cepat melakukan pemulihan. Oleh karena itu, Kementerian PUPR bersama pemerintah daerah melakukan perbaikan dan pemulihan jalan serta jembatan yang terdampak agar konektivitas masyarakat kembali normal dan aktivitas ekonomi dapat berjalan kembali.

Di sektor ketenagalistrikan, PT PLN (Persero) melakukan percepatan pemulihan jaringan listrik. Gardu dan jaringan distribusi yang sempat terganggu diperbaiki secara bertahap, sehingga pasokan listrik bagi rumah warga, fasilitas kesehatan, serta layanan publik dapat kembali berfungsi.

Sementara itu, di sektor komunikasi, Kementerian Komunikasi dan Digital bersama operator telekomunikasi melakukan pemulihan jaringan telepon dan internet. Diskominfo provinsi dan kabupaten/kota turut berperan memastikan layanan komunikasi publik kembali berjalan, mendukung kelancaran koordinasi penanganan bencana serta arus informasi kepada masyarakat.

Dari sisi transportasi, Dinas Perhubungan daerah melakukan pengamanan dan pengaturan lalu lintas, termasuk penutupan sementara ruas jalan berisiko serta pengalihan arus untuk menjamin keselamatan pengguna jalan dan kelancaran jalur evakuasi.

BNPB dan BPBD menyalurkan bantuan logistik, pelayanan kesehatan, serta hunian sementara bagi warga terdampak. 

Bahkan posko pengungsian dikelola secara terpadu untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi dengan baik. Setelah kondisi berangsur stabil, status tanggap darurat dicabut secara bertahap, menandai masuknya fase pemulihan dan rehabilitasi.

Presiden RI Prabowo Subianto juga menegaskan pemerintah memberikan perhatian serius terhadap potensi bencana hidrometeorologi yang terjadi di berbagai daerah. 

Presiden menekankan pentingnya kesiapsiagaan sejak dini, penguatan koordinasi antar instansi, serta percepatan pemulihan layanan dasar masyarakat di wilayah terdampak.

Pemerintah, kata Presiden, memastikan kehadiran negara tidak hanya saat tanggap darurat, tetapi juga dalam proses pemulihan, melalui perbaikan infrastruktur, pemulihan layanan listrik dan komunikasi, serta perlindungan terhadap masyarakat terdampak agar aktivitas sosial dan ekonomi dapat kembali berjalan secara normal.

Pernyataan tersebut sejalan dengan langkah-langkah yang dilakukan di lapangan, dimana berbagai instansi bergerak bersama dalam satu orkestrasi penanganan bencana yang terukur dan berkelanjutan.

Peringatan dini yang disampaikan BMKG membuktikan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah menjadi fondasi penting dalammembangun ketangguhan bangsa menghadapibencana. 

Informasi yang datang lebih awal memberi ruang bagi perencanaan yang matang, mulai dari mitigasi hingga pemulihan.

Jadi, menghadapi potensi bencana bukan hanya soal merespons kejadian, melainkan kesiapan membaca tanda-tanda alam dan bertindak bersama. 

Ketika pemerintah, lembaga terkait, dunia usaha, dan masyarakat berjalan seiring, risiko dapat ditekan dan keselamatan bersama lebih terjaga. (***)

 

 

Terpopuler

To Top