Langit Cerah, Tapi Arus Laut Capai 4 Knot Saat KMP Putri Yasmin Berinsiden
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 25 menit yang lalu
- visibility 3
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : bmkg.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Kondisi cuaca di sekitar lokasi insiden KMP Putri Yasmin di perairan Lombok pada 12 Agustus 2026 terbilang cukup cerah. Tidak ada hujan yang terpantau saat kapal mengalami insiden sekitar pukul 04.15 WITA.
Namun, kondisi laut ternyata tidak sesederhana yang terlihat dari langit.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat arus permukaan di sekitar lokasi kejadian bergerak dengan kecepatan 2–4 knot. Kecepatan tertingginya setara sekitar 7,4 kilometer per jam dan masuk kategori kencang hingga sangat kencang.
Data tersebut menjadi bagian dari analisis BMKG terhadap kondisi cuaca dan laut saat KMP Putri Yasmin mengalami insiden di kawasan Pantai Sekotong, Lombok.
Berdasarkan citra satelit Himawari pada pukul 04.00 WITA, cuaca di sekitar lokasi terpantau cerah hingga berawan. Tidak terlihat indikasi hujan.
Angin saat itu bertiup dari arah tenggara dengan kecepatan sekitar 5–15 knot. Sementara tinggi gelombang berada pada kisaran 2–3 meter atau masuk kategori sedang hingga tinggi.
Di antara sejumlah parameter tersebut, arus permukaan menjadi salah satu kondisi yang cukup menonjol. Arus bergerak dominan ke arah selatan hingga barat dengan kecepatan yang mencapai 4 knot.
Informasi mengenai arus ini juga digunakan sebagai salah satu parameter untuk mendukung perencanaan operasi pencarian dan pertolongan.
Empat lokasi, kondisi laut tidak sama
Analisis BMKG tidak hanya mencakup KMP Putri Yasmin. Ada tiga insiden kapal lain yang turut dikaji, yakni KMP Mutiara Sentosa II di perairan utara Sumenep, KMP Nurul Salsa di sekitar Pulau Kalatoa, Kepulauan Selayar, serta kapal motor penumpang Prince Soya di Pelabuhan Samarinda.
Menariknya, kondisi cuaca di sejumlah lokasi tersebut sama-sama didominasi langit cerah hingga berawan dan tidak terpantau hujan.
Tetapi kondisi lautnya berbeda.
Saat KMP Mutiara Sentosa II mengalami insiden pada 2 Agustus 2026, angin tercatat 15–20 knot dari timur-tenggara. Gelombang berada di kisaran 1,25–1,5 meter, sedangkan arus permukaan mencapai 0,6–1,6 knot.
Pada KMP Nurul Salsa yang mengalami insiden di perairan Pulau Kalatoa pada 15 Juli 2026, angin berada pada kisaran 15–20 knot. Tinggi gelombang tercatat 1,25–2,5 meter dan arus permukaan sekitar 0,9–1,6 knot.
Sementara di Pelabuhan Samarinda saat insiden kapal motor penumpang Prince Soya pada 1 Agustus 2026, angin relatif lemah, yakni sekitar 4–5 knot.
Gambaran tersebut menunjukkan bahwa kondisi cuaca yang terlihat cerah tidak otomatis berarti seluruh parameter laut berada dalam kondisi yang sama.
BMKG tidak menyebut arus sebagai penyebab
Meski mencatat kondisi angin, gelombang dan arus di masing-masing lokasi, BMKG tidak menyimpulkan bahwa parameter cuaca atau laut tersebut menjadi penyebab kecelakaan.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menegaskan analisis yang disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi V DPR RI hanya menggambarkan kondisi meteorologi dan oseanografi pada waktu serta lokasi kejadian.
Menurut Faisal, penetapan penyebab kecelakaan merupakan kewenangan lembaga yang berwenang, termasuk Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
Dengan demikian, catatan arus hingga 4 knot di lokasi KMP Putri Yasmin perlu dibaca sebagai bagian dari gambaran kondisi laut saat insiden, bukan sebagai kesimpulan mengenai penyebab kejadian.
Temuan BMKG ini sekaligus memperlihatkan bahwa kondisi pelayaran tidak hanya ditentukan oleh apa yang tampak di langit. Ketika cuaca terlihat cerah, angin, gelombang dan arus di laut tetap menjadi parameter penting yang perlu diperhitungkan.
- Penulis: Irwan Wahyudi
